Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Tamara Wanita yang Baik


__ADS_3

Sampai kedua pasangan suami istri itu selesai sarapan, Liana tidak kunjung keluar juga dari dalam kamarnya. Membuat Tamara beberapa kali menoleh ke atas, dimana kamar Liana rupanya bersebelahan dengan kamarnya.


"Mas, aku mau memanggil Liana untuk sarapan dulu," kata Tamara yang terlihat ingin memanggil madunya itu.


"Jangan terlalu perhatian dengannya Sayang, biarkan saja mau dia sarapan atau tidak terserah dia saja. Lebih baik sekarang kamu antar saja Mas ke depan," ujar Demian yang tidak tertarik membahas serta melihat Tamara akan membangunkan istri keduanya itu. "Pak Badrun juga, sudah lama menunggu di depan sana," lanjut Demian yang meraih jari-jemari wanita yang sangat ia cintai itu.


"Mas, kasihan Liana, bagaimana kalau calon anak Mas dan Liana akan merasa lapar serta haus di dalam sana. Karena ibunya tidak sarapan pagi-pagi seperti saat ini." Meski Liana adalah madunya. Itu sama sekali tidak membuat Tamara harus menyimpan dendam dan amarah pada adik tirinya itu. Bagaimanapun juga, dialah yang telah menyuruh sang suami untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi Liana. "Aku naik sebentar dulu Mas, hanya untuk memastikan kalau Liana baik-baik saja."


"Sayang, antar Mas ke depan dulu, dan setelah itu kamu bisa menemui wanita itu." Demian lalu terlihat berjalan sambil terus saja memegang jari-jari lentik sang istri. "Palingan dia cuma ngambek, gara-gara semalam Mas menolak tidur dengannya, meskipun Mama dan Papa sendiri yang menyuruh Mas," ucap Demian yang pada akhirnya membuka percakapannya yang semalam dengan Aploso dan juga Renata.


"Pasti Mas di suruh berlaku adil, iya 'kan?"


"Iya Sayang, Mas di suruh berlaku adil tapi Mas tidak mau," jawab laki-laki itu jujur. Karena Demian tidak suka menyembunyikan apapun termasuk dalam hal seperti ini.


"Harus adil dong Mas, misalnya dua malam dua hari Mas harus bersamaku, dan malam berikutnya, ini juga berlaku untuk Liana. Apa Mas paham?"

__ADS_1


Demian menggelang kuat. "Aku tidak setuju, Sayang. Karena Mas dan Liana menikah atas dasar keterpaksaan. Tidak seperti kita yang menikah karena kita sama-sama saling cinta dan sama-sama saling suka."


"Mau bagaimanapun, sekarang Liana adalah istri Mas juga. Jadi, Mas harus belajar bersikap adil mulai dari sekarang dan mulai detik ini juga."


"Mas berangkat kerja dulu Sayang, baik-baik di rumah, tunggu sampai suamimu ini pulang dari kantor." Demian sudah terlihat masuk ke dalam mobilnya. "Jangan lupa, istirahat yang cukup sayang, berhubung dua hari ini kamu tidak akan pergi ke toko."


"Iya Mas, sana berangkat saja nanti Mas malah terlambat," kata Tamara yang terlihat mulai melambai-lambaikan tangannya di saat mobil tempat Demian saat ini sudah terlihat akan pergi meninggalkan halaman rumah mereka. "Jangan lupa Mas minum obatnya!" seru Tamara mengingatkan sang suami. Karena tadi di dalam kamar. laki-laki itu sempat mengeluh kalau katanya kepalanya sakit.


Sehingga membuat Tamara melarang Demian untuk pergi bekerja tapi sayang, laki-laki itu menolak. Dengan alasan harus menyelesaikan beberapa berkas karena nanti sore Demian sudah akan berangkat ke luar kota untuk meninjau salah satu proyek bangunan yang sudah hampir jadi 80%.


Senyum Tamara yang tadi terlihat begitu indah kini sudah mulai terlihat memudar. Bersamaan dengan mobil sang suami yang sudah tidak bisa terjangkau lagi dengan mata.


"Berhubung Mas Demian sudah pergi ke kantor, aku harus segera pergi melihat anak itu. Dan jangan-jangan dia juga lagi sakit." Tamara tanpa membutuhkan waktu yang lama, ia dengan cepat masuk lagi ke dalam rumah itu. Karena tujuannya saat ini kamar Liana. Mengingat adik tiri sekaligus madunya itu saat ini sedang hamil, membuat Tamara harus bisa memastikan bahwa Liana makan, minum harus teratur serta istirahat wanita hamil itu tetap terjaga.


***

__ADS_1


"Liana apa kamu baik-baik saja?" tanya Tamara saat ia sudah masuk ke dalam kamar wanita hamil itu dengan membawa mapan yang berisi dengan sarapan. "Liana ...," panggil Tamara sekali lagi.


"Hm, kenapa kakak malah masuk? Tidak lanjutkan saja mesra-mesraannya dengan kak Demian." Liana yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjangnya. Terlihat sangat enggan sekali menatap kakak tirinya itu. "Untuk apa juga kak Ara malah sok baik dan perhatian sekali denganku? Padahal di belakang kakak sangat membenciku serta bayiku ini!" desis wanita hamil itu sambil terlihat fokus menatap gawai yang saat ini sedang ia mainkan. "Atau jangan-jangan, kak Ara sudah menaruh racun pada sarapan yang kakak bawa itu." Sekarang otak Liana malah berpikiran buruk pada Tamara, wanita yang nyata-nyata saat ini sangat baik dengannya.


"Liana, jangan berpikiran buruk. Meskipun kakak merasa sangat kecewa padamu. Tapi percayalah di dalam benak kakak ini, tidak pernah terpintas secuilpun untuk meracunimu, apalagi saat ini kamu tengah mengandung darah daging Mas Demian," timpal Tamara yang tidak terima dengan tuduhan Liana yang berpikiran kalau ia meracuni wanita hamil itu. "Tolong buang pikiran kotormu itu Liana, karena mau sampai kapanpun kamu itu adalah adik kakak. Yang sangat kakak sayangi."


Liana terdiam saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Tamara. Karena tiba-tiba saja ia malah memiliki ide yang sangat licik pada otak udangnya itu.


"Apa aku manfaatkan saja kebaikan wanita yang sangat aku benci ini? Demi mendapatkan hati kak Demian," gumam Liana membatin. Sambil terus saja memikirkan ide liciknya. "Kenapa tidak aku coba saja dulu? Siapa tahu aku berhasil. Baiklah kalau begitu, ayo Liana perankan dirimu menjadi manusia yang paling sok tersakiti," lanjut wanita hamil itu membatin.


"Liana, apa mau kakak yang menyuapkan kamu sarapan ini?" tanya Tamara sehingga membuat lamunan Liana menjadi buyar. "Kakak janin di dalam makanan ini tidak ada racun, jadi kamu tenang saja. Sekarang ayo buka mulutmu, karena bayi yang ada di dalam perutmu itu sangat membutuhkan makanan yang empat sehat lima sempurna," kata Tamara dengan wajah yang berhias senyum.


"Ya sudah, sini biar aku saja yang makan sendiri," timpal Liana yang akan mencoba mengambil sarapan itu dari tangan Tamara.


Namun, Tamara dengan cepat berkata, "Tidak usah, biar aku saja yang menyupkan sarapan ini untukmu."

__ADS_1


Tanpa mereka tahu saat ini Axel sedang mengintip mereka dari celah pintu yang sedikit saja terbuka itu. "Tamara, rupanya wanita yang baik, aku semakin yakin kalau dia itu adalah jodohku yang sengaja Tuhan kirimkan untukku," gumam Axel pelan.


__ADS_2