
Tamara menunduk sambil berkata, "Nanti malam, aku akan memberikan hak Mas itu." Jujur saja saat ini Tamara merasa sangat malu ketika ia mengatakan itu semua pada Demian, meskipun laki-laki itu adalah suaminya sendiri. Namun, rasa malu itu masih saja singgah di hati Tamara.
"Benarkah?"
Tamara mengangguk tanda mengiyakan sang suami.
"Ini bukan karena terpaksa 'kan, Sayang?" tanya Demian seraya meraih jari-jemari sang istri yang saat ini pipinya kian memerah. Menandakan kalau Tamara benar-benar merasa sangat malu.
"Sama sekali tidak terpaksa Mas, karena ini sudah saatnya aku menyerahkan semuanya pada Mas," jawab Tamara bersungguh-sungguh.
"Baiklah, sepertinya nanti malam Mas harus menyiapkan tenaga ekstra yang super full," celetuk Demian. "Malam ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan. Bagi kita berdua," bisik Demian pelan. "Tapi tunggu dulu, Mas akan bertanya sekali lagi. Apa ini bukan karena keterpaksaan?"
"Aku tidak terpaksa sama sekali Mas." Tamara menjawab lagi dengan jujur. "Karena ... karena, aku juga sudah ingin memiliki buah hati seperti Liana," ucap Tamara tiba-tiba, di sela-sela rasa gugupnya saat ini.
__ADS_1
Mendengar Tamara yang ingin buah hati, Demian langsung saja merasa sangat bersalah. Karena dirinya tidak akan mampu memberikan wanita itu keturunan membuat laki-laki itu hanya bisa memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya laki-laki itu merasa takut jika saja Tamara mengetahui kebenarannya.
"Mas ... Mas, tidak keberatan 'kan kalau aku mau kita memiliki anak lebih cepat, bukan malah menundanya?"
"Hm, tentu saja Sayang, dan emangnya kamu mau Mas kasih berapa malaikat kecil?" Demi menghilangkan rasa gugupnya Demian malah melontarkan pertanyaan yang tentunya pertanyaan itu hanya sebagai kalimat penenang buat sang istri. "Sayang mau berapa?" Demian mengulangi pertanyaannya sekali lagi.
"Mas dulu dong, kalau Mas mau berapa generasi penerus dari rahimku?"
"Kalau Mas sih, dua anak cukup," jawab Demian, meskipun laki-laki itu tahu sangat mustahil untuk memberikan apa yang diinginkan oleh Tamara. Namun, Demian akan terus meyakinkan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Bagaimana jika Ara tahu, kalau aku ini laki-laki yang mandul? Mungkin saja dia akan langsung meninggalkan aku. Pokoknya Ara tidak boleh tahu tentang ini semua. Bila perlu aku akan mencari laki-laki lain, untuk menitipkan benih di rahim Ara," gumam Demian membatin.
"Mas, kok malah melamun?" Tamara menggoyang-goyangkan lengan Demian. "Mas ...."
__ADS_1
"I-iya Sayang, Mas melamun karena Mas sedang berkhayal di rumah kita ini pasti akan ramai oleh tawa dan tangis bayi-bayi kita kelak." Demian lagi-lagi hanya bisa berbohong pada sang istri.
"Tentunya, pasti akan sangat ramai Mas," timpal Tamara yang juga sekarang malah membayangkan apa yang tadi di katakan oleh Demian.
***
Malam pun menjelang, dimana malam yang ditunggu-tunggu oleh Demian dan Tamara. Dimana dua insan itu akan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
"Sayang, Mas keluar sebentar ya, kamu lanjutkan saja mandinya," ucap Demian yang berbicara pada Tamara dari ambang pintu kamar mandi. Karena kebetulan wanita itu saat ini sedang mandi. "Sayang, kamu mendengar apa yang Mas katakan?"
"Iya Mas, aku mendengarnya," sahut Tamara menimpali sang suami.
"Mas cuma keluar sebentar," kata Demian lagi.
__ADS_1
"Jangan lama-lama," balas Tamara.