
Hari yang ditunggu-tunggu pada akhirnya datang juga dimana hari ini adalah hari bahagia bagi Bara, karena laki-laki itu hari ini akan menikah dengan wanita yang sudah sekian lama laki-laki itu idam-idamkan. Membuat senyum di bibir laki-laki itu dari tadi tidak pernah memudar saking bahagia seorang Bara.
"Bagaimana apa aku terlihat sangat tampan?" tanya Bara pada Hero, saat laki-laki itu sekarang terlihat sedang memperbaiki dasinya didepan cermin, setelah tadi Hero juga sempat membantunya memakai jas yang berwarna hitam pekat.
"Anda memang sangat tampan dari dulu Tuan. Jadi, untuk apa Anda harus bertanya tentang ketampanan Anda kepada saya?"
"Hanya untuk sekedar memastikan saja Her, bisa saja 'kan, wajahku sedikit berubah gara-gara faktor usia oleh sebab itu aku bertanya padamu tadi," jawab Bara sambil menyemprotkan farfum pada setelan jas yang laki-laki itu kenakan sekarang. "Oh ya, aku sampai lupa, dimana wanitaku saat ini? Apakah dia sudah selesai dengan riasan wajahnya?" Sekarang Bara terdengar malah menanyakan Tamara.
"Nyonya Ara baru saja didandani Tuan, itu artinya pasti saat ini riasan wajahnya belum siap." Meski Tamara adalah adik tirinya. Hero masih saja tetap memanggil Tamara dengan sebutan nyonya. Meskipun Tami maupaun Burhan sudah mengatakan yang sebenarnta. Namun, Hero tetap teguh pada pendiriannya sendiri.
"Ah, lama sekali Her, padahal aku ini sudah tidak sabar ingin memiliki wanita itu seutuhnya," ucap Bara sambil terkekeh kecil, karena laki-laki itu malah merasa lucu dengan ucapannya sendiri. "Aku benar-benar tidak sabar." Bara, laki-laki itu sangat terlihat jelas kalau ia sudah tidak sabar untuk mengikat Tamara dengan janni suci. Supaya tidak akan ada lagi yang berani mengusik wanita itu jika sudah sah atau resmi menjadik miliknya seorang.
"Anda orangnya sangat tidak sabaran sekali Tuan, padahal tinggal hitungan jam Nyonya Ara akan menjadi milik Anda, dan itu artinya Tuan akan bebas melakukan apapun dengan Nyonya Ara karena tidak akan ada satu orangpun yang berani melarang Anda." Hero akhirnya bisa tersenyum dengan sangat lebar saat laki-laki itu bisa merasakan bagaimana bahagianya tuannya itu. "Masa bertahun-tahun Anda tahan menunggu tanpa pernah mengeluh sedikitpun, lah giliran sekarang masa Anda seperti ini, jangan sampai saya mengatakan kalau Anda ini lemah," seloroh Hero yang malah bercanda.
__ADS_1
"Aku cuma tidak sabar." Sesaat setelah mengatakan itu Bara pergi begitu saja meninggalkan Hero sendirian disana, karena saat ini laki-laki itu mau melihat suasana dihalaman vila itu, karena rupanya ia dan Tamara memutuskan untuk menggelar resepsi kecil-kecilan disana. Mereka juga sepertinya sengaja merahasian tentang hari bahagia ini.
Sebab, mereka takut jika Demian malah akan berniat menghancurkan acara yang sangat sakral itu jika laki-laki itu tahu, kalau Bara dan Tamara akan menikah hari ini juga.
***
"Putri Mama sanggat cantik," kata Tami saat Tamara sudah selesai dengan riasan wajahnya. "Bara memang tidak pernah salah dalam memilihmu," sambung Tami yang terdengar terus-terusan saja memuji Tamara.
"Mama, jangan berlebihan. Aku jadi malu mendengarnya." Tamara dengan malu-malu mengatakan itu pada Tami. "Mama kayak pura-pura lupa saja, ingat aku ini janda Ma. Jadi, jangan terus-terusan memujiku cantik seperti itu karena jika aku benar-benar cantik maka laki-laki itu tidak akan mengkhianatiku." Kini Tamara malah menjadi mengingat Demian.
"Sayang, lupakan apapun tentangnya, jangan pernah kamu ingat apalagi kamu ungkit-ungkit, karena itu semua hanya akan membuat mood kamu jadi berantakan, dan untuk statusmu Mama rasa kamu juga jangan jadikan itu sebagai kekuranganmu anggap saja menjadi kelenihanmu, Ara. Sebab di dunia ini tidak ada satu orang pun yang ingin menjadi janda. Namun, keadaan serta kondisi yang harus memuat wanita-wanita tangguh itu menjadi seorang janda termasuk kamu, dan juga Mama yang pernah menjadi janda gara-gara janda juga. Tapi bedanya dia janda gatal." Tami berbicara panjang kali lebar dengan putrinya. Berharap suapaya Tamara mengerti dengan apa yang ia lakatan saat ini.
"Kalau Mama kuat, sedangkan aku wanita lemah dan cengeng." Tamara mencoba untuk tidak menangis saat ia menimpali Tami seperti itu. Namun, sayang Tamara tidak setegar yang kita bayangkan sehingga detik berikutnya air mata wanita itu jatuh begitu saja.
__ADS_1
"Jangan nangis, nanti kalau nangis bedak sama maskaranya luntur. Sekarang Ara hapus air matanya gih, karena sebentar lagi acaranya akan segera di mulai." Tami terlihat memberikan putrinya selemabar tisu untuk Tamara menghapus air mata.
***
Semua orang bersorak sorai gembira saat dua insan sudah mengcapkan janji suci secara bersamaan. Sehingga membuat Tamara kali ini benar-benar menumpahkan air matanya karena saat ini tangis haru bahagia wanita itu.
"Jangan manangis, nanti cantikmu malah akan menjadi luntur," bisik Bara sambil mengusap lembut air mata wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan jari jempolnya. "Aku mohon, jangan menangis Ara, karena hari ini adalah hari bahagia kita." Bara tahu kalau kantong air mata Tamara sangat dangkal oleh sebab itu sang istri sangat cepat dan dengan mudah sekali mengeluarkan air butiran-butiran bening.
"Aku saat ini sedang menangis karena bahagia Bara. Jadi, tolong jangan menyuruhku untuk berhenti menangis." Tamara mengangkat sedikit wajahnya supaya wanita itu bisa melihat raut wajah sang suami saat ini. "Untuk hari ini saja Bara, karena aku janji setelah ini maka kau tidak akan melihat air mataku ini jatuh lagi, walaupun setetespun."
"Baiklah, kalau begitu menangislah, supaya beban yang selama ini ada di dalam hatimu bisa berangsur-angsur menjauh bahkan pergi jauh," ucap Bara yang sekarang malah terlihat memeluk sang istri, meskipun saat ini banyak saksi yang melihatnya. Namun, laki-laki itu tidak mempedulikan akan hal itu karena yang terpenting bagi Bara bahwa dirinya bisa memberikan ketenangan pada Tamara.
"Bar, banyak orang disini aku malu," bisik wanita itu pelan, yang tiba-tiba saja menyadari kalau saat ini disana sedang banyak sekali orang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kita kan, sudah sah menjadi suami istri. Jadi, tidak ada hal yang perlu kamu takutkan bahkan kamu tidak usah malu, karena semua orang di sini pasti memaklumi kita," timbal Bara yang sekarang malah kembali berbisik didaun telinga Tamara.
"Aku tetap malu," kata Tamara yang ingin melepaskan pelukan Bara. Namun, laki-laki itu terlihat malah semakin erat memeluk wanita itu.