Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Orang Suruhan


__ADS_3

Setelah beberapa menit pada akhirnya Tamara kini terlihat berdiri, dan segera meninggalkan makan itu karena ia ingin pulang. Dan terlihat gerimis yang tadi malah menjadi hujan yang sangat deras, sepertinya saat ini langit pun ikut bersedih atas kepergian Herdi yang secara mendadak.


Tamara dengan langkah gontai kini wanita itu terus saja memaksakan kakinya untuk berjalan, menerobos hujan yang kini sangatlah deras membuat penglihatan wanita itu malah menjadi terbatas.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Dan dimana lagi aku akan mencari tempatku untuk berlindung, setelah Papaku pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Ditambah kaku ini anak yang dibuang oleh Ibu kandungku sendiri sejak aku baru saja berusia 10 tahun." Tamara terus saja berjalan sambil berbicara pada dirinya sendiri.


Wanita itu juga sama sekali tidak peduli dengan air hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya. Bahkan wanita itu sekarang malah mulai merasakan kepalanya berdenyut nyeri saking terlalu banyaknya Tamara mengeluarkan air mata menyebabkan kepala wanita itu menjadi terasa sangat sakit.


"Pa, aku sudah memaafkan Papa," kata Tamara tiba-tiba disaat wanita itu malah mengingat perlakukan Herdi yang tidak adil padanya. "Aku benar-benar sudah memaafkan Papa, dan istirahatlah dengan tenang, Pa." Dengan suara yang serak Tamara mengucapkan kata itu berulang-ulang kali. Sehingga wanita itu terlihat berhenti ditengah jalan raya sambil berteriak histeris, karena Tamara malah menyesali tentang dirinya yang sempat berdebat dengan sang ayah waktu itu.


"Jika aku tahu ini semua akan terjadi, maka aku tidak akan pernah melukai hati Papa! Tidak akan pernah aku lakukan!" teriak Tamara yang sekarang terlihat membentangkan tangannya. "Pa, maafkan aku, maafkan anak yang tidak tau diri ini!" Saat Tamara terus saja berteriak. Tiba-tiba saja sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi malah terlihat mau menabrak wanita itu.


Namun, seorang pria yang menggunakan masker serta topi terlihat segera berlari dan langsung saja menarik tubuh Tamara dengan sekuat tenaga. Sehingga membuat wanita itu selamat dari kecelakaan yang hampir saja membuat Tamara akan kehilangan nyawanya sama seperti Herdi.


"Kalau bosan hidup jangan malah mau bunuh diri," ucap laki-laki itu berbisik saat menjadikan dirinya sebagai pelindung supaya Tamara tidak kenapa-kenapa.


Sedangkan Tamara yang kaget karena wanita itu diajak berguling-guling bebas di atas aspal malah diam saja tidak menghiraukan kalimat laki-laki itu.


"Ingat, orang terdekatmu bisa menjadi musuhmu." Sesaat setelah mengatakan itu. Laki-laki yang menggunakan masker lengkap dengan topi itu langsung saja bangun dan berdiri karena ia ingin membantu wanita yang masih saja berbaring di aspal itu. "Ingat kata-kataku ini," sambung laki-laki itu sebelum ia benar-benar pergi. Sebab orang-orang terlihat mulai menghampiri Tamara yang sudah tadi laki-laki itu bantu duduk.

__ADS_1


Lidah Tamara langsung saja terasa kelu, karena tiba-tiba saja wanita itu malah mengingat seseorang saat ia mendengar suara laki-laki tadi. Membuat Tamara yang saat ini sedang dikerumuni orang-orang malah terlihat diam saja tanpa merespon setiap pertanyaan yang orang-orang saat ini lontarkan pada wanita itu.


***


"Maaf Nona, saya gagal menjalankan misi yang Anda perintahkan," kata seseorang dari seberang telepon.


"Kau tidak becus!" desis Liana yang rupanya telah menyewa seseorang untuk melenyapkan Tamara. "Saya sudah membayar kamu mahal-mahal untuk satu nyawa. Tapi apa, kau malah tidak bisa melenyapkannya padahal posisi serta situasinya saat itu sangat mendukung."


"Nona, saya digagalkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, sehingga membuat saya yang menjalankan misi ini menjadi gagal total. Tapi Anda jangan khawatir masih ada hari-hari yang akan datang, dimana saya akan benar-benar menyingkirkan wanita itu dari muka bumi ini."


Liana beberapa kali mendesis karena wanita itu merasa bahwa tidak mudah baginya untuk menyingkirkan Tamara, membuat Liana merasa bahwa alam semesta kali ini tidak mendukung rencananya dalam hal ini.


"Sudahlah Antoni, kau memang tidak pernah becus dalam hal apapun itu. Pokoknya jika kau belum berhasil membuktikan kalau kau itu bisa membu nuh Ara. Maka saya berharap jangan pernah hubungi saya lagi, jika itu semua belum berhasil karena saya butuh bukti bukan hanya janji," kata si wanita licik yang sekarang malah berencana melenyapkan kakak tirinya setelah harta Tamara jatuh ke tangan Kinanti.


"Baik Nona, saya akan memberikan Anda bukti."


"Yah, setidaknya kau mau melanjutkan misi ini tanpa berhenti di tengah jalan," kata Liana yang saat ini terlihat memutuskan panggilan telepon itu, pada saat wanita itu melihat bayangan Demian yang melewati kamarnya. Sebab pintu kamar wanita itu sedikit terbuka.


"Mas Demian, mau kemana dia?" gumam Liana pelan sambil merapikan rambutnya, karena ia pikir Demian mau menemuinya.

__ADS_1


***


"Bu, Antoni tidak berhasil," ucap Liana yang sekarang memberitahu Kinanti.


"Masih ada hari esok, kamu tenang saja." Kinanti yang sedang sibuk menghitung berapa jumlah harta warisan Tamara, terlihat wanita paruh baya itu enggan menatap putrinya.


"Tapi Bu, jika dia masih hidup maka Mas Demian tidak akan mau menikah denganku." Liana menghentakkan kaki saat ia mengatakan itu pada sang ibu. "Ibu, ayolah cari cara supaya wanita pembawa s*al itu pergi jauh dari kehidupan kita dan juga kehidupan Mas Demian."


"Sabar Liana, semua akan menjadi milikmu termasuk Demian. Kamu juga tidak usah repot-repot menyingkirkan Ara karena wanita pikun itu akan pergi dengan sendirinya dari kehidupan kita. Setelah dia tahu siapa kita ini yang sebenarnya."


"Ah, kelamaan menunggu waktu itu sangatlah lama. Ibu sudah tahu sendiri bahwa putri Ibu ini tidak bisa yang namanya menunggu." Liana menatap sang ibu dari ambang pintu. "Ibu, ayolah singkirkan dia. Masa Ibu tidak bisa menyingkirkan Ara, sedangkan menyingkirkan papa Herdi sangat mudah dan cepat."


Kinanti mengangkat wajahnya hanya untuk melihat Liana yang masih saja berdiri di ambang pintu. "Liana, Ibu sudah mengatur semuanya, kamu tinggal terima beres saja, oke."


Entah saat ini apa yang sedang dipikirkan oleh anak serta ibu itu sehinga mereka tega malah akan menyingkirkan Tamara setelah berhasil melenyapkan Herdi.


"Sekarang kamu lebih baik pergi bersenang-senang saja bersama teman-temanmu Liana karena urusan Ara biar Ibu yang menanganinya. Sebab bagi Ibu urusan anak itu sangatlah gampang." Kinanti terdengar sangat meremahkan Tamara.


"Orang suruhanku saja tidak berhasil, bagaimna dengan suruhan Ibu?"

__ADS_1


"Akan berhasil, Ibu yakin akan hal itu." Kinanti tersenyum penuh kemenangan. Saat wanita paruh baya itu mengatakan itu pada Liana.


__ADS_2