Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Kesucian yang di Renggut


__ADS_3

Bara beberapa kali meminta maaf kepada Tamara, wanita yang saat ini sudah tertidur pulas di sebelahnya. Karena laki-laki itu rupanya benar-benar melakukan semua itu pada Tamara.


"Ara, ini semua aku lakukan demi kamu, aku sudah merenggut kesucianmu," kata Bara pelan. Sambil mengingat apa yang sudah ia lakukan pada wanita yang sangat ia cintai itu. "Ternyata, kamu benar-benar masih perawan Ara," gumam Bara. Sungguh saat ini laki-laki itu tidak bisa membayangkan jika nanti Tamara tahu kalau dirinya sudah merenggut mahkota wanita itu.


Detik berikutnya saat Bara melihat jam di pergelangan tangannya, laki-laki itu langsung saja mengingat kalau saat ini di kamar itu bukan cuma ia dan Tamara saja, melainkan Axel juga masih tergeletak di lantai tepat di dekat ambang pintu.


"Gara-gara laki-laki terkutuk itu, aku sampai menodai wanita yang sudah memiliki suami. Awas saja kau Axel, akan aku buat perhitungan denganmu." Bara lalu terlihat dengan sangat hati-hati sekali turun dari ranjang itu. "Aku harus menyuruh Hero masuk, untuk mengurus brengsek ini," ucap Bara Sambil memungut pakaiannya dan dengan gerakan cepat ia kembali memasangnya.


Namun, saat Bara akan memasang celananya, ponsel laki-laki itu yang tergeletak di lantai tiba-tiba saja bergetar dan memancarkan cahaya. Menandakan kalau saat ini ada yang meneleponnya.

__ADS_1


Bara tanpa ragu langsung saja memencet tombol hijau, sebab yang meneleponnya adalah Hero.


"Halo Tuan, apa saya sekarang sudah boleh masuk?" tanya Hero takut-takut. Sebab ia tahu kalau Bara tidak suka di telepon. Jika bukan tuannya sendiri yang menghubunginya.


"Apa kau melihat semuanya?" Bukannya menjawab, Bara malah menanyakan tentang Hero yang melihatnya atau tidak.


"Ti-tidak Tuan, ka-karena sa-saya langsung mematikan tabletnya," jawab Hero jujur. Dengan suara yang terbata-bata.


"Sa-saya berani bersumpah Tuan." Hero menjawab sambil terlihat mulai lagi menyalakan tablet yang sempat ia padam tadi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kau boleh masuk Her, dan singkirkan bedebah ini dari kamar Ara. Setelah itu kita pulang. Karena aku merasa kalau kepalaku sedikit berdenyut," ucap Bara yang melirik Tamara, wanita yang sempat tadi ia balut tubuhnya dengan selimut tebal.


"Baik Tuan, saya akan menjalankan perintah Anda," timpal Hero sambil memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.


***


Suara kicauan burung membuat wanita yang tadi malam sudah direnggut kesuciannya itu mulai terlihat membuka matanya.


"Akh," ringis Tamara di saat dirinya menggeliat di bawah selimutnya. Karena bagi wanita itu menggeliat adalah satu kebiasaan sebelum ia bangkit dari tidurnya. "Kenapa badanku terasa sangat sakit sekali, dan bawah pusarku juga terasa sangat nyeri, apa ini pertanda karena aku akan datang bulan?"

__ADS_1


Rupanya Tamara tidak mengingat kejadian yang tadi malam, oleh sebab itu ia terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Aku harus mandi, karena aku harus menyiapkan sarapan untuk Mas Demi–" Kalimat Tamara terputus, hanya gara-gara ia mengingat kalau Demian dan Liana tadi malam sempat ia lihat bermesraan. Hati Tamara tiba-tiba saja terasa sangat sakit, tatkala ia hanya bisa mengingat sang suami yang menggendong Liana, adik tiri sekaligus madunya itu. "Apa begini rasanya, berbagi suami dengan adik tiriku sendiri?" Tamara bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2