Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Perubahan yang Sangat Derastis


__ADS_3

Tanpa mengetuk pintu Bara langsung saja nyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah Demian, karena laki-laki itu sudah tahu kalau di rumah itu saat ini hanya ada Tamara sebab sopir dan pekerja rumah tangga yang ada di sana adalah orang yang Bara sengaja sewa untuk memantau setiap gerak gerik Tamara.


Membuat Bara bisa leluasa masuk ke dalam rumah itu tanpa ada kendala sedikitpun. Kapanpun laki-laki itu mau datang selama Demian tidak ada di rumah itu.


"Tuan, Nyonya Ara sudah tidur," ucap Inem, sang asisten rumah tangga yang bekerja di sana. Wanita paruh baya itu berusaha memberitahu tuannya kalau Tamara sudah tidur. "Tuan, saya mohon jangan bangunkan Nyonya Ara kasihan dia. Karena seharian ini dia terus saja menangis sejak pulang dari rumah sakit," tambah Inem supaya Bara mau menghentikan langkah kaki serta niatnya untuk menemui Tamara. Karena jujur saja pekerja rumah tangga itu merasa sangat kasihan dengan wanita yang sedang hamil itu.


"Bi Inem tidur saja, jangan menghalangiku untuk bertemu dengan Ara," kata Bara dingin. Sebab laki-laki itu sekarang benar-benar ingin bertemu dengan wanita yang selalu diidam-idamkan itu.


"Tapi Tuan, kasihan Nyonya Ara." Inem masih saja berusaha untuk membujuk Bara supaya laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Tamara.


Namun, seribu kali sayang rupanya Bara sama sekali tidak mau mendengar kalimat Inem. Justru sekarang laki-laki itu terlihat semakin mempercepat langkah kakinya supaya bisa cepat sampai di kamar Tamara.


"Tuan, saya mohon ...."


"Kembali ke kamarmu, Bi. Biarkan aku menemui wanita yang saat ini sangat keras kepala itu." Bara rupanya masih tetap dengan pendiriannya, dimana ia merasa harus tetap bertemu dengan wanita yang selalu saja membuatnya tidur tidak nyenyak. Dan membuatnya merasa gelisah sebab Tamara yang ingin melenyapkan bayi yang masih di dalam perut wanita itu.


"Bi, benar kata Tuan Bara. Bibi lebih baik tidur saja," kata Hero sambil menahan tangan Inem, wanita paruh baya yang Bara temukan di pinggir jalan tepat beberapa tahun yang lalu.


"Bawa saja Bi Inem ke kamarnya Her, bila perlu kau gendong saja dia. Jangan sampai membuat tensi-ku yang rendah ini malah menjadi naik." Setelah mengatakan itu Bara langsung saja membuka pintu kamar Tamara, yang kebetulan pintu kamar wanita itu tidak di kunci.


Sehingga membuat Bara sedikit mengangkat sedikit sudut bibirnya, karena laki-laki itu merasa kalau Tamara pasti sengaja tidak mengunci pintu kamarnya.


"Bawa Bi Inem, Her, karena aku harus berbicara empat mata dengan Ara." Sesaat Bara sempat terdiam melihat Tamara yang sepertinya memang benar-benar sedang terlelap. Karena posisi wanita itu saat ini meringkuk seperti anak kucing yang sedang membutuhkan kehangatan.

__ADS_1


"Tuan Bara, saya mohon jangan membangunkan Nyonya Ara." Saat Inem mengatakan itu, Bara dengan cepat menutup pintu kamar Tamara dan tidak lupa laki-laki itu menguncinya dari dalam. "Tuan, jangan lakukan apapun pada Nyonya Ara, saya mohon ...."


"Bi, biarkan saja Tuan Bara melakukan apa saja pada Nyonya Ara, sekarang Bibi tidur saja karena ini juga sudah hampir pu kul 00,00." Hero rupanya memilih untuk mencari aman saja, daripada dirinya yang nanti malah menjadi korban kemarahan Bara. Hanya gara-gara Inem yang tetap ngotot untuk melarang Bara supaya tidak mengganggu Tamara yang mungkin saja sudah memasuki alam bawah sadar.


"Tuan Hero, kasihan Nyonya Ara." Lirih Inem di saat wanita paruh baya itu mendengar suara pintu itu dikunci dari dalam.


"Tidak akan ada yang terjadi dengan Nyonya Ara, Bi, saya berani jamin akan hal itu. Karena Tuan Bara tidak akan mungkin menyakiti wanita yang sangat dia cintai itu." Hero berusaha meyakinkan Inem, supaya tidak berpikiran buruk pada Bara. "Ayo, sekarang kita turun saja. Nanti kalau Tuan Bara sudah keluar baru Bibi bisa mengecek keadaan Nyonya Ara."


Inem menggeleng. "Saya akan tetap di sini Tuan, karena saya tidak mau meninggalkan Nyonya Ara sendirian di saat Tuan Bara sedang bersamanya di dalam."


Hero menghela nafas karena rupanya Inem tidak semudah itu bisa mendengar kalimatnya, membuat laki-laki itu tidak punya pilihan lain dan pada akhirnya Hero juga tetap berada di sana.


"Baiklah, kita akan tetap di sini. Tapi saya harap Bibi tetap diam saja jika nanti Bi Inem mendengar suara-suara yang tidak enak di dengar," ucap Hero sambil bersandar pada dinding tembok.


"Tidak akan, karena Tuan Bara masih memiliki akal sehat dan tidak akan mungkin dia berbuat nekat," jawab Hero santai. Tanpa ada raut panik sedikitpun pada wajah laki-laki itu.


Beda halnya dengan mimik wajah Inem yang sekarang terlihat sangat cemas, karena wanita paruh baya itu sangat takut jika saja Bara malah melakukan hal yang di luar dugaannya.


"Usahakan Bibi harus menutup mata dan telinga," ucap Hero sambil menatap Inem.


***


Tamara tiba-tiba saja terbangun karena wanita itu merasa kalau saat ini perutnya yang ada sedikit benjolan ada yang mengelus-ngelusnya dengan sangat lembut. Dan pada saat Tamara membuka mata detik itu juga wanita itu langsung saja menjerit karena ia melihat Bara sudah berbaring di sebelahnya.

__ADS_1


"Aaaa ... apa yang kau lakukan di sini?!" Tamara menjerit karena ia benar-benar sangat kaget di buat oleh laki-laki yang sangat Tamara benci. "Keluar kau, Bara!" teriak Tamara dengan suara yang sangat lantang.


Sedangkan Bara terlihat masih saja betah berbaring di atas ranjang itu, meskipun Tamara sudah langsung turun dari atas kasur, di saat wanita itu


tadi berteriak pada dirinya.


"Kecilkan sedikit nada suaramu, Ara. Aku ini tidak tuli, harus berapa kali aku ini memberitahumu, hm?" Bara tetap terlihat tanang. Meskipun Tamara menatapnya sinis.


"Keluar kau! Dasar ba ji ngan ...!"


Bara bangun dan segera menghampiri Tamara yang terus saja mundur beberapa langkah.


"Kenapa ada seorang ibu seegois kamu, Ara? Di saat orang lain ingin memiliki anak tapi kamu malah mau melenyapkannya. Dimana Ara yang dulu ... yang aku kenal lemah lembut dan berhati malikat itu?"


"Kau memang idiot Bara! Mana ada seorang wanita yang mau menampung benih di rahimnya di saat suaminya sendiri mandul! Apa kau tidak tahu akan akal itu, Bara?!"


"Minta saja cerai dengan laki-laki yang tidak bisa memberikanmu keturunan itu. Dan menikahlah denganku karena rumah tangga tanpa ada sosok malikat kecil di dalamnya pasti tidak akan bahagia." Bara tidak tahu saja kalimatnya malah membuat hati Tamara merasa sakit.


"Aku akan membunuh bayi harammu ini, Bara!" pekik Tamara yang kemudian mengambil pisu pengupas buah dari atas nakas. "Akan aku lenyapkan bayimu ini dengan tanganku sendiri!" sambung Tamara berteriak. Sambil mengarahkan pisau itu ke perutnya.


Bara yang melihat itu dengan langkah lebar menghampiri Tamara, dan dengan gerakan cepat ia mengambil pisau itu dari tangan Tamara dengan sangat mudah.


"Jangan membuat iblis pada diri ini bangun, Ara!" bentak Bara yang sekarang terlihat malah mencengkram dagu wanita yang sangat ia cintai itu. "Jika kau melakukan ini lagi, maka akan aku pastikan nyawa Demian ada di tanganku!" Bara sekarang terlihat tersenyum sangat mengerikan.

__ADS_1


Membuat Tamara tiba-tiba saja malah menjadi takut karena perubahan Bara yang sangat derastis.


__ADS_2