
"Sudah lima bulan kita menikah. Namun, sampai sekarang Mas Demian tidak pernah menunjukan rasa sayang padaku. Apa yang harus aku lakukan, Mas? Biar kamu mencintaiku, biar kamu menyayangiku. Seperti Mas yang dulu menyayangi Ara." Ini adalah kalimat yang Liana ulangi hampir setiap hari, karena memang benar sampai sekarang Demian sama sekali tidak bisa merauh rasa sedikitpun pada wanita itu meskipun laki-laki itu sudah memaksa dirinya.
Namun, itu semua tidak berhasil dimana Demian malah semakin ingin menjauh dari Liana, wanita yang sudah nyata-nyata adalah istrinya. Tapi apa daya Demian tidak akan mungkin bisa melakukan itu semua karena Kinanti selalu saja mengancamnya. Dengan berbagai kalimat supaya laki-laki itu tetetap bertahan menjadi menantunya.
"Apa aku perlu merubah penampilanku, biar seperti wanita pembawa s*al itu? atau aku ini juga harus operasi plastik biar wakahku ini mirip dengannya. Apa aku harus melakukan itu biar Mas Demian cinta padaku? Katakan!" Liana menarik baju Demian, laki-laki yang hanya diam saja. "Jika iya, maka aku akan pergi ke luar Negeri untuk melakukan operasi. Supaya Mas Demian puas!" Wanita itu mendorong dada bidang suami hasil rampasannya itu hingga laki-laki itu sampai mundur sedikit. "Mas memang laki-laki yang tidak pernah bersyukur, aku lama-lama muak jika Mas terus-terusan selalu saja begini padaku." Saat Liana masih saja terus bicara pada Demian, tiba-tiba saja terlihat Kinanti yang masuk ke kamar pasangan suami istri itu.
"Ada apa pagi-pagi begini kok kalian selalu saja ribut?" Kinanti yang ingin mengajak anak serta mnantunya itu sarapan pada akhirnya, malah di suguhkan dengan pemandangan seperti ini meskipun ini bukan yang pertama kali. Namun, wanita paruh baya itu tetap saja merasa heran dengan pasangan itu. "Ayo, kalian berdua sarapan dulu jangan malah begini terus, lama-lama kepala Ibu yang mau pecah karena kalian yang terus saja begini setiap hari." Kinanti menatap secara bergantian Liana dan Demian.
"Aku tidak nafsu makan, Ibu saja yang mengajak menantu Ibu yang terlalu naif ini," kata Liana sambil terlihat berdekap tangan dengan mimik wajah yang masam. "Sana Bu, ajak saja Mas Demian sarapan biar dia memiliki tenaga untuk membayangkan Tamara wanita yang sangat menyedihkan itu!" ketus Liana yang setiap kali menyebut nama Tamara pasti moodnya akan langsung berantakan seperti saat ini.
"Maaf Bu, aku juga tidak lapar, aku juga hari ini harus berangkat ke kantor lebih pagi, karena akan ada meeting," ucap Demian sambil melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana, karena entah mengapa laki-laki itu sampai sekarang juga ia sama sekali tidak bisa melupakan Tamara. Semakin Demian mencoba melupakan mantan istrinya itu maka semakin terbayang-bang wajah Tamara yang selama ini selalu saja menatapnya dengan berhias senyum.
Mungkin saja ini adalah salah satu alasan Demian yang tidak bisa melupakan Tamara secepat itu, meskipun Liana sudah menjadi istrinya. Namun, kemungkinan besar Demian malah menempatkan nama Tamara di dalam relung hatinya yang paling dalam sedangkan untuk Liana, laki-laki itu tempatkan di tempat yang sangat dangkal di lubuk hatinya. Oleh karena itu, Demian akan sulit untuk melupakan Tamara di tambah terlalu banyak kenangan manis yang sudah dirinya dan Tamara lewati berdua bahkan mereka ukir indah di dalam hati mereka masing-masing.
__ADS_1
"Begini kelakuan menantu Ibu, bagaimana bisa aku tetap bertahan di sisinya selama dia masih saja menyimpan nama wanita murahan itu di dalam hatinya." Liana melihat Demian pergi begitu saja. Ia juga sama sekali tidak menghalangi laki-laki itu supaya tidak pergi.
"Liana, jangan begini terus lama-lama nanti Demian bisa saja meninggalkanmu karena dia berpikir kalau istrinya ini sangatlah cerewet," kata Kinanti mengingatkan putrinya. "Seharusnya yang kamu lakukan adalah berusaha terus untuk mengambil hatinya, sampai Demian akan benar-benar bisa melupakan wanita itu. Suapaya kamu dan suaminya itu bisa hidup dengan bahagia sampai ajal memisahkan kalian berdua."
"Tidak akan mungkin kami akan bisa sampai ajal memisahkan, karena sekarang saja aku merasa bahwa hubunganku dengan Mas Demian tidak akan mungkin bisa bertahan lama." Liana rupanya sudah terlebih dahulu mengatakan itu pada sang ibu.
"Ish, jangan bicara seperti itu karena ucapan itu adalah doa. Sekarang kita sarapan dulu biar suasana hatimu manjdi sedikit tenang. Tidak terus-terusan begini karena Ibu tidak mau melihat putri Ibu ini cemberut terus."
"Aku tidak lapar." Setelah mengatakan itu Liana malah terlihat membaringkan tibuhnya di atas ranjang dengan kasur yang sangat empuk.
***
Sedangkan Demian terlihat mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan rupanya laki-laki itu berbohong kalau hari ini ada meeting di kantornya. Padahal yang laki-laki itu saat ini lakukan adalah mencari keberadaan Tamara karena Demian mau meminta maaf pada wanita itu secara lnangsung atas apa yang sudah ia lakukan selama ini.
__ADS_1
"Ara, sebenarnya dimana kamu? Selama ini aku terus saja mencarimu tapi tidak ada hasil, aku sama sekali benar-benar tidak bisa menemukan jejakmu. Apakah mereka sudah berhasil menyingkirkanmu?" Demian terus saja berbicara pada dirinya sendiri sehingga laki-laki itu tidak sadar kalau seseorang mengikutinya dari belakang.
"Jika aku tahu ini semua akan terjadi, maka aku sebaiknya membawamu pergi jauh waktu itu dan tidak mengambil keputusan yang sangat bodoh seperti ini. Ternyata hidup bergelimang harta tidak menjamin kebahagiaan karena hati merasa hampa dan kosong. Itu artinya semua benar-benar tidak berguna." Sekarang Demian baru sadar kalau apa yang ia lakukan memang sangat salah besar. Mengkhianati wanita yang bisa menerima dirinya apa adanya adalah hal yang paling membuat laki-laki itu merasa sangatlah bo doh.
Ketika Demian masih menyetir mobil itu secara ugal-ugalan, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan terlihat jelas nama si pemanggil itu adalah anak buah yang juga selama ini ia tugaskan untuk mencari tahu dimana keberadaan Tamara.
Demian langsung saja terlihat mengangkat panggilan telepon itu, karena ia merasa anak buahnya itu pasti membawakan kabar yang sangat penting di pagi yang cerah ini.
"Halo, katakan kabar apa yang kamu bawakan padaku di pagi ini?" tanya Demian langsung tanpa perlu berbasa basi terlebih dahulu.
"Saya melihat Nyonya Ara sedang berduaan deng–"
"Diamana?" Demian langsung saja memotong kalimat anak buahnya itu.
__ADS_1
"Dijalan mawar berduri menuju kawasan permukiman desa Kenari, Tuan."
Setelah mendengar itu Demian langsung saja mememutuskan sambungan telepon itu. Tanpa mengucapkan kalimat sepatah pun karena bagi laki-laki itu ia harus segera sampai di alamat yang tadi anak buahnya itu sebutkan.