
"Semoga saja Ara tidak curiga kalau aku ini adalah Ayah dari bayi yang di perut Liana," gumam Axel membatin tatkala menatap punggung Tamara semakin menjauh, dan sekarang laki-laki itu melihat Tamara masuk ke sebuah rumah yang terlihat begitu sangat mewah dan megah.
"Aku harus bisa menutup kebenaran ini, supaya semuanya tidak terbongkar. Meskipun aku sering mengancam Liana, tapi itu aku lakukan hanya demi kepuasan sesaat. Hitung-hitung, aku tidak perlu mengeluarkan duit untuk bermalam dengan para je la ng yang mata duitan itu. Karena bagiku bersama Liana sudah cukup, dan untuk masa depanku Ara sedang menantiku," ucap Axel penuh percaya diri. Dan laki-laki itu masih saja terlihat berdiri di sebelah mobil itu, sambil menunggu Tamara yang akan menghilang dari pandangan mata laki-laki yang cintanya saat ini bertepuk sebelah tangan.
"Malam ini, aku harus memiliki tubuh Ara seutuhnya. Berhubung Demian tidak ada di rumah jadi ini kesempatan emas bagiku untuk melakukan aksiku. Karena aku ingin cintaku ini terbalaskan yah, walaupun caraku ini agak sedikit keluar dari jalur perjuangan. Tapi sedikit tidak aku akan bisa menikmati setiap inci tubuh Ara."
Otak me sum Axel sungguh diluar dugaan. Sehingga laki-laki itu akan berusaha untuk melakukan segala macam cara. "Malam ini aku tidak boleh gagal," kata Axel berulang-ulang kali sambil masuk ke dalam mobil yang berwarna silver itu. Dan tidak lama setelah laki-laki itu masuk terdengar suara deru mobil hingga detik berikutnya raungan mobil itu terdengar membelah jalan raya yang kebetulan pada sore menjelang malam ini tidak terlalu ramai. Sehingga membuat Axel membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi. Karena laki-laki itu merasa bahwa ia harus sampai ke rumah Demian dengan cepat, di saat ia mengingat pesan Tamara.
***
"Hei, selamat datang di rumahku ini," ucap Bara saat melihat Tamara yang baru saja menginjakkan kaki di keramik rumah laki-laki itu. Dan ternyata tempat Tamara berkumpul dengan teman-temannya adalah rumah Bara. Karena Bara juga dulu satu angkatan dengan Tamara.
"Bara, mana yang lain?" tanya Tamara karena yang wanita itu lihat hanya Bara seorang yang sedang cengengesan saja.
"Ada di dalam, sana kamu masuk saja karena aku masih menunggu yang lain," jawab Bara yang saat ini senangnya luar biasa. Karena wanita yang sangat laki-laki itu cintai akhirnya datang juga bertamu ke rumahnya. "Ara, kenapa malah bengong, sana masuk gih," kata Bara yang tahu pasti saat ini Tamara merasa kagum dengan tempat tinggal Bara ini.
Karena sejujurnya rumah impian Tamara seperti rumah ini. Dan tanpa wanita itu tahu, ternyata Bara membangun rumah itu sesuai dengan apa yang pernah laki-laki itu lihat pada buku gambar Tamara, saat Tamara dulu iseng-iseng menggambar dan menulis note di bawah gambarnya itu dengan kata, it's my dream membuat Bara pada akhirnya bertekad untuk membangun rumah persis seperti yang Tamara gambar. Karena saking yakinnya kalau suatu saat ini ia akan berjodoh dengan Tamara yang nyata-nyata adalah istri orang.
"Masuk gih, karena Rere sama yang lain pasti menunggu kamu." Bara lagi-lagi menyuruh Tamara untuk masuk. Meskipun saat ini wanita itu masih saja terlihat plonga-plongo diam saja di tempat. "Tamara ...," panggil Bara sambil mencolek lengan Tamara.
__ADS_1
"Hm, iya Bara, aku akan masuk," timpal Tamara sambil bergegas masuk. Karena ia merasa kalau rumah yang sempat ia gambar dulu menjadi kenyataan. Membuatnya menjadi heran, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Ternyata ada juga rumah seperti yang aku gambar dulu," gumam Tamara di dalam benaknya. Karena rupanya wanita itu masih menyimpan rapi gambar rumah itu sampai sekarang. Oleh sebab itu, Tamara tidak akan mungkin bisa lupa.
***
"Ara," panggil Rere, salah satu sahabat Tamara yang dulu persahabatan mereka bagai kepompong.
"Hei, Re, apa kabar? Setelah lama tidak bersua sekarang kamu terlihat makin cantik saja." Tamara terdengar memuji temannya itu secara terang-terangan.
"Ih, kamu ini bisa saja. Justru kamu yang terlihat semakin cantik, dan inikah contoh kata definisi semakin tua semakin cantik." Rere lalu terlihat menarik satu kursi untuk Tamara. Supaya wanita yang saat ini masih saja betah berdiri. "Ayo duduk dulu, tunggu Delisa sama Delina masih pergi kekamar mandi sebentar," kata Rere memberitahu Tamara bahwa sahabat mereka yang kembar itu sedang ke kamar mandi.
"Wah, ternyata si kembar juga datang, asik dong karena kita bisa bertemu dengan circle kita yang dulu," ucap Tamara antusias.
Tamara menggeleng. "Mana bisa aku tahu, karena kamu dan mereka sama-sama telah hilang kontak sama aku sejak kalian pergi ke luar Negeri," jawab Tamara. "Apalagi kamu, Re, setelah menikah kamu benar-benar melupakan aku."
"Sorry, suamiku orangnya posesif sekali sehingga aku dilarang main sosmed sama dia. Pegang ponsel saja seperlunya saya," balas Rere sambil terkekeh-kekeh. Di saat wanita itu mengingat bagimana posesifnya sang suami. "Oh ya, apa kamu belum berisi?" tanya Rere mengalihkan pembicaraan.
"Hamil? Bagaimana aku bisa hamil? Sedangkan aku sama Mas Demian tidak pernah melakukan itu." Tentu saja ini di ucapkan oleh Tamara di dalam benaknya. Karena tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya pada sahabatnya itu. Bisa-bisa ia akan ditertawakan karena mengira Tamara adalah wanita paling naif di dunia ini.
__ADS_1
"Aku baru saja menikah satu bulan setengah Re, mana mungkin bisa secepat itu berisi," jawab Tamara malu-malu. Dan tersenyum kikuk.
"Kalau begitu suruh Bara tiap malam deh, menggempur kamu Ara," kata Rere tiba-tiba.
"Bara? Kenapa harus Bara?" Kening Tamara mengkerut.
"Lah, bukannya suami kamu Bara?" Rere malah, bertanya balik pada Tamara.
Tamara langsung saja menggeleng kuat. "Bukan Bara, Re, tapi Mas Demian, laki-laki yang mampu memporak-porandakan jiwaku ini," jawab Tamara dengan pipi yang bersemu merah.
"Ya ampun, jadi Bara bukan suami kamu?" Rere yang kaget menutup mulutnya yang terbuka lebar.
"Bukan, memang yang memberitahumu itu siapa?"
"Bara sendiri." Rere menjawab Tamara dengan senyum yang wanita itu paksakan. "Ta-tapi, mu-mungkin saja, Ba-Bara hanya bercanda," kata Rere terbata-bata. "Dan lupakan saja, serta anggap aku tadi salah bicara," sambung Rere.
"Baiklah, mari kita lupakan dan bahas hal yang lain," timpal Tamara.
"Kamu benar Ara, ayo kita bahas masa-masa sekolah kita tempo lalu. Supaya kita bisa mengingat, bagimana nakalnya kita dulu."
__ADS_1
"Kita mulai dari mana?"
"Ara!" seru si kembar memanggil Tamara secara tiba-tiba. Sesaat setelah si kembar itu sudah pergi buang air kecil.