
"Meski terdengar agak sedikit mengejutkan buat kamu tapi inilah kenyataan yang harus kamu terima Ara," kata Tami yang malam ini akan mengatakan semuanya pada putrinya itu. "Dimana Mama lah yang telah menyuruh Bara melakukan ini padamu, karena sudah cukup kamu berada di tengah-tengah manusia yang munafik, mereka semua hanya memakai topeng karena mereka punya dua muka." Tami menghela nafas, karena wanita itu sepertinya sangat berat mengatakan ini semua pada Tamara.
Tamara yang mendengar itu langsung saja berdiri saking kagetnya mendengar apa yang di katakan oleh sang ibu, membuat Tamara malah kembali menatap Tami dengan tatapan yang tidak suka pada wanita yang tadi ia panggil mama itu.
"Kamu!"
Tubuh Tamara gemetaran hebat karena wanita itu tidak pernah menyangka kalau dalang dari semua ini adalah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
"Ara, anak Mama duduk dulu jangan salah paham, sini Sayang." Tami terlihat menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Karena ia berharap Tamara duduk kembali.
"Tidak! Selama ini aku memang sudah benar membencimu!" teriak Tamara sambil memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa sangat sakit. "Kamu dan Bara rupanya sama-sama jahat, sama-sama penipu! Kalianlah yang memakai topeng kebaikan itu selama ini!" jerit Tamara sehingga membuat Tami langsung saja merasa panik.
"Kalian semua yang di rumah ini adalah penjahat yang sesungguhnya!" Tamara sampai terhuyung saat wanita hamil itu merasakan sakit yang teramat sakit di perutnya. "Penjahat betopeng dengan wajah sok baik dan lugu!"
"Ara, tolong dengarkan Mama dulu. Jangan malah mengambil kesimpulan sendiri Sayang. Jangan sampai ini semua akan membuatmu menyesal," kata Tami pelan. Sambil meraih tangan sang putri untuk mengajak Tamara duduk lagi.
Namun, wanita hamil itu malah menepis tangan sang ibu. Saking marahnya dengan apa yang tadi Tamara dengar dari bibir Tami.
"Lapaskan! Jangan pernah memegang tanganku, dengan tanganmu yang kotor itu wanita yang bermuka dua. Di belakang kamu penjahat tapi di depan kamu seolah-olah menjelma menjadi pahlawan."
"Ibu tiri dan Papa kamu yang baik ingin melenyapkan kamu Ara, apa Mama salah ingin melindungi kamu? Bukan cuma itu saja suami yang kamu anggap baik dia adalah orang pertama yang berperan dalam rencana menyingkirkan kamu Ara. Apa kamu masih belum paham dengan semua ini?" Dengan dada yang sesak Tami mengatakan itu semua pada putrinya. "Hanya karena harta, mereka langsung berubah begitu saja dimana mereka semua malah mau menyingkirkan kamu."
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku tidak percaya!" Tamara menggeleng kuat karena wanita itu tidak mau percaya dengan kalimat yang Tami lontarkan. "Kamu pembohong! Tidak mungkin Mas Demian, ibu Kinanti, dan Ayah ingin menyingkirkan aku. Kamu pembong ...!"
"Mama sudsah mengambil rumah serta mengambil alih prusahaan Papa kamu, karena itu semua milik Mama, lalu Mama berikan itu semua pada kamu Ara serta masih banyak lagi harta warisan yang Mama berikan langsung padamu. Membuat orang-orang gila harta itu langsung saja mengincar kamu." Tami berharap semoga Tamara percaya padanya. Karena wanita itu saat ini berkata jujur pada putrinya. "Tapi sekarang kamu tidak usah khawatir Ara, karena mereka sekarang malah mengincar Mama sebab aset dan beberapa apartemen masih atas nama Mama sendiri belum Mama ubah ke atas nama kamu."
"Percakapan macam apa ini? Dan sejak kapan Papa dan ibu kinanti menjadi jahat? Kamu jangan coba-coba menghasutku!"
"Tamara, selama ini mereka baik hanya karena mereka tahu jika kamu adalah sang pewaris. Mama harap setelah kamu mendengar ini mata hatimu akan terbuka dan bisa tahu siapa yang salah dan siapa yang benar." Meski terasa berat Tami tetap mengatakan itu semua pada Tamara.
"Dan dulu Mama tidak pernah meninggalkan kamu Ara, melainkan Papa kamu sendiri yang menceraikan Mama hanya karena Mama tahu jika Papa kamu bermain di belakang dengan pelakor yang sering kamu panggil ibu, yang kamu anggap wanita paling baik di muka bumi ini padahal dia lah yang telah membuat keluarga kita menjadi bercerai berai," ucap Tami yang kini malah membayangkan kisah kelam di masa lalunya yang malah membuat dada wanita itu kini kian semakin sesak.
"Bukan cuma itu, Papa kamu juga telah berbohong tentang Mama yang pergi meninggalkan kamu bersama Om Burhan, padahal Om Burhan adalah laki-laki yang menolong Mama di saat kaki ini tidak tahu harus melangkah dan pergi kemana." Lega itu yang Tami rasakan setelah wanita itu mengatakan apa yang selama ini ia pandam di dalam benaknya. "Untuk suami kamu, dia juga ikut gila harta gara-gara ibu tiri kamu yang menjanjikan 30% dari harta yang Mama berikan itu untukmu. Oleh sebab itu, Mama memilih untuk meminta bantuan Bara dan membawa kamu kesini."
Perut Tamara malah semkin terasa sakit dan kram mambuat wanita itu hanya bisa menggeleng, karena ia tidak bisa terima dengan apa yang Tami katakan.
"Jika kamu masih tidak percaya maka Hero akan membawakan kamu barang buktinya saat ini juga," ucap Tami yang ingin membuktikan tentang apa yang tadi ia katakan itu memang kebenaran.
"Her, ayo kesini dan tunjukkan barang buktinya." Tami terdengar memanggil Hero, dan tidak lama laki-laki itu benar-benar berjalan ke arahnya sambil membawa laptop di tangannya. "Nah, itu Hero, sekarang kamu tinggal tunjukkan semua bukti itu, Her," sambung Tami.
Namun, tapa di sadari darah sudah merembes keluar dari pangkal pa ha Tamara, sehingga membuat wanita hamil itu langsung saja jatuh karena tubuhnya benar-benar sangat lemas.
"Kalian membohong ...," kata Tamara lirih sebelum wanita itu pingsan. Karena rasa sakit di dada serta perutnya membuat tenaganya menjadi berkurang darastis. Membuat Tamara tidak bisa melihat rekaman video sebagai barang bukti yang tadi Tami maksud itu.
__ADS_1
"Ara!" Tami yang melihat darah serta putrinya langsung saja menjerit karena ia takut jika hal buruk akan terjadi pada putrinya. "Bara, tolong Ara pingsan!" seru Tami memanggil Bara padahal di sana ada Hero.
Namun, Tami memilih untuk memangil Bara karena wanita itu tahu kalau Bara tidak akan mungkin membiarkan Hero yang akan menggendong Tamara di saat situasi dan kondisi seperti ini. Bisa-bisa Bara akan sangat marah.
"Astaga, apa yang terjadi?" Bara yang baru saja datang langsung berlari dengan mimik wajah yang sangat panik. Di saat ia melihat wanita yang sangat laki-laki itu cintai sudah pingsan dengan darah yang mengakir di pangkal pa ha Tamara.
"Panggil dokter Her, dan suruh dokter itu cepat kesini," kata Tami yang sudah bergelinang air mata.
"Kita akan bawa Ara ke rumah sakit Tante, karena tidak mungkin kita akan menunggu dokter itu datang di saat keadaan Ara begini," ucap Bara sambil menggendong tubuh lemas Tamara.
***
"Ini semua gara-gara Tante, jika saja Tante tidak memberitahu Ara pasti ini semua tidak akan pernah terjadi. Tante sangat menyesal telah mengatakan semua kebenarannya pada Ara." Tami menangis histeris di saat bayi yang ada di dalam kandungan putrinya di nyatakan tidak bisa di selamatkan.
"Tante jangan salahkan diri Tante, mungkin saja memang bayi itu tidak di takdirkan untuk hidup di dunia yang fana ini," timpal Bara sambil mencoba untuk menenangkan hati Tami. "Yang terpenting Ara baik-baik saja, itu sudah sangat cukup bagiku, Tante."
"Tante merasa berdosa Bara, telah membuat calon cucu Tante mati di saat dia masih menjadi segumpal darah." Lirih Tami.
"Tuan, Nyonya Ara sudah sadar." Arsiy yang di tugaskan untuk menjaga Tamara tiba-tiba saja datang dan mengatakan itu pada Bara. "Sekarang Nyonya Ara, sedang mencari Anda Tuan."
Bara yang mendengar itu langsung saja berlari ke ke arah ruang rawat Tamara, membuat laki-laki itu langsung saja melupakan Tami hanya karena ia mendengar kalau Tamara mencarinya.
__ADS_1
"Tante maaf, aku harus melihat Ara dulu!" seru Bara saat laki-laki itu baru saja sadar kalau dirinya meninggalkan Tami begitu saja.