Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Demian Bangun


__ADS_3

Liana yang mau mendengar penjelasan Axel lebih jelas dan detail lagi, pada akhirnya memilih untuk menemui laki-laki itu langsung. Karena sungguh saat ini wanita hamil itu saat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Axel tadi.


"Aku harus ke kamarmu, Axel karena jika kita bicara via telepon aku belum paham tentang apa yang sebenarnya telah terjadi," ucap Liana yang kemudian memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.


"Aku harus menemui Axel, biar semuanya jelas. Bisa-bisanya laki-laki brengsek itu mengatakan kalau dirinya tidak menjalankan apa yang aku perintahkan. Dasar laki-laki t*lol!" gerutu Liana. "Aku padahal sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari dengan sangat matang, tapi bisa-bisanya Axel malah membuat apa yang aku lakukan ini semua jadi sia-sia. Akkhh Dasar Axel kau sangat bo doh!" sambung Liana dengan perasaan yang sangat dongkol.


Dan kini wanita hamil itu terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Sebab tujuannya saat ini adalah ke kamar Axel. Biar ia bisa mengetahui kebenarannya, ia juga tidak mau kalau rencana yang ia susun sudah jauh-jauh hari akan berantakan gara-gara manusia seperti Axel. Laki-laki yang ia ajak bekerja sama demi menghancurkan rumah tangga Demian dan Tamara. Supaya dirinya menjadi satu-satunya wanita yang akan bersanding dengan Demian, sang suami yang sekarang masih saja terlelap setelah tadi malam mendapat servis yang sangat luar biasa dari wanita hamil itu.

__ADS_1


Hingga beberapa menit, Setelah Liana terlihat keluar dari kamar Demian. Tiba-tiba saja suara berat Demian yang baru saja bangun mulai terdengar. Laki-laki itu juga terlihat langsung saja memegang kepalanya.


"Ada apa ini kenapa kepalaku terasa sangat pusing sekali?" Demian sama seperti Tamara. Dimana ia mencoba untuk mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi.


Namun, Demian malah mengingat dirinya yang sedang berada di dapur dan ia juga sempat meminum air satu gelas.


"Apa yang sudah terjadi padaku? Dan kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat semuanya?" Demian masih saja berusaha untuk mengingat tentang apa yang telah ia alami. Meskipun sangat mustahil sekali ia akan mengingatnya.

__ADS_1


Akan tetapi, bukan Demian namanya jika saja laki-laki itu tidak terus berusaha untuk bangun dari tidurnya. Karena bagi Demian sakit kepala hanya sesuatu yang bagi laki-laki itu bisa ia lawan.


Namun, detik berikutnya Demian berteriak karena ia juga kaget dengan dirinya yang bertelang jang bulat. Laki-laki itu juga merasa semakin dibuat heran dan bingung. Karena bisa-bisanya dia tidur dalam keadaan seperti itu.


"Apa lagi ini? Kenapa aku malah bertelan jang? Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku tadi malam?" Wajah Demian merah padam. Karena ia tahu kalau pasti ini semua ada kaitannya dengan Liana.


"Kurang ajar! Jika benar ini semua karena Liana. Maka aku akan membuat perhitungan dengannya." Demian lalu kembali lagi terlihat membuka sedikit selimutnya dan lagi-lagi ia sangat kaget. Sebab ia benar-benar sedang bertelan jang karena yang tadi ia merasa kalau pengelihatakannya sedang bermasalah.

__ADS_1


Akan tetapi, fakta mengatakan kalau penglihatan Demian tidaklah bermasalah. Membuat laki-laki itu menjambak rambutnya sendiri dengan sangat kasar.


"Aku harus menemui Ara dulu, dan akan memintanya untuk menjadi saksi. Tentang apa yang aku lakukan semalam." Demian lalu bangun dan dengan gerakan cepat turun dari ranjangnya. Ia juga sudah tidak memperdulikan kepalanya yang terasa berdenyut.


__ADS_2