
Tidak henti-hentinya Tamara berteriak meminta tolong saat pria bertopeng itu berusaha mendobrak pintu utama pada rumah itu.
"Telepon Mas Demian, Liana, sekarang!" seru Tamara memerintahkan Liana untuk menelepon sang suami. "Biar aku saja yang menjaga pintu ini, sekarang tugasmu hubungi Mas Demian." Tamara mengulangi kalimatnya lagi.
"Tapi kak Ara tidak akan mungkin bisa menahan pintu ini sendiri," ucap Liana yang tidak mau pergi.
"Kita berdua saat ini ada dalam masalah Liana, sana pergi saja hubungi Mas Demian. Setidaknya dia tahu bahwa di rumah ini ada laki-laki yang niatnya jahat pada kita berdua, dan itu artinya kita dalam masalah!" Saking kesalnya Tamara sampai terdengar membentak adik tirinya itu.
Liana lagi-lagi menggeleng dengan sangat kuat. "Tidak kak, aku mau tetap di sini karena dua pereman itu pasti akan bisa membuka pintu ini jika kak Ara sendi–"
Brakk!!
Pintu itu terbuka dengan keras sampai rusak, sehingga kedua wanita yang tadi sempat berbicara itu ikut terpental hingga dua meter dari jarak mereka dan pintu itu tadi.
Namun, tidak lama tiba-tiba saja terdengar suara Tamara yang sangat melengking.
"Liana!" teriak Tamara di saat melihat Liana sudah tidak bergerak karena rupanya kepala wanita berperut buncit itu malah terbentur lemari yang ada di dekat ruang tamu itu. Bukan cuma itu saja sepertinya juga perut Liana terbentur lantai karena poisinya saat ini tengkurap. "Liana bangun, Liana!" pekik Tamara sambil berusaha untuk membuat adik tirinya itu membuka mata dengan cara memepuk pipi wanita itu pelan.
Akan tetapi, Liana sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Membuat Tamara malah semakin menjerit hingga berteriak meminta tolong. Karena ia berharap ada orang yang mendengarnya saat dirinya meminta tolong. Meskipun itu sangat terdengar mustahil sebab para tetangga Tamara sepertinya sedang pergi liburan akhir pekan.
"Tolong, tolong ... tolong!"
"Siapapun, tolong aku ...!"
"Mas Demian, tolong aku ... Mas!"
Tidak peduli tenggorokannya kering Tamara terus saja berteriak meminta tolong.
"Apa kita bu nuh saja dua wanita ini," kata salah satu pria bertopeng itu.
"Sepertinya harus, biar rahasia kita aman," timpal pria yang memiliki tato lebih banyak dari pria yang satunya lagi.
"Ya sudah, kau awasi dulu orang di ambang pintu itu, Tim, karena sepertinya aku harus mencicipi dulu tubuh wanita yang sangat bening ini."
__ADS_1
"Oke Dim, aku akan berjaga-jaga dulu," kata laki-laki yang bernama Timo itu.
"Jika ada orang langsung kau temb4k saja!" seru Dimas.
Sedangkan Tamara yang mendengar itu langsung saja mencoba untuk berdiri. Dan dengan sangat hati-hati sekali ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Karena wanita itu merasa bahwa ia harus segera menghubungi Demian.
Namun, baru saja Tamara sampai di anak tangga ke dua. Suara laki-laki bertopeng yang bernama Dimas itu malah berteriak dan menarik pergelangan tangan Tamara. Sehingta membuat wanita itu kaget bukan mian.
"Hei! Mau kemana?Sini layani aku dulu, seperti wanita hamil ini tadi melayaniku di semak-semak," ucap Dimas yang seolah-olah sedang memberitahu Tamara. Bahwa Liana benar-benar telah ia cicipi tubuhnya.
"Lepaskan aku! Dasar pengecut!" Tamara ingin menggigit tangan Dimas. Tapi laki-laki itu terlihat malah menahan kepala Tamara.
"Sstt, jangan galak-galak dan berisik. Sekarang lebih baik kamu layani saja aku sebelum, aku ini melenyapkanmu."
Mendengar itu Tamara dengan gerakan cepat menendang sela ngka ngan Dimas. Dan pada detik itu juga Tamara berlari menaiki anak tangga dengan sekuat tenaga.
"S*al! Dasar je la ng!" Dimas yang marah karena tongkatnya di tendang oleh Tamara langsung saja meringis kesakitan sambil memegang pisang ambonnya. "Awas kau, wanita lancang!" Meski kesakitan laki-laki itu terlihat mengejar Tamara.
"Dim, biar aku saja yang mengejarnya lebih baik kamu yang berjaga!" seru Timo saat melihat temannya tadi di tendang.
****
"S*hit!" Demian terdengar mengumpat beberapa kali di saat. Berkas yang harus ia selesaikan malam ini masih banyak. "Bagimana bisa aku pulang di saat pekerjaanku masih seperi tumbukan gunung begini." Demian mengusap wajahnya dengan kasar. Karena kebetulan malam ini ia sudah berjanji pada Tamara bahwa dirinya akan mengajak sang istri untuk makan malam di luar.
Namun, apa? Sekarang sepertinya janji itu harus kembali laki-laki itu ingkari gara-gara pekerjaannya yang tidak kunjung selesai, sekarang malah semakin bertambah lagi.
"Aku harus meberitahu Ara, jangan sampai dia ngambek gara-gara ini." Demian lalu terllihat meraih ponselnya karena ia benar-benar mau memberitahu sang istri. Tentang dirinya yang tidak bisa pulang dengan cepat, karena ia sepertinya harus lembur malam ini.
Namun, sebelum ia menekan nomor ponsel sang istri. Tiba-tiba saja nama Tamara sudah terlebih dahulu menghubunginya.
"Ara, sepertinya dia akan menangih janji padaku," gumam Demian pelan sambil menggeser tombol hijau pada layarnya.
"Ha–" Kalimatnya terputus saat mendengar suara Tamara.
__ADS_1
"Mas tolong aku! Tolong aku ... cepat pulang! Selamatkan aku ...." Suara Tamara terdengar bergetar dari seberang telepon. "Mas Demian, tolong aku, cepat pulang Mas!"
"Sayang, ada apa?" tanya Demian langsung dengan perasaan yang tidak menantu.
"Mas, ada dua pereman yang datang ke rumah kita mereka ingin memperko–"
Tutt ... tutt ... tutt ....
Panggilan telepon wanita itu tiba-tiba malah terputus.
"Halo, Ara! Halo ... Ara ...." Demian memanggil sang istri beberapa kali. Dan kini ia terlihat panik di saat ia mencoba untuk menghubungi nomor Tamara tapi malah tidak aktif.
"Nomor telepon yang Anda tuju, sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi."
"Apa-apaan ini, kenapa nomornya tidak aktif," kata Demian yang sekarang malah terlihat berdiri. "Aku harus segera pulang, karena istriku ada dalam bahaya." Demian lalu terlihat menyambar kuci mobil yang ada di atas mejanya, dan dengan langkah yang sangat terburu-buru keluar dari dalam ruangannya.
***
Kembali ke kediaman Demian.
Terlihat Tamara sudah terpojok, wanita itu kini terlihat malah berlutut sambil memohon biar kedua pereman itu melepaskan dirinya dan jangan menyentuhnya sedikitpun.
"Kalian boleh ambil apa saja di rumah ini, asal. Lepaskan aku," kata Tamara dengan air mata yang bercucuran. "Aku mohon, jangan lakukan apapun padaku. Aku janji akan merahasiakan ini semua," sambung Tamara.
"Cuih, apa kau pikir setelah menendang tongkat saktiku. Aku akan melepaskanmu, begitu?" Dimas yang kesal malah menjambak rambut Tamara. "Jangan harap!" Suara laki-laki itu terdengar sangat menjijikkan di indra pendengaran Tamara.
"Layani kami berdua baru kami akan melepaskanmu, bagimana Dim, apa aku setuju?"
"Kau benar Tim, jika dia mau melayani kita dengan suka rela maka kita jangan membu nuhnya," timpal Dimas.
"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Tamara yang sangat ketakutan. "Pergi kalian dari sini!"
...****************...
__ADS_1