
Pagi menjelang ketika Demian sedang di pakaikan dasi oleh Tamara, tiba-tiba saja laki-laki itu terdengar membahas masalah Bara yang tadi malam.
"Dia memang laki-laki idaman, maka siapapun yang akan menjadi istrinya maka aku yakin, wanita itu adalah wanita yang paling bruntung di muka bumi ini," kata Demian tersenyum sambil menatap wajah sang istri.
Tamara yang belum mengerti maksud Demian malah mengerutkan dahi, karena wanita itu benar-benar tidak tahu dia siapa yang sang suami maksud saat ini.
"Dia? Dia siapa maksud, Mas?" tanya wanita itu karena ia penasaran.
"Bara, dia laki-laki yang sangat luar biasa. Sayang," jawab Demian yang kini terlihat mengelus pipi sang istri. "Dapat Mas pastikan, jika wanita yang kelak akan menjadi istrinya maka wanita itu pasti akan dia ratukan," sambung Demian.
"Hanya gara-gara dia membeli sekotak susu bubuk untuk ibu hamil, dan itu untuk kakaknya sendiri Mas Demian mengatakan itu. Sepertinya Mas ini terlalu berlebihan." Tamara rupanya tidak begitu suka ketika Demian malah memuji Bara tentang laki-laki itu yang sangat luar biasa. "Mas juga kalau punya kakak pasti akan melakukan hal yang sama."
Iya, rupanya tadi malam Bara mengaku membeli susu ibu hamil itu untuk sang kakak yang sedang hamil. Tanpa Demian tahu itu semua hanya alasan kakak sepupunya itu saja.
"Bukan begitu Sayang, jarang lho, yang ada laki-laki kayak Bara, rela malam-malam membelikan itu susu untuk kakaknya padahal dia mau kesini," timpal Demian.
Tamara pada akhirnya hanya memilih untuk diam, karena jika ia terus-terusan membahas Bara dengan sang suami. Kemungkinan besar bahwa dirinya nanti bisa keceplosan mengingat jika wanita itu sudah terlanjur kesal dan membenci orang, ia bisa saja menceritakan semua keburukan tentang orang itu. Sehingga membuat Tamara memilih untuk bungkam saja untuk saat ini.
"Sayang, malam ini Mas kayaknya nggak bisa pulang cepat. Karena sepertinya Mas ada lembur lagi," ucap Demian mengalihkan pembicaraan. Karena laki-laki itu merasa kalau mungkin saja Tamara merasa tidak nyaman jika pembahasan mereka tentang susu ibu hamil.
Karena Demian tahu bahwa mungkin saja Tamara saat ini mengatakan itu semua supaya dirinya tidak membahas masalah Bara yang membeli susu itu terlalu jauh. Mengingat dirinya adalah laki-laki mandul dan tidak akan pernah bisa bahkan tidak akan mungkin membelikan susu ibu hamil untuk wanita yang sangat Denian cintai itu.
"Sayang, apa kamu mendengar, Mas?" Demian bertanya lagi pada sang istri saat melihat wanita itu malah tidak meresponnya.
__ADS_1
"I-iya Mas." Tamara menjawab sang suami terbata-bata. "Tidak apa-apa, dan aku minta izin mau ke rumah sakit saja. Karena tadi Papa memintaku untuk datang ke sana menemani ibu."
"Kalau Liana dan ibu menyakiti perasanmu kamu boleh langsung pulang saja saja, jangan malah diam di sana terus. Karena Mas tidak mau jika mereka membuat hatimu sampai terluka, Sayang." Demian mengatakan ini semua karena ia benar-benar mau menjaga perasaan wanita itu agar tidak sakit ataupun terluka dengan kalimat ibu serta adik tiri Tamara sendiri.
"Mas, wajar saja mereka menyalahkan aku karena memang benar itu semua salahku," ucap Tamara yang lagi-lagi terdengar menyalahkan dirinya. "Jika bukan karena aku pasti i–"
"Sstt ...." Demian menutup mulut sang istri dengan jari telunjuknya. "Jika ingin pergi, pergilah tapi ingat nanti di sana jangan pernah mau di salahkan oleh ibu serta adik tirimu itu. Oke!"
"Tapi Mas."
"Sayang, tidak ada yang mau berada di situasi saat ini. Maka dari itu jangan sebut-sebut dan salahkan dirimu lagi. Karena Mas tidak suka mendengar akan hal itu." Demian sedikit menunduk dan mencium kening sang istri. "Mas berangkat kerja dulu, apa sekalian Sayang mau ikut?"
Tamara menggeleng. "Tidak usah Mas, aku belum siap-siap. Aku juga belum mandi." Tamara menolak untuk ikut bersama Demian.
"Sekalian Mas antar ke rumah sakit."
"Apa tidak apa-apa, kamu sendirian ke sana?" tanya laki-laki itu hanya untuk sekedar memastikan.
"Iya Mas, aku tidak apa-apa. Lebih baik Mas segera berangkat ke kantor saja. Nanti kelamaan di sini malah jadi kesiangan Mas ke kantornya."
"Baiklah, kalau begitu Mas berangkat dulu, Sayang."
"Mas hati-hati di jalan."
__ADS_1
Demian tersenyum sambil mengangguk. "Kamu juga hati-hati di jalan Sayang, kalau ada apa-apa langsung saja hubungi Mas secepatnya," kata Demian ketika laki-laki itu sudah melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke kantor.
"Pasti Mas, dan jangan khawatirkan istrimu ini," timpal Tamara sambil melmbaikan tangan pada sang suami. "Bawa mobilnya harus hati-hati Mas, jangan kebut-kebut, ya!" seru wanita itu mengingatkan Demian.
***
"Ngapain kamu kesini?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut wanita yang saat ini sedang berbaring itu adalah sebuah pertanyaan. "Aku tanya ngapain kak Ara datang ke sini?"
"Liana, aku datang kesini hanya untuk melihat keadaanmu," jawab Tamara yang tidak mempedulikan tatapan sinis Liana saat menatap dirinya.
"Tidak usah melihat keadaanku, karena jika kamu datang keadaanku yang tadi baik-baik saja, malah akan kembali drop hanya melihat wajah wanita pembawa s*al sepertimu!" ketus Liana sambil memalingkan pandangan. Seolah-olah wanita itu tidak mau melihat kakak tirinya, padahal makasud dari kedatangan Tamara baik. "Keluar dari kamar rawat inapku, karena aku tidak sudi kau menginjakkan kaki di lantai ini, dan aku juga tidak mau jika harus menghisup udara di ruangan yang sama dengan wanita pembunuh seperti dirimu, Ara!"
Tamara hanya bisa diam saja, meskipun kalimat Liana benar-benar terdengar sangat pedas. Apalagi adik tirinya itu terus saja mengatakan kalau dirinya pembawa s*al.
"Pergi! Aku tidak sudi melihat wajah sok baik dan polosmu itu, padahal dirimu manusia setengah iblis!" seru Liana yang kini malah merempari Tamara dengan bantal, dan bahkan wanita itu juga melampar Tamara dengan pisu pengupas buah yang ada di atas nakas.
"Astaga, Liana. Apa yang kamu lakukan?" Herdi yang baru datang begitu kaget dengan ruangan Liana yang sudah sangat berantakan.
"Usir wanita itu pa, aku sangat muak melihat wajah menyenalkannya!" pekik Liana yang menunjuk Tamara. "Usir dia, pa!"
Herdi meraih tangan Tamara sambil berkata, "Ara, lebih baik kamu keluar saja. Jangan malah membuat kondisi adik kamu semakin down. Mengingat dia habis menjalani operasi."
Tamara tidak membalas, wanita itu malah terlihat mengikuti langkah kaki sang ayah untuk segera keluar dari dalam ruangan itu.
__ADS_1
...****************...