
Tidak bisa di pungkiri Tamara sangat terkejut saat melihat penampilan Kinanti.
"Ibu," panggil Tamara sambil memegang pundak wanita yang saat ini menggunakan tongkat untuk berjalan.
Kinanti yang di panggil langsung saja menoleh, wanita paruh baya itu juga sangat kaget ketika ia melihat anak tiri yang dulu ia ambil harta bendanya.
"Ibu, kenapa Ibu Kinan menjadi begini?" Tanpa ada rasa jijik sedikitpun Tamara malah memeluk Kinanti yang masih saja tercengang. "Dimana Liana? Kenapa dia membiarkan Ibu seperti ini?" Meski rasa sakit itu masih sedikit terasa. Namun, Tamara yang orangnya memang baik, merasa jika dirinya tidak pantas membenci mantan ibu tirinya itu berlarut-larut.
Sedangkan Kinanti langsung saja melepas pelukan Tamara, karena sungguh dirinya merasa sangat malu jika harus bertemu seperti ini dengan Tamara. Bukan hanya itu Kinanti ingin pergi dari sana demi menghindari Tamara.
"Ibu, jangan pergi sini kita duduk dulu dan beritahu aku, apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika aku bisa membantu serta menolong Ibu maka aku akan melakukan keduanya." Dengan mata yang sudah mulai berair Tamara mengatakan itu semua pada Kinanti.
Kinanti yang mula-mula merasa sangat malu, pada akhirnya mau mendengarkan Tamara. "Maafkan Ibu." Hanya kalimat itu yang Kinanti ucapkan berulang-ulang kali, karena Kinanti kali ini benar-benar merasa sangat menyesal dengan apa yang dulu pernah ia lakukan pada Tamara.
Tamara hanya bisa mengangguk dengan air mata yang terus saja mengalir deras. Sebab wanita itu merasa kalau ia harus segera menolong Kinanti.
***
__ADS_1
Dua hari berlalu dengan cepat, setelah bertemu dengan Kinanti. Tamara merasa jika dirinya harus membelikan wanita paruh baya itu rumah serta memberikannya modal. Supaya Kinanti mempunyai tempat tinggal yang layak serta memiliki usaha sendiri. Supaya wanita yang dulu jahat itu hidupnya tidak begitu memprihatinkan.
"Apa suami kamu setuju?" tanya Tami saat mendengar niat baik putrinya.
Tamara langsung saja mengangguk. "Tentu saja Mas Bara setuju Ma, karena dia juga bilang kalau niat baik tidak harus di tunda-tunda," jawab Tamara.
"Bara memang benar, akan tetapi kadang manusia tidak tahu berterima kasih ketika sudah di tolong." Tami mengatakan itu bukan berarti tidak mau menolong.
Namun, sudah sangat cukup Tami merasakan yang namanya menolong orang lain tapi yang ditolong malah tidak tahu diri. Sehingga membuat Tami harus tetap waspada.
"Ma, aku sangat yakin kalau Ibu Kinan sekarang sudah benar-benar berubah. Jadi, aku merasa tidak ada alasan untuk menghakimi dia lagi, karena sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak berdosa." Tamara benar-benar tulus dalam hal apapun. Sehingga wanita itu tetap akan menolong Kinanti.
Tamara langsung saja memeluk sang ibu, karena ia merasa jika Tami ternyata masih memiliki sedikit hati nurani.
***
"Mas, aku janji setelah ini kita akan membuka lembaran baru," kata Tamara bersungguh-sungguh sambil meraih tangan Bara. Sebab wanita itu merasa kalau ini mungkin sudah waktunya dirinya menerima Bara sepenuhnya. "Aku juga sudah menyewa hotel, untuk kita nanti malam bermalam disana." Dengan rasa sedikit malu-malu Tamara mengatakan itu pada sang suami.
__ADS_1
"Apa kamu serius?" tanya Bara yang merasa sangat senang mendengar kalimat Tamara.
"Aku serius Mas, karena aku merasa sudah waktunya kita benar-benar membuka lembaran baru itu." Tamara kali ini benar-benar tersenyum tulus pada Bara. "Mas tidak keberatan 'kan, kalau malam ini aku meminta hakku?" Tiba-tiba saja wanita itu malah bertanya demikian pada Bara.
Bara detik itu juga langsung saja berbisik di telinga sang istri dengan jawaban, "Mas sudah sangat siap dari dulu, maka Mas tidak akan mungkin tidak memberikanmu hak itu." Bara membawa telapak tangan Tamara ke bibirnya, dan menciumnya beberapa kali. "Malam ini, kita akan benar-benar membuka lembaran baru." Bara sangat bahagia sehingga dirinya sampai lupa kalau dirinya saat ini sedang menyetir.
"Ara, aku benar-benar sangat-sangat mencintaimu." Setelah mengatakan itu Bara langsung saja me lu mat bibir tipis Tamara. Berhubung saat ini di depan sana ada lampu merah.
Sedangkan Tamara tidak bisa menolak, sebab ia merasa kalau Bara selama ini sudah sangat mati-matian menahan gejolak hasratnya. Sehingga wanita itu membiarkan Bara mencicipi sedikit saja rasa manis pada bibir ranumnya, karena Tamara benar-benar merasa jika dirinya akan benar-benar menerima laki-laki itu.
***
Untuk Liana dan Demian, mereka sekarang sudah masuk ke jeruji besi untuk menebus semua kesalahan mereka, karena pasangan suami istri itu rupanya terlibat dalam kasus narkoba. Menyebabkan mereka harus mendekam cukup lama di dalam penjara.
...****************...
°°•TAMAT•°°
__ADS_1
(Terima kasih buat kakak² yang sudah mantengin cerita ini sampai akhir, sampai bertemu di cerita selanjutnya🙏🙏).