
Tidak habis-habisnya Liana merasa kesal sendiri dengan kelakuan Demian yang seolah-olah tidak menganggapnya sebagai istrinya. Dan sekarang wanita hamil itu terlihat sedang mengintip di balik tembok setelah Renata dan Aploso pulang, rupanya mertuanya itu tidak mau menginap di rumah Demian. Karena besok pagi pasutri itu akan pergi ke luar Negeri.
"Pokoknya, aku harus tetap disini, biar bisa tahu kak Demian benar-benar tidur di kamarnya atau pergi ke kamar Ara, wanita yang harus aku singkiran itu," gumam Liana pelan. Dan ia tidak sadar saja kalau saat ini ada Axel di belakangnya. Sehingga laki-laki itu bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Liana. "Aku pokoknya harus mencari cara supaya Ara diceraikan, biar aku sendiri yang akan menjadi Nyonya Demian, tanpa ada wanita s*alan itu," desis wanita hamil itu sambil tersenyum licik. "Kau harus aku singkirkan Tamara, mau bagaimanapun caranya, aku tidak peduli itu yang terpenting di rumah ini yang harus jadi nyonya cuma aku seorang," sambung Liana yang masih saja belum sadar kalau saat ini Axel ada di belakangnya.
"Kau jangan mimpi Liana, karena mau sampai kapanpun itu Tuan Demian tidak akan pernah mau menceraikan Nyonya Ara, karena yang akan di ceriakan itu adalah kau, setelah anak hasil adu gambrut kita itu keluar," ucap Axel yang sudah merasa bosan berdiri terus di belakang Liana. Di saat mulut pedas laki-laki itu sudah sangat gatal ingin membalas setiap kalimat-kalimat yang tadi di lontarkan oleh Liana, wanita yang rela membayarnya hanya untuk menanam benih di rahim wanita yang dulu sempat menjadi kekasih hatinya itu.
"Kau seperti se tan! Biasa ada di mana-mana!" ketus Liana yang sekarang malah berbalik dan bisa melihat dengan jelas. Laki-laki yang tidak kalah gantengnya dibandingkan dengan Demian itu. Hanya saja Axel kalah dengan good rekening bukan good looking. "Kau juga selalu ikut campur, dasar tidak tahu diri!"
"Disini kau lah yang tidak tahu diri Liana, sudah tahu Tuan Demian cinta mati dengan Nyonya Ara, tapi kau datang-datang malah mau merusak kebahagiaan mereka." Axel akan selalu menyebut Tuan dan Nyonya jika berada di rumah Demian. Karena ia tahu di rumah itu pasti sudah dilengkapi dengan cctv. "Semoga kau cepat-cepat sadar diri Liana, bila perlu sering-seringlah bercermin," lanjut Axel sambil terkekeh karena laki-laki itu merasa geli sendiri saat menyuruh ibu hamil itu sering-sering bercermin.
"Kenapa tidak kau saja yang bercermin Axel? Supaya kau bisa melihat wajah kau yang sangat-sangat menyebalkan itu. Sudah jelek di kasih nyawa pula." Liana kemudian terlihat ingin pergi dari sana tapi Axel menahan tangannya. "Lepaskan, jangan pegang aku dengan tangan kau yang kotor itu Axel!" Liana menghempaskan tangan laki-laki itu dengan sangat kasar.
"Tidak akan aku lepaskan, sebelum kau memberikanku uang," kata Axel tiba-tiba dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Liana mendorong dada laki-laki itu. "S*lan kau, Axel! Kau pikir aku ini emakmu, yang setiap kali kau minta duit akan selalu aku kasih. Jangan mimpi!"
Axel lagi-lagi terlihat mencengkram pergelangan tangan wanita hamil itu. "Dengar Liana, jika kau tidak memberikan apa yang aku mau. Maka bersiap-siaplah kau angkat kaki dari rumah ini." Hanya itu kalimat ancaman yang Axel katakan untuk Liana.
"Cuih!" Liana membuang jigongnya ke sembarang arah. "Ancamanmu sangat basi!"
"Kau tidak takut?"
"Tidak!" jawab Liana dengan suara sedikit ketus.
"Benarkah? Kalau begitu malam ini aku akan menunjukkannya langsung video kita itu pada Tuan Demian," bisik Axel sambil mengedipkan sebelah matanya. "Aku harap kau tidak akan menyesal Liana." Axel melepaskan cengkraman tangannya dan laki-laki itu terlihat akan pergi.
Namun, Liana malah menarik baju Axel. Sambil berkata, "Kau manusia paling menyebalkan di muka bumi dan mukaku, Axel! Sekarang katakan berapa uang yang kau mau?"
"Kita ganti uang itu dengan tubuhmu, bagaimana? Apa kau setuju?"
__ADS_1
"Tidak akan pernah, aku biarkan kau menyentuh kulit mulusku ini walau secuil pun Axel."
"Sudahlah Liana, kau jangan jadi wanita yang munafik. Karena aku tahu kau saat ini haus akan belaian." Axel lalu terlihat melangkahkan kakinya. "Ikut aku, jika kau mau semuanya aman terkendali."
Liana memang marah dan kesal pada Axel, tapi mau bagaimana lagi. Dengan ancaman yang laki-laki itu lontarkan kini Liana terlihat seperti sapi yang ditusuk hidungnya.
***
Jika di kamar sebelah Axel dan Liana sedang berkeringat dingin. Beda halnya di kamar Tamara.
Dimana di kamar wanita itu terlihat Demian yang sedang memeluk sang istri dengan sangat erat dari arah belakang. Sehingga membuat wanita yang sedang terlelap itu malah menjadi membuka matanya.
"Mas ...." Suara Tamara serak saat memanggil suaminya itu.
"Astaga, maaf Sayang, karena Mas telah membuatmu terbangun," ucap Demian yang sekarang melonggarkan pelukannya dari perut Tamara yang ramping.
"Mas, aku haus," kata Tamara yang terdengar sangat manja.
"Tidak usah Mas, biar aku saja." Tamara terlihat mengucek-ngucek matanya sambil bangun dari tidurnya setelah tadi sempat menyingkirkan tangan Demian dari perutnya.
"Tidak Sayang, kamu berbaringlah biar Mas yang akan pergi ke dapur." Demian lalu terlihat kembali membaringkan sang istri. "Tunggu sebentar ya, Mas tidak akan lama."
Tamara tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah, kalau Mas yang memaksa."
Demian juga terlihat menatap sang istri dengan wajah yang berseri-seri. "Apa sih, yang enggak buat istriku tercinta dan tersayang ini." Kalimat gombalan sudah Demian keluarkan.
"Sudah sana, aku haus Mas."
"Oke, aku pergi dulu." Demian lalu meraih telapak tangan sang istri. Lalu laki-laki itu terlihat mencium punggung tangan tambatan hatinya itu.
__ADS_1
***
Terlihat Demian dan Tamara menuruni anak tangga dengan cara, Demian memeluk pinggang sang istri. Sehingga mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang begitu sangat romantis.
"Mas sudah, aku takut jika Liana melihat kita seperti ini," ucap Tamara pelan.
"Kenapa harus takut dengan dia?"
"Iya, karena kita terlihat di matanya terlalu mesra, maka dari itu aku takut Mas," jawab Tamara sambil mencoba untuk menyingkirkan tangan sang suami dari pinggangnya. "Mas, ayolah coba untuk mengerti sedikit saja, karena saat ini Liana sedang hamil, aku juga menjadi takut mood ibu hamil itu malah akan menjadi terganggu," lanjut Tamara menjelaskan pada Demian.
"Tenang saja Sayang, karena Liana tidak ada di ruang makan saat ini, jadi kamu tidak perlu takut akan hal itu. Dan Mas mau kemesraan seperti ini jangan cepat berlalu, Mas berharap juga kalau kamu tidak mudah merasa bosan, Sayang." Demian tanpa aba-aba malah mau me lu mat bibir tipis Tamara. Akan tetapi, wanita itu dengan cepat menghindar.
"Mas, di rumah ini bukan cuma ada kita lho, masih ada Axel, Pak Badrun dan juga Bi Maryam. Jadi, Mas jangan main sosor-sosor aja."
"Tidak ada orang lain Sayang, karena mereka semua mungkin saja di pagi ini masih sibuk dengan rutinitas yang mereka lakukan masing-masing," timpal Demian.
Tamara hanya mengangguk kecil. "Aku paham Mas, tapi hal seperti yang tadi jangan Mas lakukan di sembarang tempat seperti saat ini Mas mau main sosor saja kayak soang di tangga."
"Apa ada orang yang berani melarangku, Saat Mas mau men ci um bibir istriku sendiri? Coba katakan sekarang siapa orang yang sangat lancang itu, Sayang."
Tamara mencubit pinggang Demian. "Ish, Mas hentikan. Di sana ada Axel," bisik wanita itu pelan karena tiba-tiba saja matanya malah melihat Axel yang sudah berdiri di tembok dekat pintu utama. Penampilan laki-laki itu akan terlihat seperti biasa. Tapi kali ini Tamara melihat rambut Axel basah.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya," sapa Axel sambil membungkuk saat Tamara dan Demian akan menginjak anak tangga paling akhir.
"Selamat pagi juga Axel," sahut pasangan suami dan istri itu serempak.
"Bagaimana Axel, apa tidurmu malam ini nyenyak?" tanya Demian.
Axel mengangguk dan menjawab, "Sangat nyenyak sekali Tuan, sampai-sampai mata saya tadi sangat sulit sekali untuk dibuka dan juga tubuh saya enggan untuk bangun."
__ADS_1
"Baguslah, jadi saya tidak perlu merenovasi kamar kamu, Axel," ucap Demian yang mula-mula ingin merenovasi kamar sopir itu. Supaya nyaman untuk di tempati. Namun, karena mendengar Axel tidur dengan nyenyak Demian mengurungkan niatnya.