Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Obat Penghilang Ingatan


__ADS_3

Tamara yang baru saja membuka mata langsung saja di sambut oleh senyum manis Demian, laki-laki yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjang tepat di sebelah wanita itu.


"Mas Demian," panggilnya lirih.


"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Demian yang dari tadi memegang telapak tangan wanita itu. "Bagaimana sudah merasa mendingan?"


Tamara mengangguk dan mencoba untuk bangun. Akan tetapi kepala wanita itu terasa berdenyut nyeri, efek samping dari obat tidur yang Demian berikan dengan dosis yang terlalu tinggi.


"Tidak usah bangun Sayang, kalau kamu masih belum mendingan," ucap Demian berpura-pura terlihat panik. "Sayang, mana yang sakit?" Sekarang Demian malah terdengar bertanya.


"Mas kepalaku sangat sakit," ringis Tamara.


"Mas ambilkan obat dulu ya, kamu diam di sini." Demian akan berdiri tapi Tamara malah memegang tangan laki-laki itu. "Sayang, Mas cuma mau mengambilkan kamu obat pereda nyeri. Kamu diam saja di sini."


Tamara menggeleng kuat. "Tidak Mas, jangan tinggalkan aku, karena aku takut Bara akan datang kesini dan akan menyakitiku, juga bisa saja menyakiti Mas." Raut wajah Tamara terlihat pucat pasi karena wanita itu saat ini merasa panik dan gelisah.


Demian mengelus pipi Tamara sambil menimpali, "Sayang, laki-laki brengsek itu tidak akan berani datang ke sini. Karena aku sudah menyewa beberapa anak buah yang berjaga di setiap sudut rumah ini. Jadi, kamu jangan takut lagi."

__ADS_1


Tamara malah terlihat semakin menggeleng kuat. "Tida Mas, dia orangnya sangat licik. Itu artinya dia bisa datang kapan saja."


"Hei, jangan takut ada Mas di sini yang akan selalu melindungimu 24 jam," ucap Demian.


"Tapi Mas ...."


"Sstt, jangan takutkan apapun selama kamu ada di lingkungan rumah ini, Sayang." Demian dengan aktingnya akhirnya mampu membuat wanita itu kembali merasa tenang lagi. "Mas ambil obat itu dulu."


Tamara yang merasa kepalanya semakin nyeri pada akhirnya membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja, tanpa ada rasa curiga sedikitpun karena bagi wanita itu melihat Demian sudah selamat seperti ini saja merasa


Sangat bahagia. Meskipun laki-laki itu sudah bukan suaminya lagi.


***


"Kasih dia minum obat ini," kata Kinanti saat wanita paruh baya itu melihat Demian yang baru saja keluar dari kamar.


"Obat apa ini, Bu?"

__ADS_1


"Berikan saja pada Ara, biar rencana kita ini akan berjalan dengan lancar."


Demian terlihat ragu untuk mengambil sebotol obat yang ada di tangan Kinanti. Namun, pada detik berikutnya laki-laki itu mengambilnya.


"Bila perlu berikan obat ini padanya setiap hari, dengan cara campurkan obat ini pada minumannya," ujar Kinanti yang kini tersenyum penuh arti.


"Ini bukan racun 'kan, Bu?" tanya Demian takut-takut.


"Bukan, ini bukan racun melainkan obat ini bisa membuat siapa saja yang sering mengkonsumsinya lama-lama malah akan menjadi hilang ingatan." Dengan tanpa rasa berdosa dan salah wanita paruh baya itu malah mengatakan itu semua.


"Tapi, apa obat ini tidak memiliki efek samping?"


"Efek sampingnya lama-lama akan membuat Ara pikun." Kinanti menjawab dengan cara tersenyum. "Pokoknya tugasmu Demian harus memberikannya setiap hari," sambung Kinanti.


Demian mengangguk tanda bahwa laki-laki itu saat ini mengerti dengan apa yang tadi Kinanti katakan.


"Baiklah Bu, kalau begitu aku harus memberikan Ara ini dulu," ucap Demain yang mengambil satu kapsul dan memasukkan botol obat itu ke sakunya lagi.

__ADS_1


"Ingat Demian, kamu pokoknya harus pintar-pintar cari muka pada wanita itu," kata Kinanti yang ternyata rupanya wanita paruh baya itu memang benar selama ini hanya menggunakan topeng. Seperti yang di katakan oleh Tami dan Bara. "Harus pandai berakting juga Demian, jangan lupa akan hal itu," tambah Kinanti.


__ADS_2