Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Menyusun Rencana


__ADS_3

Setelah lama berdiskusi akhirnya wanita hamil itu setuju kalau ia akan membantu Axel untuk mendapatkan Tamara.


"Deal! Kita akan menjalankan misi ini ketika Demian pulang nanti," kata Axel. Setelah laki-laki itu berbicara panjang lebar pada Liana.


"Apa kau yakin rencana kita ini akan berhasil?"


"Kenapa kau malah meragukanku sekarang? Bukankah selama ini apa yang kita rencanakan selalu berhasil? Lalu kenapa sekarang kau malah tidak yakin?" Axel terlihat menaik turunkan alisnya.


"Tapi aku benar-benat tidak yakin kalau semua ini akan berhasil." Lagi-lagi Liana malah meragukan Axel. "Jika gagal, bagimana?"


Axel yang bersandar pada tembok menatap Liana. "Kau hanya perlu menuruti apa yang aku katakan, dengan begitu semuanya akan berjalan mulus tanpa ada hambatan seperti yang kau takutkan," jawab Axel yang berusaha meyakinkan Liana. "Pokoknya, kau jangan pernah ceroboh. Karena jika itu terjadi maka semuanya akan benar-benar gagal."


"Oke, kali ini aku akan menuruti permainanmu, Axel, dan aku harap kau jangan pernah mengecewakan aku, dan satu lagi tetaplah bersikap seperti orang yang tidak kenal denganku."


"Selama jatahku lancar maka semuanya akan aman terkendali," timpal Axel sambil tersemyum licik.

__ADS_1


"Jika bukan karena Demian, maka aku tidak akan sudi di sentuh olehmu, Axel!" gerutu Liana sambil memonyongkan bibirnya.


Ternyata salah satu syarat itu adalah Axel yang akan menjadikan Liana sebagi pemuas nafsu.


"Menurutlah jika ingin semua ini benar-benar berjalan dengan lancar."


Saat Axel dan Liana masih saja membahas cara memisahkan Demian dengan Tamara tiba-tiba saja ponsel Axel bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Demian meneleponku, mungkin saja dia mau menayakan tentang Ara," kata Axel sebelum mengangkat panggilan telepon dari Demian. "Aku angkat dulu, kau jangan bersuara," ucap Axel memperingatai Liana. "Suapaya, Demian yakin kalau aku ini sedang menunggu Ara di acara reunian itu."


"Angkat saja, nanti keburu mati."


"Axel, apa kamu tahu istriku ada dimana saat ini?" tanya Demian saat Axel sudah mengangkat panggilan itu.


"Halo, Tuan, saat ini Nyonya Tamara sedang ada di acara reuniannya," jawab Axel.

__ADS_1


"Lalu kenapa ponselnya tidak aktif?"


"Mungkin saja, Nyonya Ara takut di ganggu saat bersama teman-temannya, secara ini acara reuniannya yang pertama, Tuan. Saya harap Anda mengerti akan hal itu."


"Ya sudah, nanti kalau dia pulang suruh


langsung menghubungi saya, Axel," timpal Demian yang kali ini mau mengerti.


"Pasti Tuan, kalau begitu saya mau menjemput Nyonya Ara dulu." Setelah mengatakan itu Axel memutukan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Apa kata kak Demian? Apa dia mencariku?"


"Mimpi, Demian hanya menanyakan tentang keberadaan Ara," jawab Axel jujur. "Cintamu sepertinya benar-benar bertepuk sebelah tangan, Liana. Dimana hanya kau yang mencintai Demian sedangkan laki-laki itu tidak sama sekali," sambung Axel.


"Kak Demian akan mencintaiku seiring dengan berjalannya waktu, aku yakin akan hal itu."

__ADS_1


Axel terkekeh mendengar kalimat Liana. "Apa kau yakin bayi di dalam perutmu itu akan Demian akui sebagai darah dagingnya?"


"Aku akan membuatnya mengakuinya, Axel, karena anak ini yang akan membawa keberuntungan pada diriku," jawab Liana sambil mengelus perutnya yang masih saja datar. "Meski kau adalah, Ayah dari bayi ini, tapi aku tidak memepermasalahkan itu semua. Yang terpenting aku bisa menikah dengan kak Demian."


__ADS_2