Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Mulai Merasa Aneh


__ADS_3

Tidak terasa sekarang sudah hampir dua bulan sejak kejadian itu Tamara sekarang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, justru sekarang wanita itu sering lupa entah itu tentang Demian yang sudah bukan suaminya dan juga melupakan semua hal tentang kejadian waktu itu. Sehingga membuat Demian merasa bahwa rencananya akan segera berhasil, dapat dilihat dari Tamara yang sekarang mudah lupa ditambah wanita itu juga jauh menjadi penurut.


"Mas, kenapa ya, kok aku menjadi lebih sering lupa begini? Perasaan selama ini aku baik-baik saja."


"Sayang, itu cuma perasaanmu saja." Demian melanjutkan sarapannya setelah laki-laki itu menjawab Tamara. "Sekarang habiskan dulu sarapanmu, setelah itu kamu istirahat saja karena mungkin saja ini efek kamu yang kelelahan."


Tamara menggeleng. "Tidak Mas, aku tidak pernah kelelahan karena aku seharian berdiam diri di rumah, dan tentu saja aku hanya rebahan." Tamara mengatakan itu padahal satu bulan belakangan ini Demian malah menjadikannya pembantu. Dimana wanita itu mengerjakan semua tugas yang seharusnya dilakukan oleh asisten rumah tangga. "Ini benar-benar aneh, apa aku konsultasi saja lagi ke Dokter Ikram?"


"Sayang, mau berapa kalipun kamu konsultasi pasti jawaban Dokter Ikram yang dia berikan padamu akan sama. Dimana dia hanya akan menyuruh kamu untuk istirahat yang cukup." Demian meraih tangan Tamara. "Jangan takut tentang dirimu yang mudah lupa Sayang, karena Mas juga sering lupa dan itu pasti dimiliki oleh semua manusia di muka bumi ini."


"Tapi yang aku alami ini cukup berbeda Mas, aku merasa hampir saja seperti orang yang amnesia. Kadang aku lupa dengan status kita bahkan aku lupa dengan diriku sendiri." Tamara rupanya mulai menyadari keanehan dalam dirinya dan tanpa sepengetahuannya seseorang sedang tertawa terbahak-bahak pada layar monitor yang memantau wanita itu. "Apa aku harus mencari Dokter lain Mas, demi mengetahui penyakitku ini?"


"Jika kamu masih bisa mengenali Mas maka Mas tidak mempermasalahkan itu semua, Sayang." Demian mengelus pipi Tamara. "Sayang, Dokter Ikram adalah Dokter keluarga kita. Masa kamu tidak percaya dengannya? Sehingga kamu malah mau mencari Dokter lain."


Tamara menatap Demian dengan tatapan teduh. "Mas, aku takut jika aku ini lama-lama malah akan melupakan Mas dan semua kenangan kita yang dulu karena sekarang saja, kenangan kita sudah mulai terhapus di memori ingatanku."


"Minum dulu biar pikiran kamu makin terang." Demian menyodorkan segelas air putih yang telah laki-laki itu berikan obat penghilang ingatan atas perintah Kinanti. "Kamu jangan khawatir tentang kenangan kita karena jika kamu lupa, maka Mas akan selalu bersedia mengingatkan kamu setiap jam, detik, hingga menit. Mas tidak akan pernah bosan dalam hal mengingatkanmu tentang semua itu, Sayang." Demian sekarang terlihat menci*m pucuk kepala Tamara setelah ia melihat wanita itu sudah meminum segelas air itu sampai tandas tak tersisa.


"Kita sudah menikah berapa lama, Mas?" tanya Tamara tiba-tiba.

__ADS_1


"Sudah lama, Sayang," jawab Demian.


"Tapi kenapa Mas tidak pernah menyentuhku?"


Demian rupanya selama ini mengatakan pada Tamara kalau dirinya dan wanita itu masih terikat di dalam sebuah pernikahan, padahal yang sebenarnya terjadi mereka sudah berpisah karena Bara waktu itu.


"Begini Sayang, Mas belakangan ini selalu sibuk. Jadi, Mas tidak sempat untuk memberikanmu kehangatan dan Mas berharap kamu mengerti akan hal itu. Jangan sampai masalah sepele seperti ini malah akan membuat hubungan kita akan menjadi renggang."


"Maaf Mas, jika Mas merasa tersinggung atau malah menjadi tidak enak hati padaku," ucap Tamara sambil meraba rahang tegas Demian. "Maafkan istrimu ini, Mas." Tamara sudah benar-benar lupa tentang hubungan mereka yang sudah berakhir. Sehingga membuatnya malah menjadi begini.


Hanya modal tersenyum manis dan bertutur kata lemah lembut Demian dapat mengendalikan Tamara seperti manekin yang diberikan tombol on off.


"Mas mau berangkat ke kantor dulu, kamu baik-baik di rumah dan mungkin saja Liana akan kesini untuk menemani kamu."


"Dia itu adik tiri kamu Sayang, anaknya ibu Kinan." Meski Demian merasa sudah mulai bosan. Namun, ia harus tetap berusaha bersikap sabar pada wanita yang terlihat di kedua bola matanya adalah harta benda yang sedang bersamanya.


"Inu Kinan?"


"Iya, Sayang, ibu Kinan dia juga pasti akan datang ke sini."

__ADS_1


Tamara hanya bisa mengangguk untuk saat ini karena wanita itu benar-benar akan melupakan seseorang di dalam hidupnya satu per satu, kecuali seseorang itu akan tetap bersamanya baru Tamara akan mengingat meski cuma sedikit. Sebab obat itu sudah benar-benar akan menunjukkan efeknya.


***


A"Kapan kita akan meminta tanda tangannya, Bu? Aku sudah tidak tahan ingin kembali bersama dengan Mas Demian." Liana terlihat merengek seperti anak kecil pada Kinanti. "Pokoknya Mas Demian harus menikah denganku. Jika tidak, maka aku akan kenekat, Bu."


"Tenangkan diri kamu Liana, semua akan berjalan dengan apa yang kamu, cukup kamu saat ini hanya perlu bersabar karena tinggal selangkah lagi semua akan berakhir." Kinanti berusaha menenangkan Liana.


"Sampai kapan aku akan sabar? Lama-lama aku malah menjadi muak jika Ibu menyuruhku selalu saja bersabar terus menerus seperti ini."


"Papa kamu hanya perlu menemukan berkas-berkas dokumen yang di sembunyikan oleh Tami, setelah papamu mendapatkan itu maka Ibu yakin semua akan beres dan kamu bisa langsung menikah lagi dengan Demian."


"Ah, kelamaan keburu Mas Demian malah jatuh cinta lagi pada Ara!" desis Liana.


"Jika Demian masih jatuh cinta padanya, dia tidak akan melakukan ini semua untuk kita Liana, coba kamu pikir-pikir dulu sebelum mengambil kesimpulan sendiri," kata Kinanti yang masih saja terus meyakinkan Liana. "Ibu bisa pastikan kalau putri Ibu yang satu-satunya ini akan menjadi pendamping hidup Demian untuk selama-lamanya sampai akhir hayat kalian berdua."


Mendengar itu jiwa Liana malah semakin menggebu-gebu untuk memiliki Demian, sehingga saat ini wanita itu tersenyum dengan isi otak yang sangat menjijikkan.


"Sekarang kamu mandi gih, sebelum Demian datang." Kinanti sekarang terlihat mengelus lembut rambut Liana yang sedang tidur di pa hanya. "Liana anak Ibu, sana mandi dan dandan yang cantik biar Demian bisa melihat kalau kamu ini jauh lebih cantik daripada Ara."

__ADS_1


"Ibu tidak sedang membohongiku 'kan, tentang Mas Demian yang akan datang ke sini?"


"Tidak Sayang, Demian sedang ada di dalam perjalanan menuju kesini. Makanya Ibu menyuruh kamu mandi," timpal Kinanti si wanita paruh baya yang sangat licik.


__ADS_2