Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Tidak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

Bara yang sudah terlanjur sangat marah langsung saja menarik baju Axel, setelah tadi laki-laki itu masuk ke dalam kamar Tamara tanpa ada drama pintu susah dibuka, Sebab Axel saking bergeloranya sampai lupa mengunci pintu.


"Brengsek!" Setelah Bara berhasil menyingkirkan Axel dari atas tubuh Tamara, kini Bara malah terlihat mengeluarkan sebuah jarum suntik dari dalam sakunya. "Berani-beraninya, kau dasar pecundang!" Bara kemudian tanpa aba-aba menancapkan jarum suntik yang sudah terisi cairan obat tidur.


Sedangkan Axel, yang terkejut saat tiba-tiba Bara membantingnya sehingga terhempas ke lantai marmer yang sangat dingin, ia juga terlihat langsung saja mencoba untuk segera melawan. Tapi sayang gerakan Bara jauh lebih lincah sehingga membuat Axel langsung saja jatuh tersungkur, sebab obat tidur itu ternyata langsung saja bekerja dengan sangat cepat. Membuat Axel tidak memiliki banyak tenaga lagi, sehingga laki-laki itu terlihat sudah tidak sadarkan diri.


"Dasar ba ji ngan, berani-beraninya kau mau menyentuh Ara," gumam Bara pelan sambil menyeret tubuh Axel yang berat karena kebanyakan dosa. "Kau hanya membuatku repot saja, dasar sopir s*alan!" Saat Bara masih saja terlihat menyeret Axel supaya menjauh dari ranjang Tamara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara de sa han wanita itu membuat Bara segera menatap ke arah ranjang. Dimana Tamara sudah berte lanjang bulat sambil mere mas dua bukit yang memiliki masing-masing boba.


"S hit! Aku sampai lupa pada Ara. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Bara bertanya pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati Tamara. Yang sudah dalam pengaruh obat perang sang. Membuat wanita itu terlihat seperti orang yang sedang terbakar hasrat yang bergelora, meskipun itu memang kenyataannya.


"Mas, ah ... tolong aku ...," kata Tamara lirih disaat netranya malah melihat Bara seperti sang suami. Karena pikiran wanita itu langsung saja liar seolah-olah ia melihat Bara saat ini sedang bertelanjang bulat. "Mas ...," panggil Tamara dengan suara yang mendayu-dayu.


Namun, di saat ia mengingat kalau obat itu bukan sembarang obat, membuat Bara tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan Bara terlihat mengusap serta menjambak rambutnya sendiri dengan sangat kasar.

__ADS_1


"Kau memang bedebah, Axel! Bisa-bisanya memberikan Ara obat perang sang dengan dosis yang sangat tinggi. Sehingga membuat nyawa Ara saat ini sedang terancam."


Apa yang dikatakan oleh Bara memang benar. Karena jika hasrat Tamara tidak tertuntaskan maka kemungkinan besar, bahwa wanita itu akan kehilangan nyawanya.


"Akan aku buat perhitungan denganmu, Axel! Awas saja kau!" Bara yang tidak memiliki pilihan lain pada akhirnya malah akan melakukan itu semua pada Tamara. Karena bagi laki-laki itu. Nyawa wanita itu lebih penting daripada apapun itu. "Ara, maafkan aku, karena aku melakukan ini semua demi keselamatanmu, tidak mungkin aku akan membawa Demian kesini di saat suamimu itu saat ini pasti sedang bergelut panas di atas ranjang adik tirimu yang seperi ular itu," sambung Bara yang sekarang membuka baju serta celananya sendiri.


"Mas, ayo kesini," ucap Tamara dengan suara yang semakin mendayu-dayu manja.

__ADS_1


"Ara, semoga saja kamu tidak salah paham dengan semua ini nanti. Dan sekali lagi maafkan aku karena aku sudah sangat lancang," kata Bara dengan mata yang berkaca-kaca. Karena sungguh laki-laki itu tidak mau jika harus merenggut kesucian Tamara. Sebab apa yang terjadi di dalam rumah Demian, ia tahu semua karena Bara sudah menyadap CCTV rumah itu.


__ADS_2