Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Obat Pera ngsang


__ADS_3

Setelah menaburi bubuk itu tiba-tiba saja Axel segera bangun setelah tadi laki-laki itu merangkak. Dan tidak berselang lama terdengar ia berdehem beberapa kali. Supaya Demian menatap ke arahnya. Sesuai dugaan Axel kini Demian terlihat langsung saja menoleh.


"Axel, kamu belum tidur juga?" tanya Demian sambil terlihat mulai meminum segelas air yang telah di taburi bubukan tadi oleh Axel.


"Saya kebetulan sangat haus Tuan, oleh sebab itu saya datang ke dapur ingin mengambil air minum juga," jawab Axel berbohong. Padahal dirinya dan Liana sudah merencanakan ini semua. Tentang dirinya yang akan menaburkan obat pera ngsang pada minuman Demian. "Kalau Anda sendiri, apa haus juga?" Sekarang giliran Axel yang bertanya pada Demian sebagai tanda basa basi laki-laki itu.


"Iya, saya juga haus Axel. Apa mungkin karena efek malam ini yang terlalu panas sehingga kita merasa gerah?" Demian terlihat mengibas-ngibaskan wajahnya dengan telapak tangannya. Karena tiba-tiba saja badan laki-laki itu terasa sangat panas.

__ADS_1


"Yes, pasti obatnya sudah mulai bekerja. Sekarang kita tunggu saja. Apakah Mas Demian akan kuat menahan godaanku atau tidak?" batin Liana yang terlihat tersenyum licik ke arah Demian. Di saat ia melihat sang suami sudah mulai membuka satu kancing baju tidur yang dikenakan oleh Demian.


"Kalau begitu, saya pamit dulu Axel, mungkin di balkon anginnya terasa sejuk malam-malam begini. Maka dari itu kayaknya saya harus ke sana," ucap Demian yang semakin merasa panas pada seluruh tubuhnya saat ini. Sehingga Demian terlihat mulai merasa tidak nyaman. "Dan kau, masuk ke kamar. Ibu hamil tidak pantas begadang," sambung Demian yang sekarang terdengar menyuruh Liana masuk ke kamar.


"Iya Mas," sahut Liana sambil menatap Axel untuk memberi kode pada sopir Tamara itu.


Axel yang mengerti arti tatapan Liana dengan cepat berkata, "Saya juga mau tidur dulu Tuan, kalau begitu saya permisi." Axel segera pergi dari sana dan tidak lama laki-laki itu menghilang di balik tembok karena rupanya Axel bersembunyi di sana.

__ADS_1


"Mas, kakiku sakit sepertinya kakiku terkilir." Liana pura-pura meringis kesakitan supaya Demian percaya pada dirinya.


"Tidak bisakah kau hati-hati Liana," kata Demian yang kini terlihat menuruni anak tangga lagi. Dan ternyata tadi Demian sudah sampai di tengah-tengah anak tangga. Tapi sekarang laki-laki itu terpaksa harus turun lagi. Demi menolong Liana padahal saat ini adik kecilnya di bawah sana sudah menegang dengan sempurna. "Kau sungguh merepotkan sekali," ucap Demian sambil melirik ke arah tembok tempat Axel menghilang tadi. Karena saat ini ia mau minta tolong pada sopir itu saja untuk membantu Liana. Akan tetapi, Axel tidak tampak batang hidungnya. Membuat Demian merasa harus terpaksa menolong Liana sendiri.


"Mas, bisa tolong bawa aku ke kamarku saja langsung. Kakiku benar-benar tidak bisa digerakkan." Liana terlihat malah menarik dress selutut yang ia kenakan sehingga pa ha mulus putih bersih wanita hamil itu bisa dilihat dengan sangat jelas.


Sehingga membuat Demian yang dalam pengaruh obat pera ngsang menatap itu semua dengan air liur yang hampir saja menetes dari bibir laki-laki itu.

__ADS_1


"Mas ...," panggil Liana lembut dan sekarang wanita itu terlihat menyobek dress bagian depannya.


Demian yang melihat dua jelly jumbo spontan saja menggeleng-gelengkan kepala sambil mengucek matanya. Karena tiba-tiba saja pengelihatannya jadi berubah. Dimana ia melihat Liana seperti melihat Tamara.


__ADS_2