Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Disalahkan


__ADS_3

"Ini semua gara-gara wanita pembawa s*al itu!" teriak Liana ketika melihat Tamara dan Demian masuk ke dalam ruangannya.


"Liana, tenangkan diri kamu 'Nak, jangan begini terus," kata Kinanti yang berusaha untuk menenangkan putrinya. "Tanang Liana, jangan memberontak terus karena kamu habis di operasi. Ibu takut nanti jahitan pada perut-mu terbuka." Dengan air mata yang terus saja bercucuran wanita paruh baya itu memeluk Liana.


"Tidak Ibu! Aku tidak bisa tenang. Jika bukan karena dia pasti bayiku tidak akan meninggalkan aku secepat ini!" Liana malah terdengar semakin berteriak histeris, dengan sorot mata tajam saat wanita itu menatap Tamara. "Usir dia Ibu, dia itu pembawa s*al!"


"Liana maafkan aku, a-aku ti-tidak bermaksud membuat ba-bayimu meninggalkanmu," ucap Tamara yang mau mendekat ke arah bed Liana. Akan tetapi, Demian dengan cepat menahan tangan sang istri. "Mas, biarkan aku meminta maaf pada Liana. Karena ini memang salahku." Tamara terlihat mengangguk saat menatap Demian. Menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa saat ini.


"Kita pulang saja, karena Mas tidak bisa melihat serta mendengar istri Mas disalahkan seperti ini. Disaat wanitaku ini hampir saja di perk*sa oleh dua preman sekaligus." Demian sengaja mengatakan itu supaya Liana dan Kinanti mendengarnya, supaya kedua anak serta ibu itu tahu kalau pujaan hatinya tidak bisa disalahkan seperti saat ini. "Ayo Sayang, kita pulang saja. Karena jika kamu terus berada di sini maka kondisi kamu pasti semakin down. Mengingat adik tirimu itu terus saja menyalahkan kamu, padahal ini salah dirinya sendiri kenapa harus kabur dari rumah papa di saat sudah malam." Demian yang tidak mau Tamara disalahkan mengatakan itu.


"Mas, jangan katakan itu." Tamara terdengar mengatakan itu setengah berbisik. Karena ia tidak mau jika Kinanti nanti akan merasa tersinggung, mengingat gara-gara ibu tirinya itu Liana juga kabur dari rumah.


"Tidak Sayang, biarkan Mas mengatakan ini pada Liana," timpal Demian yang tidak peduli meski Tamara melarangnya untuk membuka suara. "Liana, apa kau tidak sadar? Bahwa gara-gara kelakukanmu istriku hampir saja di perk*sa bahkan jika aku tidak meminta bantuan pada kakak sepupuku mungkin saja sekarang bukan hanya nyawa bayimu saja yang melayang, bahkan nyawa istriku bisa saja ikut-ikutan melayang, jika kakak-ku itu telat semenit bahkan sedetik saja," sambung Demian berbicara panjang kali lebar.


"Mas sudah," kata Tamara.

__ADS_1


Demian menggeleng tanda bahwa ia belum merasa puas mengeluarkan isi hatinya.


"Buat ibu, tolong kasih tahu serta berikan pengertian pada Liana. Jangan sampai terus-terusan menyalahkan Ara dalam hal ini di saat dirinya sendiri lah yang bersalah atas kejadian ini. Dan buat kamu Liana, jangan merasa bahwa di sini hanya kamu sendiri yang menjadi korban." Setelah merasa semua unek-uneknya dikeluarkan walaupun hanya sebagian. Demian meraih telapak tangan sang istri. "Ayo Sayang, kita pulang saja. Di sini tidak baik untuk kesehatan jantung serta hatimu," lanjut Demian.


"Kalian sama-sama pembawa s*al!" jerit Liana sambil melempar bantal ke arah Demian dan Liana yang sekarang terlihat berbalik karena pasangan suami istri itu benar-benar akan pergi dari sana. "Kalian bukan manusia! Kalian iblis!" Suara Liana lagi-lagi terdengar sangat keras sehingga menggema di ruang rawat inap itu.


"Liana, cukup 'Nak, jangan buat Ibu malu." Lirih Kinanti yang sekarang malah semakin erat memeluk putrinya itu.


"Dasar laki-laki mandul, dan wanita bo doh!" gerutu Liana yang sekarang malah menjambak rambutnya sendiri. Di saat ia melihat Demian yang malah memeluk pinggang Tamara.


***


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Demian di saat mereka ada di dalam mobil. Karena malam ini laki-laki itu sepertinya harus membawa Tamara pergi ke apartemen saja. Mengingat setiap kali wanita itu disebutkan akan pulang mimik wajah Tamara langsung saja berubah.


"Aku baik-baik saja Mas, tapi ...." Tamara menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Sayang, Mas mohon jangan pikirkan Liana lagi. Tolong lebih baik kamu pikirkan saja tentang keadaanmu saat ini." Sepertinya Demian tahu kalimat apa yang akan Tamara lontarkan oleh sebab itu, ia mengatakan itu semua pada istrinya. "Ini semua terjadi karena kesalahan adik tiri kamu sendiri, bukan murni kesalahanmu, Sayang."


Tamara menunduk, sebab mau bagaimanapun Demian mengatakan kalau dirinya tidak bersalah. Wanita itu masih saja tetap menyalahkan dirinya sendiri. Karena bayangan wajah bayi Liana dan Axel yang sudah tiada membuat hati Tamara menjadi sakit.


Mungkinkah ini karena Tamara saat ini sedang hamil juga? Atau malah ini semua murni dari dalam lubuk hatinya sendiri yang merasa sakit sebab Liana adalah adik tirinya? Entahlah hanya Tamara yang tahu jawabannya.


"Mas selalu akan percaya sama kamu, Sayang, meskipun seluruh dunia ini menyalahkanmu. Mas berharap sampai sini kamu paham, karena rasa cinta Mas padamu melebihi apapun. Bahkan nyawa Mas akan rela Mas berikan padamu."


Detik itu juga Tamara langsung saja memeluk Demian, karena ia tidak pernah menyangka kalau ternyata laki-laki itu benar-benar sangat mencintai dirinya.


Namun, apa? Dirinya sekarang malah mengandung benih dari kakak sepupu sang suami. Itu yang membuat Tamara merasa dirinya adalah wanita yang paling tidak tahu diri.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2