Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Demian Menemui Liana


__ADS_3

Rupanya Demian keluar dari dalam kamar Tamara hanya untuk menemui Liana. Dapat dilihat sekarang bahwa laki-laki itu sedang mengetuk pintu kamar wanita yang sedang hamil itu.


"Liana ini aku, Demian," ucap Demian pelan. Dan tidak berselang lama pintu kamar Liana terbuka. Dengan segera Demian menarik tangan wanita itu supaya masuk ke dalam kamar itu lagi.


"Mas, apa yang Mas lakukan?" tanya Liana saat Demian menarik pergelangan tangannya. "Mas," panggil Liana.


"Sstt, jangan kencang-kencang nanti ada orang yang tahu aku datang ke sini," kata Demian tanpa mau menjawab pertanyaan Liana.


Liana heran saat melihat mimik wajah Demian yang nampak sedikit berbeda. "Mas, ada apa sih? Apa Mas malam ini mau tidur di kamarku?" Rona wajah wanita hamil itu terlihat sangat jelas kalau ia merasa senang. Jika yang di tanyakan tadi di jawab iya oleh laki-laki yang juga adalah suaminya itu.

__ADS_1


"Jangan bahas itu ataupun menanyakan tentang itu dulu, Liana. Karena aku datang ke sini hanya mau meminta saranmu saja."


Wajah Liana yang tadi tampak ceria kini langsung saja berubah drastis. "Minta saran apa?!" tanya Liana ketus karena ia tiba-tiba saja merasa kesal dengan Demian. Karena tadi wanita itu sudah hampir akan tertidur. Namun, karena Demian ia terpaksa membuka matanya lagi demi membukakan pintu untuk suaminya itu.


"Ara minta anak," jawab Demian menunduk malu.


"Terus Mas ingin meminta, saranku mengenani itu?" Liana tidak habis pikir Demian rela datang ke kamarnya hanya untuk meminta sarannya saja. Mengenai Tamara yang ingin memiliki anak.


Liana menggeleng sambil berdekap tangan dan wanita hamil itu juga terlihat mengangkat kedua bahunya. Menandakan kalau ia tidak bisa membantu Demian.

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus aku lakukan Liana? Aku sangat takut jika Ara ingin meminta cerai dariku. Kalau dia tahu semua ini." Demian terlihat mengacak rambutnya dengan kasar. "Aku benar-benar tidak tahu, bahwa apa yang harus aku lakukan untuk saat ini." Putus asa, jelas itu yang dirasakan oleh Demian. Karena ia benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Padahal malam ini adalah malam pertamanya dengan Tamara setelah dua bulan lamanya ia menunggu moment-moment yang tidak akan pernah terlupakan oleh setiap pasangan suami dan istri.


"Mas lebih baik keluar saja dari kamarku, karena sepertinya aku tidak bisa membantu Mas. Di tambah aku merasa sudah sangat ngantuk." Liana terdengar malah mengusir laki-laki itu dari kamarnya. "Sana, Mas lebih baik pikirkan sendiri jalan keluarnya. Jangan tanya-tanya aku. Karena aku juga tidak tahu," ucap wanita hamil itu sambil berpura-pura menguap beberapa kali. Supaya Demian percaya kalau ia saat ini benar-benar ngantuk.


"Liana ayolah bantu aku kali ini saja," kata Demian penuh harap. "Bantu aku mencari jalan keluarnya, biar Ara bisa hamil meskipun aku sebagai suaminya malah mandul," lanjut Demian.


"Mas, aku benar-benar tidak bisa membantumu," timpal Liana.


"Apapun itu aku pasti akan setuju, jika itu akan berhasil membuat Ara hamil." Demian saat ini terlihat sangat bersungguh-sungguh saat mengatakan itu pada Liana. "Aku mau, Ara hamil meskipun itu bukan darah dagingku," sambung Demian.

__ADS_1


Tidak lama tiba-tiba saja otak licik Liana langsung saja menemukan sinyal. "Bagaimana kalau Mas meminta bantuan saja pada Axel?"


Demian mengerutkan alis saat nama Axel dibawa-bawa dalam percakapannya dengan Liana.


__ADS_2