
Satu bulan berlalu dengan sangat cepat, selama itu pula Tamara sama sekali tidak bisa menemukan apa-apa meskipun selama ini ia terus mencari akan kebenaran itu. Tamara juga sudah pergi ke rumah sakit secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun hanya untuk mengecek apakah dirinya masih perawan atau tidak.
Namun, jawaban yang di berikan oleh salah satu dokter di rumah sakit itu hampir saja membut Tamara menjadi wanita yang merasa paling hina di muka bumi ini. Bagimana tidak? Di saat sang suami tidak pernah menyentuhnya dan juga sejak kejadian itu Demian malah pergi ke luar Negeri. Kali ini laki-laki itu benar-benar pergi karena Demian harus mengurus anak prusahaannya. Membuat Tamara terus saja menebak-nebak setiap hari bahwa yang melakukan itu semua pada dirinya adalah makhluk halus.
Karena sampai detik ini pun, Tamara tidak bisa mencurigai siapapun membuat wanita itu setiap hari lebih banyak melamun. Hanya untuk memikirkan siapa yang sudah tega merenggut kesuciannya.
"Bagimana kalau sampai Mas Demian tahu, kalau aku tidak perawan lagi? Apa yang akan Mas Demian lakukan padaku? Apakah dia akan langsung menceraikan aku?" Ketika Tamara terus saja berbicara pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja kepala wanita itu terasa sangat pusing dan ia juga merasa sangat mual. "Apa ini? Kenapa kepalaku mendadak merasa sangat pusing dan perutku seperti sedang di aduk-aduk?" Tamara memegang pelipisnya, ia juga mencoba untuk memijatnya secara perlahan. Wanita itu juga terlihat memegang perutnya.
Namun, detik berikutnya Tamara langsung saja berlari menuju toilet yang ada di toko bajunya. Karena saat ini Tamara merasa kalau makanan yang tadi ia makan akan keluar lagi. Membuat wanita itu segera berlari secepat kilat, meskipun kepalanya kian menjadi-jadi bertambah pusing.
"Mbak Ara kenapa?" tanya salah satu karyawan yang bekerja di toko itu. Tatkala melihat wajah Tamara yang sedang berlari begitu pucat pasi. "Mbak, Mbak Ara kenapa? Kalau Mbak sakit biar saya hubungi Axel untuk menjemput Anda," kata Susi, karyawan yang sudah bekerja lama di sana. Susi juga terlihat mengikuti Tamara dari belakang. Karena ia khawatir kalau memang wanita itu benar-benar sedang sakit.
"Biar saya hubungi Axel sekarang Mb–"
"Tidak usah Susi, aku baik-baik saja," potong Tamara sambil memuntahkan seluruh isi perutnya. Karena ia saat ini merasa kalau perutnya sedang benar-benar di aduk-aduk.
Membuat Tamara tidak bisa lagi mendengar apa saja yang di katakan oleh Susi. Sebab Tamara sekarang terus saja muntah sehingga wanita itu sampai merasa kalau tenaganya menjadi terkuras. Membuat wanita itu terlihat tidak mampu lagi menahan tubuhnya. Dan pada detik berikutnya Tamara yang merasa lemas tubuhnya malah luruh ke lantai toilet yang sangat dingin itu.
"Mbak Ara, ya Ampun. Mbak benar-benar sakit." Susi lalu bergegas untuk segera membantu Tamara dengan cara mengelus punggung wanita itu. Susi juga terlihat meraba kening Tamara.
__ADS_1
"Susi, kepalaku terasa sangat pusing dan aku juga mual," ucap Tamara lirih. Sebab mata wanita itu mulai terlihat layu. Saking tenaganya tadi sudah terkuras habis hanya untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Apa saya harus menghubungi Axel?" tanya Susi sekali lagi hanya untuk sekedar memastikan. Menginggat Susi tahu kalau saat ini Demian masih berada di luar Negeri. "Tapi tunggu, kalau saya menghubungi Axel pasti dia tidak akan cepat sampai di sini. Itu artinya keadaan Mbak pasti akan memburuk. Kalau begitu biar saya saja yang akan membawa Mbak Ara ke rumah sakit." Saat Susi akan membantu Tamara untuk berdiri. Terlihat Tamara sudah sangat lemas dan mata wanita itu kini sudah terpenjam sempurna, membuat Susi yang panik dan tidak tahu harus menolong Tamara dengan cara apa. langsung saja berteriak meminta tolong dengan sangat keras.
"Tolong, tolong ... tolong, seseorang siapapun tolong Mbak Ara!" teriak Susi sambil berusaha menyeret tubuh Tamara keluar dari dalam toilet itu. "Tolong, seseorang tolong Mbak Ara." Kebetulan saat ini Susi dan Tamara hanya menjaga toko itu berdua di karenakan karyawan yang lain belum pada datang. Oleh sebab itu, Susi terus saja meminta tolong berharap supaya ada yang mendengarnya.
"Tolong Mbak Ara, ayolah saya mohon seseorang tolong ...." Susi terus saja menyeret tubuh Tamara yang sedikit berisi dengan bersusah payah. "Mbak Ara bangun, buka mata Mbak sekarang." Tidak ada pilihan lain sekarang Susi terlihat menepuk-nepuk pipi Tamara dengan sangat pelan. Ia berharap kalau saja Tamara akan membuka mata dan sadar.
Namun, sampai beberapa detik Tamara bukannya sadar. Kini wajah wanita itu semakin terlihat sangat pucat pasi.
"Ya Tuhan, wajah Mbak Ara semakin pu–" Belum selesai kalimat Susi.
"Kamu jaga toko saja, biar aku yang
akan membawa Ara ke rumah sakit," ucap laki-laki bertubuh kekar itu.
"Tapi Tuan ...."
"Percaya sama aku Susi, karena kamu sudah mengenalku." Bara lalu pergi begitu saja sambil membawa tubuh Tamara di gendongannya.
__ADS_1
Iya, ternyata rupanya laki-laki itu adalah Bara, laki-laki yang tadinya mau membelikan pakaian untuk keponakannya seperti biasa. Tapi Bara malah mendengar suara Susi yang meminta tolong. Membuat laki-laki itu tanpa pikir panjang lagsung saja mencari arah sumber suara itu. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama Bara bisa melihat Tamara yang sudah tergeletak pingsan di dekat toilet membuatnya langsung saja meolong wanita yang saat ini sedang tidak sadarkan diri itu.
***
Bara tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut dokter yang sudah menangani Tamara. Membuat laki-laki itu hanya melongo karena ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan, bukankah Anda harus senang mendengar kabar ini? Lalu kenapa Anda malah terlihat sangat shock sekali?" tanya dokter itu saat melihat Bara yang hanya diam saja.
Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Bara. Sebab laki-laki itu saat ini benar-benar sangat kaget mendengar kabar yang pasti sebentar lagi akan membawanya pada mimpi buruk yang laki-laki itu tidak pernah bayangkan sama sekali.
Hingga detik berikutnya Bara terdengar mulai membuka suara.
"Apa Anda tidak salah dalam memeriksanya 'kan, Dok?"
"Tidak Tuan, saya tidak pernah salah karena saya seorang Dokter wanita. Dimana Anda sendiri tahu kalau wanita tidak pernah salah," celetuk dokter itu menjawab dengan cara sedikit bercanda gurau. Karena ia melihat wajah Bara yang dari tadi terlihat tegang.
"Dok, saya serius," ucap Bara dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
"Saya juga dua rius Tuan, kalau Anda masih ragu. Kita tunggu saja Nyonya itu bangun dan akan saya suruh cek pakai air urin. Bagaimana apa Anda setuju? Karena pasti hanya dengan cara begitu Anda tidak akan meragukan saya lagi, Tuan."
__ADS_1