Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Tertunda


__ADS_3

Saat Demian akan membuka piyama Tamara, tiba-tiba saja laki-laki itu malah mengurungkan niatnya.


"Maaf, Sayang, sepertinya aku tidak bisa melakukan semua ini," kata Demian sambil mengambil posisi duduk kembali di pinggir ranjang.


"Mas, kenapa?" tanya Tamara yang merasa heran dengan tingkah sang suami. Yang secepat itu malah berubah membuat berbagai pertanyaan timbul di dalam benak wanita itu. "Mas ...."


"Mas, sekali lagi minta maaf Sayang, karena sepertinya Mas tidak bisa melakukannya sekarang," kata Demian lagi.


"Iya Mas, tapi kenapa? Apakah aku kurang menarik di mata Mas? Apa aku kurang wow di matamu?" Tamara bertanya seperti itu karena wanita itu merasa heran dengan Demian. Sebab di saat dirinya sudah siap Demian malah menghentikan apa yang tadi laki-laki itu lakukan. "Mas, jawab aku. Apa ak–"


"Aku merasa tiba-tiba saja tidak enak badan, Sayang. Kamu tolong mengertilah keadaan Mas saat ini," potong Demian dengan cepat supaya sang istri tidak merasa curiga dengan dirinya. "Kepala Mas terasa sangat pusing, dan itu tandanya kalau Mas tidak akan mungkin bisa melakukan itu semua padamu, Sayang," sambung Demian yang sekarang terlihat membeli rambut Tamara dengan perasaan yang tidak karuan. Sebab laki-laki itu merasa sangat bersalah jika ia harus melakukan itu semua pada Tamara di saat dirinya bukan lah laki-laki yang sempurna, yang tidak akan mungkin bisa memberikan Tanara keturunan.

__ADS_1


Tamara langsung saja memeluk Demian. "Kalau Mas sakit, bilang dari tadi jangan malah memaksakan diri," kata wanita itu sambil terlihat semakin erat memeluk Demian. "Sekarang Mas istirahat saja, dan aku akan membelikan Mas obat sakit kepala dulu di apotik terdekat. Kebetulan stok obat di rumah ini kosong," sambung Tamara.


"Tidak usah Sayang, Mas tidak apa-apa. Sekarang kamu tidur saja disini sama Mas. Karena Mas yakin kalau besok pagi pasti sakit kepala Mas sudah akan sembuh." Demian mengatakan itu supaya Tamara tidak pergi ke apotik malam-malam begini.


"Tapi Mas sakit kepala, aku takut jika Ma–"


Jari telunjuk Demian menempel sempurna di bibir Tamara, sebelum kalimat wanita itu usai. "Sayang, Mas cuma sakit kepala biasa. Karena tadi pagi tidak sengaja menerobos gerimis. Sehingga menyebabkan Mas sakit kepala seperti sekarang ini." Alasan Demian kali ini benar-benar dibuat selogis mungkin.


"Mas yakin tidak apa-apa?"


Pada akhirnya, Tamara mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Demian. Dan terlihat wanita itu mengajak Demian untuk berbaring di sebelahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kita tidur saja Mas," ajak Tamara sambil melepaskan pelukannya dari Demian.


***


"Apa berhasil?" pertanyaan Liana yang entah muncul dari mana tiba-tiba saja membuat Demian yang sedang ada di dapur terlonjak kaget.


"Liana, kau membuatku kaget saja." Demian mengelus da danya karena laki-laki itu rupanya benar-benar sangat kaget.


"Ish, Mas, ini aku istri Mas. Masa cuma segitu aja kaget," kata Liana sambil bersandar di dinding. Karena kebetulan wanita hamil itu sangat haus, oleh sebab itu ia pergi ke dapur. Namun, Liana malah menemukan Demian yang juga terlihat sedang mengambil segelas air.


"Lagian, ngapain kamu malam-malam keluyuran ke dapur?" Demian bertanya sambil meletakan kembali gelas yang di pegang.

__ADS_1


"Aku juga haus Mas," jawab Liana. Dan pada saat ia terus saja mengajak Demian berbicara.


Axel tiba-tiba saja secara diam-diam menaruh bubukan pada segelas air yang tadi Demian letakkan.


__ADS_2