
Meskipun terdengar sedikit gila namun Demian tetap setuju dengan apa yang di rencanakan oleh Liana. Akan tetapi, siapa sangka laki-laki itu malah dengan cepat berubah pikiran.
"Bagaimana kalau Ara tahu, jika malam ini yang akan tidur dengannya bukan aku melainkan, Axel?" Demian bertanya pada Liana.
"Mas tinggal matikan saja lampunya, setelah itu suruh Axel masuk dan dia pasti akan melakukan tugasnya dengan baik," jawab Liana.
"Tapi ... aku tidak rela jika Ara akan tidur dengan laki-laki lain selain aku." Demian tiba-tiba saja merasa ragu dengan apa yang di rencanakannya dengan Liana tadi.
"Tadi Mas setuju, dan sekarang malah berubah pikiran Mas ini bagaimana sih." Liana terlihat cemberut karena ia kesal. Sebab tadi Demian setuju dengan rencananya tapi sekarang laki-laki itu malah dengan sangat cepat berubah pikiran. "Jika Mas ragu, tidur saja dengan kak Ara, nanti kalau dia menyebut ingin memiliki anak lagi, katakan saja kalau Mas itu mand–"
Demian langsung saja menutup mulut Liana, sebelum kalimat istri keduanya itu usai. "Tutup mulutmu, Liana, jika aku mengatakan yang sejujurnya maka kau juga pasti akan mendapatkan masalah yang besar. Dimana semua orang akan tahu kalau kau bukan mengandung anakku, melainkan mengandung anak orang lain."
Liana terdiam karena apa yang di katakan oleh Demian ada benarnya juga. Sebeb Kinanti, sang ibu bisa saja murka jika tahu tentang kebenarannya.
__ADS_1
"Jadi sekarang mau Mas apa?"
"Bantu aku cari jalan keluarnya saja, tidak lebih dari itu." Demian menjawab singkat.
"Mas, aku sudah mengatakan kalau Axel bisa membantu Mas dalam memgatasi ini semua. Tapi Mas malah berubah pikiran saja." Liana merasa harus meyakinkan Demian supaya rencananya ini berhasil.
"Apa kau yakin, kalau Axel akan bisa membuat Ara hamil?" Demian melontarkan pertanyaan seperti orang bodoh.
"Aku perlu memikirkan ini dulu, karena tidak mungkin aku mengambil keputusan di situasi seperti ini," ucap Demian yang kemudian melangkah pergi dari kamar Liana.
"Baiklah, terserah Mas saja," timpal Liana mendesis.
"Tinggal sedikit lagi, Mas Demian pasti akan mengikuti apa yang aku katakan tadi. Dan dengan begitu maka aku akan sangat mudah menyingkirkan Ara. Sehingga akulah satu-satunya wanita yang menjadi Nyonya besar di rumah ini." Liana bergumam di dalam benaknya.
__ADS_1
***
"Mas, dari mana saja?" tanya Tamara ketika melihat Demian baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, Mas tadi habis cari angin karena Mas merasa sangat gerah, apa ini karena kita akan …." Demian menjeda kalimatnya.
"Ish, Mas ini, kenapa malah menjadi gerah. Bukankah seharusnya Mas senang?" Tamara dengan malu-malu mengatakan itu pada sang suami.
"Memangnya kamu sudah siap?" tanya Demian menggoda Tamara. Sebab laki-laki itu sangat suka sekali melihat rona merah pada pipi wanita itu.
"Mas, aku sudah siap makanya aku rela mandi malam-malam begini," timpal Tamara malu-malu.
"Malam ini akan menjadi malam yang akan sangat menyenangkan." Sesaat setelah mengatakan itu Demian menarik pergelangan tangan Tamara sehingga keduanya jatuh di atas ranjang yang kasurnya sangatlah empuk. "Kita gas tipis-tipis saja, Sayang," bisik Demian.
__ADS_1