Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Moodnya Cepat Berubah-Ubah


__ADS_3

"Sudah Sayang, jangan bahas Liana lagi, bukankah kamu sudah tahu sendiri bagaimana karakter anak itu," kata Demian sesaat setelah mendengar cerita yang terlontar dari bibir tipis milik sang istri. "Sekarang pejamkan matamu, dan jangan pikirkan apapun karena itu hanya akan membuat kepalamu berpikiran yang tidak-tidak," sambung Demian. Sambil mengelus-ngelus rambut Tamara.


"Mas Demian mencintaiku 'kan?" Tiba-tiba saja Tamara malah mengalihkan pembicaraan. Sebab saat ini wanita itu ingin mendengar sendiri jawaban yang keluar dari mulut laki-laki yang sangat ia cintai itu. Karena sejak berada di luar Negeri Demian sangat jarang menghubungi wanita itu.


Membuat Tamara takut, jika Demian malah mengkhianatinya di belakang. Dam mencari kepuasan pada wanita lain. Karena Tamara merasa kalau dirinya tidak pernah memberikan hak Demian sebagai seorang suami.


"Ini pertanyaan yang sudah kesekian kalinya Sayang, apa tidak ada pertanyaan yang lain lagi?"


"Jawab saja aku, Mas. Karena aku mau mendengar jawabanmu itu." Tamara rupanya tidak mau mengalah, oleh sebab itu ia terus saja menyuruh sang suami untuk menjawab pertanyaannya. "Mas, ayolah, jawab aku." Tamara terdengar merengek tidak seperti biasanya.


"Sayang, mau sampai kapanpun, jawaban Mas tetap sama yaitu. Mas hanya mencintaimu sampai kapanpun itu. Dan tidak akan ada wanita lain yang akan mampu menggantikan kedudukanmu di hati Mas ini." Demian menjawab dengan suara beratnya. Karena tiba-tiba saja ia merasa sangat ngantuk. Mengingat laki-laki itu saat di luar Negeri jam istirahatnya terbatas. "Sudah sayang, jangan tanya itu lagi ya, karena Mas akan menjawab dengan jawaban yang sama. Jadi, Mas harap berhenti menanyakan akan hal itu." Demian lalu mengecup dahi wanita itu. "Mau Liana mengandung anakku, aku sama sekali tidak akan bisa mencintainya. Karena rasa cintaku ini hanya padamu seorang, Sayang. Dan aku harap semoga kamu mengerti."


Entah mengapa Tamara merasa ragu dan kurang percaya dengan apa yang Demian katakan, walaupun wanita itu tahu kalau Demian tidak suka berbohong ataupun berdusta.


"Tapi Mas, aku takut Mas akan berpaling hati. Karena aku tidak pernah memberikan segalanya untuk Mas padahal kita sudah menikah sudah dua bulan." Meski ragu Tamara tetap mengatakan itu pada Demian.

__ADS_1


"Sayang, cintaku ini tulus bukan hanya karena nafsu saja," timpal Demian berbohong. Padahal saat ini laki-laki itu berusaha menahan gejolak hasrat yang seolah-olah ingin menerkam wanita yang sangat-sangat laki-laki itu cintai.


Namun, Demian berusaha menahan itu semua. Karena laki-laki itu takut jika Tamara tahu tentang kebenarannya kalau dirinya mandul. Itu salah satu faktor yang membuat Demian sampai bisa tahan hingga detik, menit, dan jam ini.


Dan bagi Demian, ia tidak mempermasalahkan itu semua. Karena laki-laki itu sangat benar-benar mencintai Tamara membuat Demian tidak merasa keberatan jika tidak bisa mencicipi setiap lekuk tubuh Tamara. Yang terpenting dirinya bisa hidup bersama selamanya dengan wanita itu.


"Mas," panggil Tamara yang tiba-tiba saja malah meraba dada bidang Demian.


"Iya Sayang, ada apa?"


"Sayang, setiap manusia tentu memiliki nafsu yang menjadi dasar atas segala urusan atau perbuatan yang dilakukannya, entah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Termasuk Mas juga yang pasti memiliki hawa nafsu karena jika tidak memiliki hawa nafsu maka tidak akan berjalan kehidupan di dunia ini, setiap manusia akan diam saja tanpa tujuan," jawab Demian panjang lebar berharap supaya wanita yang sudah dinikahi itu mengerti.


"Tapi kenapa Mas tidak pernah mau me-menyentuhku bahkan menggauliku?" Tamara menggigit kecil bibir ranumnya. Karena sungguh ia sangat malu saat menanyakan itu semua pada Demian, yang nyata-nyata adalah suaminya. "Apa aku kurang menarik atau kurang seksi di mata Mas?" Kini pertanyaan Tamara makin ngawur saja. "Sehingga aku ini Mas anggurkan seperti manekin?"


"Sayang, bukan maksud Mas begitu. Tapi ...."

__ADS_1


"Tapi apa? Tapi karena Mas sudah mendapat kepuasan dari Liana begitu?" Entah mengapa mood Tamara yang baik-baik saja kini malah berubah drastis.


Membuat Demian menyerngit tanda heran yang baru kali ini melihat serta mendengar Tamara mempermasalahkan masalah ini.


"Jika begini, buat apa hubungan kita ini berlanjut sampai sekarang? Kenapa Mas tidak ceraikan saja aku? Aku rasa mungkin itu lebih baik daripada aku di anggap sebagai pajangan saja di rumah ini." Tamara dengan cepat bangun dari tidurnya dan langsung duduk di pinggir ranjang. "Jadi, untuk apa aku ini Mas pertahankan. Jika tenagaku tidak pernah di gunakan sekalipun di atas ranjang ini. Lebih baik kita bubaran saja. Karena lama-lama aku merasa sangat muak. Sebab Mas hanya mau berhubungan ba dan hanya dengan Liana yang telah Mas buat hamil, sedangkan aku ...." Liana menunjuk dirinya sendiri. "Malah dibiarkan begitu saja." Lirih wanita itu yang hampir saja menumpahkan cairan bening.


"Sayang, siapa yang bilang begitu? Ayo kalau kamu mau sekarang kita lakukan sampai pagi, bahkan sampai malam menjelang lagi. Jika itu yang kamu mau." Demian ikut bangun dan mendekati wanita yang moodnya cepat sekali berubah-ubah itu. "Bagaimana apa kamu setuju? Jika iya, maka kita lakukan sekarang saja. Tapi satu yang Mas minta, jangan pernah ucapkan kata cerai karena Mas sangat tidak suka sekali mendengar itu semua."


"Sudahlah, Mas hanya suka dan candu dengan tubuh Liana. Sedangkan aku Mas anggurin!" gerutu Tamara.


"Sayang, kita lakukan sekarang, dan jangan marah lagi. Oke!" Meski ragu Demian perlahan membaringkan tubuh sang istri. "Ayo kita lakukan, supaya istriku yang cantik ini tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa saja melukai hati kita berdua," sambung Demian.


"Tidak usah, Mas Demian cari saja kepuasan pada Liana. Karena aku ini tidak akan bisa melakukan itu sumua," kata Tamara yang kesal padahal tadi wanita itu sendiri yang menantang serta mengucapkan kata-kata yang memancing kejantanan laki-laki itu untuk berdiri kokoh hingga tidak tertandingi.


"Ayo Sayang, biar kamu tidak meragukan suamimu ini lagi." Demian membuka bajunya. Demi membuktikan semuanya pada sang istri. Meskipun saat ini mata laki-laki itu sangat ngantuk dan juga Demian merasa sangat lelah.

__ADS_1


Namun, itu semua tidak Demian hiraukan demi wanita yang sedang merjuk itu. "Apa Mas sendiri yang akan membukanya untukmu, Sayang?" tanya Demian dengan tangan yang terulur dan menyentuh piyama yang di gunakan oleh Tamara.


__ADS_2