
"Axel, kenapa dia? Apa dia sudah bebas dari penjara?" Tamara yang penasaran langsung saja bertanya pada Bara, laki-laki yang masih saja terlihat sedang mengupas buah untuk wanita hamil itu.
Setelah tadi Tamara terus berusaha untuk menguatkan dirinya, suapaya ia bisa mengontrol emosinya agar tidak mencaci maki serta marah-marah pada Bara. Karena saat ini wanita itu harus mencari cara supaya Demian bisa sembuh, sebab jika sang suami sembuh kemungkinan besar ia akan bisa dengan mudah kabur dari laki-laki iblis seperti Bara.
"Axel sudah tidak ada lagi di dunia ini," jawab Bara santai. "Jadi, kamu tidak usah memikirkan laki-laki ba ji ngan itu lagi. Yang terpenting kamu hanya perlu memikirkan supaya bayi yang masih ada di dalam rahimmu itu sehat-sehat saja, sampai waktunya tiba dimana anak kita itu akan melihat dunia ini."
Tamara tercengang karena wanita itu sangat kaget mendengar jawaban dari Bara, ia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan mengatakan kalimat yang membuat Tamara tidak bisa berkata apa-apa lagi saking shocknya seorang Tamara. Wanita itu juga sampai melupakan kalimat Bara yang kedua.
"Jangan berpikiran buruk dulu Ara, dia bu nuh diri karena dia tidak tahan di siksa terus-terusan di dalam penjara. Oleh sebab itu, dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya," kata Bara berbohong padahal dirinya yang telah menyuruh teman satu sel Axel untuk menghabisi laki-laki yang sempat menaruh rasa pada Tamara itu. "Sangat kasihan sekali bukan, tapi ya ... mau gimana lagi mungkin saja ini adalah salah satu timpal balik atau balasan untuk laki-laki itu," sambung Bara yang sekarang menyuapkan Tamara buah yang tadi laki-laki itu kupas.
"Aku tidak percaya padamu Bara, kau itu iblis dan mungkin kau adalah laki-laki yang sudah membu nuh Axel. Dan sepertinya aku harus pandai-pandai dalam hal berakting ini biar kau tidak curiga. Serta kau tidak akan melakukan apapun lagi pada Mas Demian," gumam Tamara membatin.
"Ara, apa kau percaya kalau Axel bu nuh diri?" Bara tiba-tiba saja bertanya pada Tamara yang hanya diam saja.
"Hm, mungkin saja. Tapi aku tidak yakin dia akan senekat itu." Tamara menjawab sambil membuka mulutnya dan segera menguyah buah yang tadi Bara suapkan untuknya. Karena wanita itu bertekad mulai dari sekarang ia harus pandai dalam semual hal. Termasuk dalam hal mengelabui Bara, membuat Tamara memilih untuk membuang sedikit saja rasa marah dan kesal pada ayah dari calon bayi yang masih ada di dalam rahimnya itu.
"Lantas, kira-kira siapa pelakunya? Apa kamu bisa menebaknya, Ara?"
__ADS_1
"Mungkin saja teman satu selnya, apa kau percaya padaku?" Tamara berusaha menatap Bara dengan tatapan yang teduh saat ia bertanya pada laki-laki itu.
"Meski kamu berbohong aku akan tetap percaya padamu, dan meskipun kamu saat ini sedang berpura-pura baik padaku. Aku akan tetap berusaha untuk percaya." Bara tersenyum saat laki-laki itu menjawab wanita yang sudah ia idam-idamkan sejak lama itu.
Deg ....
Rasanya Tamara kesulitan menelan salivanya saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bara, karena wanita itu tidak menyangka kalau laki-laki itu akan tahu tentang isi di dalam benaknya.
"Tapi tenang saja Ara, aku akan selalu menganggapmu baik meskipun ada banyak sekali rencana yang telah kamu susun di dalam otakmu," ucap Bara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Tamara. "Aku juga sangat berharap, jika kamu tahu semua kebenarannya nanti kamu akan tetap pada pendirianmu itu yang menganggap laki-laki mandul itu baik. Sedangkan aku ini hanya laki-laki yang sangat jahat dan seperti iblis di matamu."
Lidah Tamara seolah-olah kelu, karena ia tidak tahu harus mengatakan apa, di tambah saat ini ia sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud oleh Bara. Membuat Tamara hanya bisa diam sambil melihat laki-laki itu yang sekarang malah keluar dari kamar tempatnya di ikat saat ini.
Sedangkan Tamara masih sibuk dengan kalimat yang tersusun sangat rapi, yang tadi Bara lontarkan sehingga membuat wanita itu sekarang semakin berpikir dengan sangat keras.
"Apa yang dia maksud? Kenenaran apa itu? Apa selama ini banyak hal yang aku tidak tahu?" Saat Tamara masih saja bertanya pada dirinya sendiri tiba-tiba Hero masuk dengan seorang wanita yang begitu sangat cantik dan seksi.
"Selamat pagi menjelang siang Nyonya Ara, apa kabar? Apa Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Lepaskan ikatan di tanganku, aku tidak butuh basa basimu!" ketus Tamara yang malah mulai memperlihatkan taring dan tanduknya. "Hei, buka! Kenapa malah diam saja?!"
Hero meyanggol wanita yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya, memberikan kode supaya Arsiy wanita yang telah di perintahkan untuk menjadi sang asisten Tamara mendekat ke arah wanita hamil itu.
"Ar, kenalkan dirimu dulu pada Nyonya Ara, biar Nyonya Ara bisa tahu siapa namamu," kata Hero.
"Selamat siang Nyonya Ara, kenalkan nama saya Arsiy. Mulai sekarang saya yang akan menjadi asisten serta menjadi apa saja yang Nyonya mau." Dengan langkah kaki yang di buat seanggun mungkin gadis yang baru saja berusia 20 tahun itu mendekat ke arah Tamara.
Sejenak Tamara sempat terdiam, karena wanita itu merasa bahwa ia pernah melihat Arsiy. Namun, semakin ia memaksa otaknya untuk mengingatnya, Tamara malah merasa pusiang.
"Ar, tolong buka ikatan Nyonya Ara. Tapi sebelum itu kamu harus ingat juga apa yang Tuan Bara katakan sebelum kita masuk tadi," ucap Hero yang kemudian berbalik dan segera pergi dari sana karena saat ini pasti Bara sedang menunggunya di dalam mobil.
"Baik Tuan Hero, saya akan membuka ikatan tangan Nyonya Ara," timpal Arsiy.
"Datang dari mana gadis seksi sepertimu?" Suara Tamara tiba-tiba saja terdengar bertanya saat ia sudah melihat punggung Hero sudah manghilang dari balik pintu kamar itu.
Arsiy tersenyum. "Nyonya nama saya Arsiy, dan Anda bisa memanggil saya Ar. Saya datang jauh-jauh kesini hanya untuk menjadi asisten Anda. Maka dari itu, saya mohon kerja samanya jangan membuat pekerjaan saya yang mudah menjadi sulit." Arsiy sama sekali tidak mempedulikan tatapan tajam Tamara. "Saya akan membuka ikatan tangan Anda Nyonya, tapi dengan satu sarat. Anda jangan ada niat kabur dari sini karena jika Anda berniat kabur maka suami Nyonya akan kehilangan nyawa."
__ADS_1
"Kalian semua sama saja di rumah ini!" teriak Tamara meski suaranya serak.