
Di tempat lain, kedua belah pihak dibuat kebingungan oleh Tamara dan Demian, karena pasangan suami istri itu serampak mengirim pesan ke kedua orang tua mereka masing-masing yang mengatakan bahwa Tamara dan Demian sedang pergi liburan. Dan pasangan suami istri itu juga mengatakan kalau mereka tidak mau diganggu selama mereka pergi liburan.
"Sangar aneh, kenapa tiba-tiba saja Demian dan Tamara pergi liburan? Apa Pak Aploso tahu alasan mereka?" Herdi bertanya setelah tadi laki-laki itu lama terdiam.
Karena pria paruh baya itu berpikir bahwa putrinya itu sengaja mengajak Demian pergi liburan hanya untuk menghindari dirinya yang selalu saja menyuruh Tamara mengalah dalam segi apapun pada Liana. Membuat rasa bersalah tiba-tiba saja timbul di dalam benak Herdi.
"Pak Herdi, mungkin anak-anak kita butuh liburan karena mereka mungkin juga sudah bosan di rumah terus. Jadi, kayaknya putra putri kita mencari suasana baru," jawab Renata yang malah merasa senang jika anak dan menantunya pergi liburan. "Kita tidak usah terlalu memikirkan mereka, karena mereka itu sudah sama-sama dewasa. Dan tugas kita hanya berdoa semoga rumah tangga mereka langgeng," sambung Renata.
"Iya Pak Herdi, apa yang dikatakan oleh istri saya ada benarnya juga," ucap Aploso yang ikut menimpali. Karena laki-laki itu juga berpikiran yang sama seperti sang istri.
Herdi yang mendengar itu hanya bisa mengangguk tanda mengerti. "Semoga mereka baik-baik saja, dan pulang liburan dengan cepat karena perasaan saya kok nggak enak. Mungkin ini karena Demian dan Tamara pergi secara mendadak," ucap Herdi yang saat ini berusaha berpikir positif.
"Mas, mereka itu sudah dewasa. Buat apa Mas mengkhawatirkan mereka, yang perlu kita khawatirkan saat ini adalah Liana, bukan malah mengkhawatirkan Demian dan Liana. Pasangan suami istri yang mungkin saja saat ini sedang bersenang-senang," timpal Kinanti setelah tadi wanita itu lama terdiam. "Sekarang kita pulang saja jika semuanya sudah jelas, mereka pergi bersenang-senang tapi Mas yang malah khawatir!" ketus Kinanti yang tiba-tiba saja merasa kalau Demian dan Tamara pergi liburan dan bersenang-senang, di saat Liana saat ini masih ada di rumah sakit. Membuat wanita paruh baya itu sedikit merasa kesal dengan pasangan suami istri itu.
"Bu, jangan ketus begitu. Wajar Mas mengkhawatirkan Tamara karena waktu itu Mas malah menyuruhnya per–" Belum selesai kalimat Herdi. Tapi Kinanti yang suasana hatinya sedang dongkol itu langsung saja memotongnya.
"Sudah Mas, kita pulang saja." Kinanti berdiri. "Jeng, Pak Aploso, kami pamit dulu mau ke rumah sakit, karena Liana sendirian di sana. Kalau begitu permisi, Jeng." Kinanti memaksakan bibirnya untuk tersenyum sebelum ia pergi dari rumah besannya itu. Sambil menarik tangan Herdi untuk ikut keluar bersamanya.
"Jeng Kinanti kok berubah, Pah?" tanya Renata saat Kinanti dan Herdi sudah sampai di ambang pintu.
__ADS_1
"Ma, tidak usah membicarakan besan kita. Cukup dia saja yang begitu asal kita jangan berubah." Aploso kemudian berdiri. "Papa mau berangkat ke kantor Demian dulu, karena Papa mau melihat siapa orang kepercayaan putra kita itu yang akan memegang perusahaan selama dia liburan."
Renata mengangguk, karena apa yang keluar dari mulut sang suami pasti akan wanita itu dengar dan turuti. Tanpa banyak bicara karena bagi wanita itu apa yang dikatakan oleh Aploso pasti suatu hal yang baik dan benar.
"Mama kalau mau ikut sama Papa boleh, Papa tunggu di depan!" seru Aploso saat pria paruh baya itu sudah menjauh.
"Pa, Mama tidak mau ikut karena Mama ada urusan di luar!" sahut Renata dengan suara yang sedikit melengking, karena ia tahu pasti sang suami tidak bisa mendengarnya jika tidak dengan suara yang sedikit keras.
***
"Apa kamu sudah melihatnya?"
"Selain jahat kau ternyata sangat licik juga Bara, aku tidak menyangka bahwa selama ini kau hanya menggunakan topeng saja. Dan rupanya begini sifat aslimu," kata Tamara yang sudah tidak bisa berteriak lagi karena pita suara wanita itu sudah sangat serak. Sebab ia sudah terlalu sering berteriak bahkan menjerit. "Kau selama ini bersikap baik padaku, dan aku kita kau tulus tapi rupanya aku sudah sangat salah besar dalam menilai laki-laki sebrengsek dirimu."
"Lepaskan aku, Bara, aku janji aku akan melahirkan bayi ini untukmu. Aku janji akan hal itu." Tamara akhirnya bisa mengatakan itu setelah tadi wanita itu sempat berpikir jika dengan cara berbicara baik-baik seperti ini pada Bara. Tamara berharap hati laki-laki jahat itu akan bisa luluh supaya ia dan Demian bisa bebas. "Bara, aku akan melahirkan bayi ini untukmu. Apa kau mendengarku?"
"Apa ucapanmu itu bisa dipercaya? Secara kamu selama ini sangat ingin menggugurkan janin itu."
Tamara menggeleng dengan kuat. "Aku janji Bara, asal kau membebaskan Mas Demian. Dan buat Mas Demian bisa sembuh lagi seperti sedia kala. Maka aku akan sanggup melahirkan bayi ini untukmu," timpal Tamara berharap Bara mau mendengarnya.
__ADS_1
"Cerai darinya, apa kau mau?"
Tamara melihat di layar tablet yang Bara pengang, dimana terlihat di sana Demian seperti mayat hidup. Karena laki-laki itu sudah Bara buat menjadi benar-benar lumpuh total.
"Ara, bagaimana?"
"Beri aku waktu untuk memikirkan semua itu, karena aku tidak bisa mengambil keputusan di saat suasana hatiku sedang tidak karuan seperti ini," jawab Tamara yang terus saja berusaha menahan rasa sesak di da danya. Karena wanita itu merasa kalau ia harus menghadapi Bara dengan cara baik-baik jika ia mau sang suami tetap hidup.
"Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu itu." Bara lalu terlihat kembali lagi mengupas buah untuk wanita hamil itu.
"Apa kamu mau tahu tentang keadaan Axel saat ini?" Tiba-tiba saja Bara malah mengalihkan pembicaraan.
"Axel?"
"Iya, apa kamu mau tahu keadaannya?" tanya Bara sekali lagi.
"Apa dia sudah bebas?" Tamara malah bertanya balik, sehingga membuat Bara malah terkekeh. "Bara apa dia sudah bebas?" Tamara rasanya sangat muak berbicara baik-baik pada Bara.
Dan andai saja tangan Tamara tidak di ikat. Wanita itu pasti sudah merebut pisau pengupas buah itu dari tangan Bara dan akan langsung mem ba cok laki-laki yang sudah membuat suaminya itu menjadi lumpuh.
__ADS_1
"Sabar Tamara, yang harus kamu lakukan hanya berpura-pura baik padanya. Untuk saat ini saja," gumam Tamara membatin.
Dimana wanita itu berusaha menguatkan dirinya sendiri dan juga ia akan meyakinkan dirinya, bahwa ia akan mampu melewati ini semua.