
Tamara baru saja sampai ke halaman, tiba-tiba saja rasa panas di sekujur tubuhnya membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya. "Kenapa badanku terasa sangat panas sekali?" Tamara bergumam pelan. Sambil mengibas-ngibaskan wajahnya menggunakan telapak tangannya. "Ada apa ini?" Tamara terus saja bertanya pada dirinya.
Dan tidak lama setelah itu, tiba-tiba saja Axel datang menepuk bahu wanita yang sekarang terlihat mulai linglung sambil memegangi kepalanya.
"Nyonya, Anda kenapa?" tanya Axel sambil berpura-pura panik. "Nyonya," panggil Axel sekali lagi. Yang sekarang terlihat meraih tangan Tamara. "Apa Anda baik-baik saja?"
Tamara yang penglihatannya semakin rabun hanya merespon dengan cara menggeleng beberapa kali.
"Nyonya, mari saya antar Anda ke dalam kamar Anda," ajak Axel sambil tertawa puas. Sebab laki-laki licik itu bukan cuma menaruh obat perang sang itu di minuman Demian saja. Karena rupanya Axel juga menaruhnya pada minuman yang ada di kamar Tamara. "Nyonya, sepertinya Anda tidak enak badan. Sini biarkan saya memapah Anda."
Tamara lagi-lagi hanya bisa mengangguk patuh. Sebab wanita itu juga merasa ada sesuatu yang bergetar hebat di bawah sana. Membuat Tamara menjadi berpikiran liar, dan bersamaan dengan itu juga Tamara malah terlihat membuka kancing piyamanya.
__ADS_1
Sehingga itu menandakan kalau saat ini Tamara sudah dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat p*rangsang itu.
"Aku sangat gerah, badanku juga terasa sangat panas." Tamara terlihat mulai bertingkah aneh. Dimana sekarang wanita itu terlihat mengelus-ngelus dada bidang Axel.
"Nyonya, mari saya antar Anda, dan kita lakukan itu malam ini di kamar Anda." Axel berbisik sambil meniup telinga Tamara. "Malam ini, saya akan membuat Anda puas, sepuas-puasnya Nyonya." Axel lalu tanpa aba-aba menggendong tubuh Tamara. Sebab apa yang sekarang laki-laki itu lakukan tidak akan ada yang tahu. Di tambah Tamara dalam keadaan setengah sadar dan sangat mustahil sekali jika wanita itu akan mengingat adegan Axel yang menggendongnya saat ini. "Mereka berdua sudah mulai, sekarang giliran kita Nyonya, Sayang," kata Axel sambil mencium rambut Tamara.
Sedangkan Tamara terlihat seperti cacing kepanasan, membuat wanita itu sekarang sudah membuka seluruh kancing piyamanya. Dan menirukan suara-suara yang membuat sesuatu pada Axel kini berdiri tegak.
Axel terus saja melangkahkan kakinya untuk masuk supaya laki-laki itu cepat sampai di kamar Tamara.
"Intinya malam ini kita akan sama-sama enak," bisik Axel sekai lagi dengan seringai licik. "Menikmati semua ini pada malam yang cuacanya sangat mendukung," lanjut Axel.
__ADS_1
Dan tanpa Axel tahu seseorang saat ini sedang mengawasinya dari rekaman CCTV.
"S*alan! Aku harus masuk Hero, karena di dalam Ara pasti akan di le cehkan oleh laki-laki ba ji ng an itu!"
"Tuan, sabar dulu. Jangan gegabah. Kita tunggu sebentar lagi." Sang asisten, yang namanya adalah Hero sedang berusaha mengingatkan tuannya itu.
"Jangan bodoh Her! Si b*rengsek itu bisa saja melakukan itu pada Ara!" bentak Bara. Rupanya laki-laki itu selama ini diam-diam mengawasi serta memata-matai Tamara. "Pokoknya aku harus kesana Her, sebelum semuanya terlambat."
"Apa Anda akan bisa menolong Nyonya Ara?" Satu pertanyaan Ara mampu membuat Bara diam.
Bara menjawab dengan penuh yakin. "Lebih baik aku yang melakukan itu semua pada Ara, ketimbang kutu kupret itu!" Bara lalu terlihat melangkah masuk dengan santai melalui pintu belakang rumah itu.
__ADS_1