Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Demian Marah


__ADS_3

"Ayo Nyonya Anda pakai ini saja, biar lebih jelas lagi," ucap Ikram yang mengulangi kalimatnya. Saat dokter itu hanya melihat Tamara menggeleng.


"Tidak, karena saya tidak mungkin hamil." Penolakan itu terus saja keluar dari mulut Tamara.


Sedangkan Demian yang baru saja masuk benar-benar sangat marah ketika melihat Ikram memberikan Tamara testpack itu. Karena laki-laki itu merasa bahwa dokter kepercayaan keluarganya itu sedang mengejek dirinya saat ini.


Buuukk!!


Satu bogem mentah mendapat di pipi dokter itu sehingga membuat Ikram sampai terhuyung.


"Mas!" Tamara menjerit karena kaget. Sebab wanita itu tidak pernah menyangka Demian malah akan memu kul dokter itu tanpa aba-aba.


"Tuan, apa yang Anda lakukan?" Ikram memegang pipi kanannya yang tadi mendapat bogem mentah dari Demian. Karena dokter itu merasa saat ini pipinya sakit gara-gara ulah Demian.


"Apa-apaan kau Ikram? Bisa-bisanya kau memberikan istriku testpack. Aku ini hanya menyuruhmu memeriksanya saja bukan malah memberikannya testpack. Sungguh kau telah menghinaku secara terang-terangan Dokter Ikram!" geram Demian. "Apa kau tidak tahu, bahwa aku ini laki-laki mandul? Apa kau tidak tahu Dokter bo doh akan hal itu?!"


Mendengar itu Ikram malah terlihat mundur beberapa langkah, karena ia baru kali ini melihat Demian begitu marah padanya. Dan jujur saja dokter itu tidak tahu kalau Demian adalah laki-laki yang mandul.


"Kenapa kamu kaget, Dokter setelah mendengar ini semua?"

__ADS_1


"Tidak mungkin, Anda mandul Tuan. Karena tidak ada keturunan Anda yang seperti itu." Ikram rupanya tidak yakin dan percaya dengan kalimat yang dilontarkan oleh Damian.


"Aku mandul! Dan bisa-bisa kau malah memberikan Ara testpack. Dasar bedebah! Kau mau menghinaku secara terang-terangan dengan melakukan ini semua!" bentak Demian yang sangat marah. "Sekarang kau lebih baik pergi saja dari rumahku ini, dan jangan pernah injakkan kaki. Karena aku merasa sangat muak melihat wajah bo dohmu itu, Dokter Ikram yang terhormat!" Demian terlihat mendorong dokter yang tidak tahu apa-apa itu.


"Tuan, saya ingin membuktikan kepada Anda bahwa saat ini Nyonya Ara sedang ha–"


"Cukup! Dan kau lebih baik segera keluar saja dari sini, sebelum aku memberikan Dokter bogem mentah lagi, Enyahlah dari hadapanku!"


Ikram yang takut kalau Demian akan melakukan hal yang lebih dari pada yang tadi. Dengan gerakan cepat dokter itu mengambil tasnya yang tadi sempat jatuh di lantai.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, dan ini berikan obat pereda nyeri untuk Nyonya Ara." Setelah mengatakan itu Ikram langsung keluar dari kamar itu dengan sangat buru-buru. Dan dokter itu juga tidak berani membuka suara meskipun yang akan ia sampaikan hal yang sangat penting.


"Enyahlah! Dan jangan pernah datang kesini lagi. Kalau kau hanya ingin menghina laki-laki yang mandul ini," ucap Demian.


"Sudah Sayang, lebih baik kamu istirahat saja. Biar Mas carikan kamu Dokter lain. Bukan malah seperti Ikram.


Tamara menggeleng. "Mas, tadi Dokter Ikram sudah memberikanku obat. Jadi, itu saja yang aku minum toh obatnya pasti akan sama saja 'kan?" Tamara menjadi bisa bernafas sedikit lega karena dokter itu sudah pergi dari sana.


Namun, tidak bisa di pungkiri Tamara merasa kasihan pada Ikram karena Demian yang sempat memberikan dokter itu bogem mentah.

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan obat yang diberikan oleh dokter s*alan itu?"


"Mas, tidak ada alasanku untuk tidak yakin, karena Dokter Ikram pasti memberikanku obat yang benar," jawab Tamara yakin. Supaya Demian tidak memanggilkannya dokter lain ataupun mengajaknya ke rumah sakit.


Karena jika itu terjadi, pasti semuanya akan benar-benar terbongkar. Dimana Tamara akan ketahuan kalau wanita itu memang benar-benar sedang hamil.


"Mas tidak yakin Sayang, bisa saja obat itu salah." Demian memungut obat yang tadi berserakan.


"Tidak Mas, aku minum itu saja," timbal Tamara.


Demian yang masih merasa kesal dengan Ikram hanya bisa mengangguk saja. Sebab tidak mungkin ia juga akan membuang obat itu.


"Ya sudah, kalau begitu Mas pergi sebentar karena Mas ada urusan sedikit di luar." Tanpa menunggu balasan dari sang istri, Demian sudah terlebih dahulu pergi dari sana.


Tamara membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja, tanpa mencegahnya karena ia tahu mungkin saja Demian mau menenangkan pikiran sejenak. Mengingat Demian kalau sudah marah-marah pasti akan berusaha menenangkan diri.


Membuat Tamara hanya bisa memaklumi akan hal itu. Ia juga merasa menjadi semakin takut jika begini saja Demian sudah mengamuk. Apalagi nanti jika laki-laki itu tahu tentang kebenaran Tamara yang berbadan dua.


"Sepertinya, aku harus bergerak lebih cepat lagi. Supaya Mas Demian tidak akan benar-benar tahu tentang keadaanku saat ini, pokoknya aku ini harus pandai-pandai dalam hal menyembunyikan semua ini," kata Tamara pada dirinya sendiri. Suara wanita itu juga terdengar sangat lirih saat ia merasa harus terus berpura-pura berbohong dalam hal seperti ini.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2