
Lilitan sebuah tangan kekar membuat Tamara terlonjak kaget sehingga wanita itu spontan saja mencakar lengan sang suami yang ia pikir adalah orang lain. Karena ia tidak tahu kalau hari ini Demian pulang.
"Ara Sayang, ini Mas," ucap Demian sambil semakin erat memeluk Tamara.
"Mas Demian, kapan Mas pulang?" tanya Tamara yang masih tidak percaya kalau yang wanita itu lihat sekarang adalah sang suami. "Mas, kapan Mas pulang?" Tamara bertanya lagi pada sang suami.
"Sayang, aku baru saja pulang dan ini adalah kejutan untukmu," jawab Demian yang sekarang terlihat mencium rambut Tamara, sehingga laki-laki itu bisa menghirup aroma rambut sang istri yang wanginya seperti vanilla.
"Kenapa Mas tidak memberitahuku, kalau Mas akan pulang hari ini? Supaya aku bisa berpakaian yang rapi dan tidak kucel serta kotor seperti saat ini," kata Tamara yang mulai menyadari penampilannya yang sangat kotor saat ini. Karena wanita itu tadi terlihat sedang menanan bunga.
Demian mencubit pelan hidung sang istri. "Sayang, mau sekucel dan sekotor apapun kamu, tapi percayalah di mata Mas ini kamu terlihat selalu cantik. Bahkan sangat-sangat cantik." Demian sekarang mencium pipi Tamara dengan penuh rasa sayang.
__ADS_1
"Ish, Mas, ada-ada saja deh, lepaskan dulu dan biarkan aku mandi karena bau keringatku sangat menyengat," ujar Tamara yang merasa malu kalau sampai Demian mencium aroma bau keringatnya. "Mas ....," rengek wanita itu karena bukannya melepaskan lilitan tangannya dari perut Tamara. Demian sekarang malah semakin erat memeluk wanita itu. "Badanku bau ... bau keringat," sambung Tamara.
"Apa sekalian Mas mandikan? Supaya kamu wangi." Demian mengedipkan sebelah matanya. Saat laki-laki itu bertanya seperti itu pada sang istri.
"Mas nanti ada orang lain yang melihat kita, ayolah jangan seperti ini," ucap Tamara sambil celingak-celinguk melihat apakah ada orang lain disana selain dirinya dan juga Demian. "Mas ...."
"Iya Sayang, apa sekarang kita mandinya atau nunggu siangan dikit?"
"Me sum sama istri sendiri tidak apa-apa Sayang, yang tidak boleh itu me sum sama istri tetangga dan istri orang," seloroh Demian bercanda.
Tamara terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ish, Mas Demian ini bisa saja."
__ADS_1
"Ayo sekarang Mas antar kamu saja, dan apa Sayang akan jadi mandi?" Meski Demian tidak pernah menyentuh Tamara tapi percayalah. Di dalam diam laki-laki itu ada naga yang selalu saja bersusah payah ia jinakkan. Karena entah mengapa berdekatan seperti ini dengan Tamara membuat laki-laki itu mendadak menjadi harus menahan has ratnya. "Mau mandi sekarang, Sayang."
"Mas aku sangat malu," kata Tamara pelan.
"Ya sudah, kita buka-bukaan di dalam kamar saja. Sayang, biar kamu tidak malu," celetuk Demian, laki-laki yang sangat suka sekali membuat pipi Tamara merah seperti kepiting rebus itu. "Ayo Sayang, kita masuk ke kamar saja. Biar bisa itu ...."
Mendadak otak Tamara langsung saja berpikiran yang bukan-bukan. "Mas, kamu ini benar-benar ya."
"Aku mau malam ini, tolong kamu mengerti aku, Sayang." Demian merasa bahwa ini saatnya laki-laki itu harus meminta haknya pada Tamara. Setelah lama ia menunggu moment belah duren dengan sang istri. "Apa kira-kira malam ini kamu sudah siap, Sayang?" tanya Demian hanya untuk sekedar memastikan saja.
Tamara menunduk sambil mengangguk dengan malu-malu. Karena wanita itu juga merasa berdosa sebab ia belum memberikan Demian haknya sebagi seorang suami.
__ADS_1