
Mula-mula Tamara masih saja tidak yakin dan percaya dengan kalimat pengakuan yang keluar dari mulut Bara.
Namun, pada detik berikutnya tangan Tamara langsung saja terangkat dan menampar keras pipi Bara. Sesaat setelah wanita itu memutar rekaman cctv yang menunjukkan bahwa memang benar Bara lah laki-laki yang telah menodai dirinya.
Plaak!
Suara tamparan itu lagi-lagi terdengar sangat nyaring, di dalam ruangan yang berukuran 4x5 itu.
"Kau, ternyata adalah laki-laki ba ji ng an, Bara!" teriak Tamara dengan tubuh yang mulai gemetaran. "Kau ba ji ng an! Kau telah menodai diriku, di saat aku ini adalah istri orang!" Tamara semakin menjerit histeris setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Sungguh wanita itu tidak pernah menyangka kalau Bara yang ia kenal sebagai laki-laki baik. Malah Bara lah yang telah tega melakukan itu semua pada dirinya.
"Maafkan aku, Ara." Hanya kalimat itu saja yang mampu keluar dari bibir Bara, dan laki-laki itu juga tidak menghindar di saat Tamara menampar pipinya berulang-ulang kali. Karena ia tahu bahwa dirinya bersalah meskipun tidak sepenuhnya.
Sebab ini juga terjadi gara-gara Axel, sang sopir pribadi yang sekarang malah mendekam di jeruji besi. Atas tuduhan bahwa Axel selama ini telah memeras serta me le cehkan Liana. Wanita yang saat ini terus saja mengurung diri di kamar setelah di ceraikan oleh Demian.
"Apa kata maafmu bisa mengembalikan sel aput da raku? Apa bisa juga kau mengambil bayi harammu ini Bara, dengan kata maafmu itu? Katakan!"
"Ara, andai kau tahu aku melakukan ini semua demi menyelamatkan nyawamu. Karena kamu bisa lihat sendiri pe rang sang dengan dosis yang sangat tinggi, Axel campurkan kepada minukanmu. Sehingga membuatku tidak mempunyai pilihan lain sela–" Belum selesai kalimat Bara. Namun, Tamara sudah terlebih dahulu memotong kalimat laki-laki itu. Membuat kalimat Bara menggantung di udara.
"Cukup Bara! Lebih baik aku mati saja dari pada harus berzina denganmu, di saat aku ini sudah menikah!" Nafas Tamara naik turun, karena sungguh saat ini wanita itu benar-benar sangat marah dengan penjelasan yang ia dengar dari mulut sahabatnya itu. "Pantesan saja kau melarangku untuk menggugurkan bayi ini, toh ternyata ini maksudmu."
"Aku akan tanggung jawab Ara, asal kau jangan ada niat menggugurkan bayi ini." Bara ingin meraih tangan Tamara.
__ADS_1
Namun, wanita itu dengan sangat cepat menepis tangan laki-laki itu.
"Jangan gila! Kau pikir aku ini wanita seperti apa, Bara? Sehingga seenak jidatmu saja mengatakan itu semua padaku." Rasanya saat ini Tamara ingin menghilang saja sejenak dari muka bumi. Hanya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau balau setelah tahu siapa ayah dari bayi yang ada di dalam rahimnya saat ini. "Apa kau ingin menikahi wanita yang sudah bersuami? Dimana letak otakmu itu, Bara?"
"Ara, aku akan menjelaskan semuanya pada Demian, dengan barang bukti yang aku miliki pasti dia akan mengerti."
Bukannya merasa tenang Tamara malah semakin meradang, karena ia tidak tahu jalan pikiran laki-laki yang saat ini sedang bersamanya itu seperti apa.
"Lebih baik kau pergi saja dari sini, Bara! Dan jangan pernah tunjukkan lagi batang hidungmu itu di hadapanku. Karena aku ini sudah tidak sudi lagi memandang wajah biadab-mu itu!"
"Ara aku berhak atas bayi itu karena dia adalah darah dagingku, biarlah aku saja yang menanggung malu dan amarahmu, namun aku minta jangan malah kamu lampiaskan pada bayi yang tidak berdosa itu," ucap Bara yang terus saja berbicara lemah lembut meskipun Tamara membantak hingga meneriaki dirinya. Karena wanita itu benar-benar sangat kesal dan marah pada Bara.
"Pergi kau, brengsek! Dan aku beritahu padamu bahwa aku ini akan tetap menggugurkan kandungan ini. Sebelum perutku membesar!" pekik Tamara dengan hati yang semakin perih. Karena ia tidak menyangka bahwa ini semua akan terjadi pada dirinya. Ia tidak pernah menyangka juga kalau yang telah melakukan itu padanya teman yang selama ini selalu membantunya.
Bara mengutuk dirinya sendiri karena waktu itu ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memenuhi hasrat Tamara. Membuat laki-laki itu benar-benar sangat menyesal.
"Pergi kau, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku, dasar laki-laki ba ji ngan!"
Kini suara Tamara lagi-lagi terngiang-ngiang di dalam ingatan Bara, bagi rekaman suara yang terus saja di putar berkali-kali, membuatnya tidak fokus saat mengerjakan laporan yang akan ia serahkan pada sang Ayah.
"Akh, s*al ini semua gara-gara Axel, laki-laki bedebah itu telah membuat hubunganku dengan Ara menjadi berantakan begini. Pokoknya si brengsek itu tidak boleh keluar dari penjara akan aku pastikan itu." Bara terlihat meremas kertas yang ada di atas mejanya. Sambil terus saja mengumpat mengeluarkan kata-kata kotor.
__ADS_1
Dan tidak lama terlihat Hero masuk ke dalam ruangan laki-laki yang saat ini ekspresi wajah yang sangat datar begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Hero kemudian dengan takut-takut meletakkan asam jawa di depan Bara.
"Tuan, ini asam jawa yang Anda mau," ucap Hero dengan suara yang sangat pelan. Karena laki-laki itu merasa ada yang tidak beres dengan tuannya itu, dapat di lihat dari urat-urat tangan Bara yang menonjol di tambah dengan wajah masam tuannya itu.
"Buang! Aku sudah tidak menginginkannya!" bentak Bara dengan wajah yang semakin terlihat masam.
Mendengar itu Hero ingin rasanya mengutuk Bara menjadi seekor nyamuk biar ia bisa menepuk tuannya itu dengan satu kali tepukan. Karena bisa-bisanya Bara menyuruh dirinya membuang asam jawa itu, setelah Hero berusaha mati-matian mencari asam jawa yang di inginkan oleh Bara ke segala penjuru arah.
Lalu sekarang dengan mudah dan entangnya tuannya itu malah menyuruhnya untuk membuangnya. Sungguh Hero tidak menyangka bahwa Bara tidak mengharagi kerja kerasnya, hingga waktu Hero yang sangat berharga terbuang dengan sangat sia-sia. Jika ujung-ujungnya Bara malah tidak ingin memakan asam jawa itu.
"Buang Hero! Aku tidak mau memakannya!" Lagi-lagi suara Bara terdengar sangat melengking.
"Tuan, saya mencari ini dengan susah payah. Tapi kenapa setelah saya berhasil mendapatkannya Anda malah menyuruh saya membuangnya? Sungguh Anda tidak menghargai kerja keras saya Tuan." Hero membuang nafasnya dengan sangat kasar. "Anda benar-benar telah menguji kesabaran saya, Tuan."
Bara mendobrak mejanya hingga laptop yang ada di depannya terjatuh dengan layar persegi empat yang langsung saja pecah.
Carang!
"Aku membayarmu untuk bekerja Hero dan ini salah satu pekerjaanmu, itu artinya aku tidak menyuruhmu secara percuma-cuma saja!" teriak Bara yang kini menarik kerah baju asistennya itu. "Buang sekarang juga, sebelum kesabaranku habis, Hero!"
...****************...
__ADS_1