
Di hotel tepat di pinggir kota, dua insan yang sedang bercocok tanam terlihat menikmati apa yang mereka lakukan saat ini, sehingga detik berikutnya sang laki-laki yang dari tadi memimpin permainan terlihat segera turun dari atas tubuh wanita itu.
"Ada apa? Kenapa Mas malah turun? Aku belum sampai puncak lho, Mas." Raut wajah Liana tiba-tiba saja malah berubah menjadi masam, saat Demian menghentikan permainan yang tadi susah payah wanita itu wujudkan dengan segala trik liciknya.
"Maaf Liana, aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku," kata Demian yang saat ini sedang berusaha mencari alasan yang tepat. Supaya Liana tidak curiga pada dirinya. "Mas sedikit merasa mual, apa gara-gara tadi kita yang mandi malam-malam begini, jadi Mas masuk angin?"
Liana malah menatap Demian intens. "Jangan aneh-aneh, ayo lanjutkan lagi aku belum puas, Mas." Wanita gatal itu terlihat menarik lengan Demian. "Ayo Mas, malam ini adalah malam pertama kita maka Mas harus membuatku benar-benar puas, bila perlu sampai pagi."
Demian bukannya menuruti permintaan Liana, laki-laki itu malah memilih untuk memugut pakaiannya dan segera pergi ke kamar mandi, karena entah mengapa bayangan Tamara malah muncul di plupuk mata Demian seolah-olah seperti rekaman ulang yang menyebabkan laki-laki itu malah menjadi tidak berselera meng gauli Liana lagi.
"Mas, Mas Demian," panggil Liana yang sekarang malah turun dari atas ranjang. Wanita itu juga terlihat segera menyusul Demian ke kamar mandi. "Mas, apa Mas mau bermain di kamar mandi?" tanya wanita m*sum itu, di saat tiba-tiba saja pikiran liarnya malah semakin menjadi-jadi. Dimana Liana saat ini sedang sangat haus meneguk manisnya buah-buahan hasil bercocok tanam ketika hasratnya sudah terpenuhi.
__ADS_1
Namun, sangat disayangkan sekali Demian yang akan di ajak malah terlihat mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam. Saat laki-laki itu tahu kalau Liana pasti akan menyusulnya untuk ikut serta masuk ke dalam sana.
"Mas, kenapa malah dikunci? Ayo buka, jangan seperti ini. Masa iya, suami istri seperti kita harus kunci-kuncian seperti ini," kata Liana sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. "Mas Demian, jangan begini kamu lama-lama kok buat aku kesal ya." Liana malah semakin terdengar menggedor pintu itu dengan sangat keras. "Mas Demian!" seru wanita itu.
Sedangkan Demian yang berada di dalam kamar mandi laki-laki itu sedang memikirkan Tamara, karena entah mengapa Demian tiba-tiba saja menyesali perbuatannya yang begitu tega pada wanita malang yang saat ini masih saja mengamuk, dan mungkin saja laki-laki itu saat ini juga sedang mengingat masa-masa dirinya dan Tamara mulai dari berpacaran sehingga menikah. Namun, saat ini status mereka sudah bukan siapa-siapa lagi alias sudah menjadi mantan.
"Liana, Mas sedang tidak enak badan. Besok malam saja kita lanjutkan," kata Demian yang tiba-tiba saja membuka suara setelah tadi ia sempat terdiam. "Kamu bisa tidur duluan, dan untuk malam ini Mas benar-benar minta maaf padamu."
Demian malah diam saja, karena laki-laki itu merasa bahwa berbicara dengan Liana saat ini sama sekali tidak ada guananya. Sehingga membuat Demian malah diam-diam bermain solo di dalam sana sambil membayangkan Tamara, karena bagi laki-laki itu ia merasa harus melakukan itu semua disaat adik kecilnya malah bangun ketika Demian mengingat setiap lekuk tubuh mantan istirinya itu.
Namun, tadi saat Demian bersama Liana, tongkat saktinya malah menjadi lembek setelah mengingat wajah Tamara. Sehingga membuat Demian merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.
__ADS_1
***
Terlihat saat ini Liana memarahi Kinanti saat pagi menjelang karena rupanya Demian tadi malam sama sekali tidak mau keluar dari kamar mandi, sehingga membuat wanita itu malah kesal pada sang ibu.
"Kamu seharusnya bisa merayu Demian, karena Ibu yakin dengan cara seperti itu Demian akan bisa menerimamu seperti dia yang menerima Ara." Kinanti tetap berusaha tenang meski Liana terus saja menyalahkannya atas semua ini.
"Ini salah Ibu pokoknya, andai saja ibu melenyapkan wanita s*alan itu pasti Mas Demian tidak akan terbayang-bayang wajah jelak wanita yang telah membuat suamiku itu berpaling." Disini Liana malah berlalak bahwa dirinyalah yang merasa tersakiti oleh Tamara, padahal nyata-nyata dirinya yang telah merebut apa yang bukan miliknya. "Ibu, aku tidak mau tahu temukan wanita itu lalu singkirkan dia, karena jika dia masih hidup maka aku tidak akan bisa hidup bahagia." Egois itulah Liana yang malah mau menang sendiri.
"Baik, Ibu akan mencarinya. Tapi kamu janji jangan ngambek lagi seperti ini." Kinanti terlihat menepuk pundak Liana dengan pelan beberapa kali. "Sekarang, panggil suamimu, supaya dia bisa ikut sarapan bersama Ibu dan juga kamu disini."
"Gagal total malam pertamaku!" desis Liana sambil melangkahkan kakinya karena ia ingin memanggil Demian. "Jika bukan karena wanita itu, pasti sekarang aku adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi ini." Liana terus saja berbicara pada dirinya sendiri meskipun ia sudah menaiki anak tangga, karena wanita itu sekarang benar-benar merasa semakin membenci Tamara.
__ADS_1