Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Merasa Mual Lagi


__ADS_3

Jika di perusahaannya Bara terus saja marah-marah, beda halnya dengan Tamara yang sekarang terlihat membaringkan tubuhnya di sofa sambil memijat-mijat pelipisnya yang terasa kembali pusing. Mungkin saja ini karena wanita itu juga terlalu banyak pikiran ditambah sekarang bahwa dirinya sedang berbadan dua, sehingga membuat Tamara tidak akan mungkin bisa tenang.


"Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga Tuhan membalasku malah dengan cara seperti ini?" gumam Tamara membatin. Sambil memaksa keras otaknya untuk mengingat kejadian pada malam yang kelam itu. "Siapapun laki-laki itu, maka aku berjanji tidak akan pernah mau memaafkannya. Karena dia telah merenggut semuanya dariku. Merenggut mahkota yang selama ini aku jaga untuk Mas Demian seorang," sambung Tamara membatin.


Dan tanpa Tamara sadari Susi masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Tamara sempat kaget sebelum menyadari kalau itu Susi, sang karyawan yang sudah lama bekerja di toko bajunya.


"Permisi, ini Mbak, jamu Mbok Darmi. Dan tolong di minum berhubung masih anget, biar perut Mbak Ara yang kembung karena masuk angin bisa merasa lebih baikan," kata Susi yang masuk membawa segelas jamu untuk Tamara.


Karena rupanya Tamara memberitahu Susi bahwa dirinya memang benar-benar masuk angin. Tidak ada gejala penyakit yang serius.


"Terima kasih Susi, kamu memang yang terbaik." Tamara terlihat ingin bangun. Akan tetapi Susi menahan tangan wanita itu. "Ada apa Susi? Aku mau duduk, lagipula kepalaku sudah mendingan dan aku tidak merasa mual lagi."


"Saya takut jika Mbak Ara malah akan pingsan lagi seperti beberapa jam yang lalu. Tapi untung saja Tuan Bara dengan cepat membawa Mbak ke rumah sakit." Susi ternyata mengenal Bara juga saking seringnya laki-laki itu berbelanja di toko baju itu. "Tadi saya sempat berpikiran kalau Mbak Ara sedang hamil, tapi ternyata dugaan saya salah. Rupanya Mbak Ara hanya masuk angin saja," ucap Susi nyengir kuda.


Tamara langsung saja menyemburkan jamu yang tadi wanita itu minum, ketika ia mendengar kalimat Susi yang mengatakan itu semua.


"Uhuk ... uhuk, uhuk ...." Tamara terbatuk-batuk karena wanita itu tersedak.


"Ya ampun Mbak Ara, Mbak tidak apa-apa 'kan?" Susi terlihat menyodorkan tisu pada Tamara. Dan ia juga membersihkan tangannya sendiri sebab Tamara menyemburkan jamu itu tepat pada tangannya. "Hati-hati Mbak 'kan, tadi saya sudah bilang kalau jamu itu masih panas. Tapi Mbak Ara sudah main teguk saja." Susi merasa bersalah. Meskipun ia tidak tahu apa sebenarnya penyebab Tamara yang tiba-tiba saja menyemburkan jamu itu.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk ... uhuk ...." Lagi-lagi Tamara terdengar batuk.


"Saya ambilkan segelas air dulu Mbak, biar Mbak Ara tidak batuk lagi."


Tamara menggeleng tanda tidak mau melihat Susi mengambil segelas air. "Tidak usah Susi." Di tengah-tengah suara batuknya Tamara masih saja bisa berbicara.


"Tapi Mbak."


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Lagipula aku tersedak dengan air Susi bukan dengan segenggam pasir ataupun batu." Tamara rupanya masih saja terdengar bercanda meskipun saat ini suasana hati wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


Namun, Tamara haus berpura-pura tersenyum ceria di depan karyawannya yang satu itu. Jangan sampai Susi tahu bahwa dirinya benar-benar sedang mengandung.


"Kamu memberitahu Axel?" tanya Tamara.


"Saya tidak memberitahunya Mbak, saya cuma minta Axel untuk datang menjemput Mbak Ara. Karena saya merasa kalau Mbak juga mungkin kecapekan dan butuh istirahat yang cukup. Mengingat Mbak Ara sepertinya belakangan ini lebih sering melamun dan kurang tidur juga."


"Hanya perasaanmu saja Susi, karena kamu tidak tahu kerjaan saya di rumah cuma rebahan saja," timpal Tamara sambil tersenyum.


***

__ADS_1


Malam menjelang, saat Tamara akan makan malam bersama Liana tiba-tiba saja perut wanita itu kembali lagi terasa seperti di aduk-aduk. Tatkala adik sekaligus madunya itu terlihat sedang membuka tutup saji lauk makan malam mereka yaitu rendang.


"Tutup Liana, jangan di buka." Tamara terlihat menghalangi tangan Liana saat tadi ia sudah menutup rendang itu. "Jangan makan rendang dulu, karena aku tidak suka mencium aromanya," sambung Tamara.


Liana mengerutkan keningnya. "Bukankah rendang kesukaan kak Ara, lalu kenapa sekarang malah tidak suka mencium aromanya?" tanya wanita hamil itu langsung yang merasa sangat penasaran.


"Mungkin saja aku sudah merasa mulai bosan mencium aroma rendang itu Liana. Jadi, aku mohon jangan di buka. Dan walaupun kamu mau makan itu rendang tunggu aku selesai malam mal dulu."


"Sangat aneh sekali, ratu rendang malah sudah mulai merasa bosan memakan rendang." Liana menyipitkan mata sambil terus saja memperhatikan wajah Tamara. "Kakak juga terlihat gendutan, padahal jarang makan. Dan apa berat badan kak Ara sekarang bertambah?" Ini untuk yang pertama kalina Liana berbicara selembut serta sesopan ini pada kakak tirinya itu.


Padahal yang selama ini yang Author dan para pembaca tahu bagaimana sikap serta sifat Liana pada Tamara.


"Perasaan kamu saja, timbanganku tidak naik kok," kilah Tamara cepat. Supaya Liana tidak bertanya lagi pada dirinya.


"Ah, masa sih?"


"Iya, benar timbanganku mentok. Kalau kamu tidak percaya tanya saja sama Susi, karena kebetulan Susi sering jadi saksi bisu," jawab Tamara terkekeh. Meskipun saat ini wanita itu merasa mual lagi. "Sudahlah kamu makan saja Liana, jangan malah menatapku terus-menerus seperti itu."


"Mas Demian kapan pulang?" Kini Liana malah mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2