
Hampir 30 menit Tamara menunggu sang suami bersama ayahnya, Herdi karena sampai sekarang Demian belum kembali saat tadi laki-laki itu berkata ingin menemui Bara, dan kini wanita itu malah merasa takut. Takut jika Bara memberitahu Demian tentang dirinya yang sedang hamil, membuat Tamara terus saja berdoa di dalam benaknya. Supaya Bara bisa menjaga rahasia mereka berdua dan tidak membocorkannya pada sang suami.
"Papa, harus mengurus ini semua ke kantor polisi dulu, Ara. Kamu di sini sendiri tidak apa-apa 'kan?" tanya Herdi yang bangun dari duduknya. Setelah tadi ia menanyakan semuanya pada Tamara. "Ara, Papa mau pergi ke kantor polisi dulu." Herdi mengulangi kalimatnya sambil menepuk pelan pundak Tamara yang masih saja melamun. "Ara," panggil Herdi.
Tamara yang sedang asik dalam lamunanya langsung saja terlonjak kaget, ia juga kini terlihat mendongak saat mendengar suara Herdi, dan wanita itu bisa melihat sang ayah yang sudah berdiri.
"Papa harus pergi ke kantor polisi, buat mengurus semuanya," kata Herdi.
Tamara hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengiyakan ayahnya itu. Dan kini Tamara terlihat mulai menunduk lagi.
"Apa apa kamu mau ikut atau tidak, bersama Papa?" Sekarang Herdi malah terdengar mau mengajak putrinya ke kantor posisi. Karena Herdi merasa kalau Tamara pasti di sana akan diminta keterangannya sebab wanita itu adalah selaku korban dan juga orang yang langsung berada di tempat kejadian perkara.
Dan saat melihat Tamara hanya diam saja tidak merespon Herdi langsung saja berkata, "Jika kamu tidak mau tidak apa-apa, dan nanti kalau ibumu mencari Papa katakan saja. Kalau Papa ini sedang pergi ke kantor polisi." Sepertinya Herdi tahu kalau Tamara masih sangat shock dengan kejadian ini membuat putrinya itu terlihat malah diam saja dari tadi, dan tidak seperti biasanya kalau wanita itu terkesan ceria, periang, dan mudah senyum. Namun, kali ini Tamara sangat berbanding balik dengan sifat aslinya.
"Papa pergi dulu, karena besok pagi Papa tidak bisa mengurus semua ini. Sebab Papa harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Dan Papa minta sama kamu tolong menginap saja di rumah bila perlu ajak suamimu," ucap Herdi yang kemudian malah pergi dari sana tanpa mendengar kalimat balasan Tamara.
Tidak lama sesaat setelah Herdi pergi terlihat Demian dan Bara malah berjalan ke arah wanita yang saat ini sedang duduk dengan pikiran yang semakin kacau.
__ADS_1
Tamara juga terlihat beberapa kali menepuk dadanya dengan sangat pelan. Berharap supaya rasa sesak pada dadanya sedikit berkurang namun ternyata bukannya malah berkurang rasa sesak pada dadanya kian menjadi-jadi di saat ia tidak sengaja mendengar suara Demian dan Bara sedang mengobrol membicarakan masalah bayi Liana yang tidak bisa diselamatkan.
"Ya Tuhan, jangan sampai Bara memberitahu Mas Demian, tantang bayi ini," gumamnya pelan sambil memejamkan mata sejenak. Dan setelah itu Tamara kembali membuka mata di saat sang suami tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.
"Sayang, papa mana?" tanya Demian yang menanyakan keberadaan ayah mertuanya itu. Karena tadi sebelum ia menemui Bara, Demian meninggalkan Tamara bersama Herdi.
"Papa baru saja pergi ke kantor polisi," jawab Tamara sambil menatap wajah lelah suaminya. Dan wanita itu sama sekali tidak mau menyapa Bara meskipun laki-laki itu saat ini juga ikut duduk bersama Demian.
"Terus papa nggak ngajak kamu?"
"Papa tadi ngajak aku, tapi aku sendiri belum siap pergi ke kantor polisi untuk dimintai keteran secara langsung." Tamara menjawab sang suami dengan jujur. Karena memang benar wanita itu belum sanggup menceritakan semuanya tentang kejadian yang sebenarnya seperti apa.
"Mas ponselmu berdering," ucap Tamara pelan.
"Mas mau angkat telepon ini dulu Sayang, kamu dan Bara boleh kenalan dulu supaya kalian bisa kenal satu sama lain," kata Demian yang mengelus lembut lengan sang istri. "Mas kesana sebentar, ini ada Bara yang akan menemanimu," sambung Demian yang sekarang terlihat berdiri dan langsung saja pergi. Membiarkan Tamara dan Bara hanya berdua di sana.
Sepuluh detik saat Demian sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mata, kini Tamara terlihat menatap laki-laki yang sangat ia benci.
__ADS_1
"Sejak kapan kau dekat dengan suamiku, Bara?" tanya Tamara langsung pada ayah dari bayi yang ia kandung.
"Dekat? Bukankah kamu sudah tahu kalau aku ini adalah kakak sepupu dari suamimu? Lantas kenapa kamu malah bertanya sekarang, Ara?"
Tamara terdiam karena ia baru saja menyadari sesuatu tentang Bara yang menjadi kakak sepupu suaminya. Dimana Bara selalu saja hadir di manapun keluarga Demian mengadakan acara entah itu acara keluarga hingga acara kecil-kecilan, dan sialnya kenapa Tamara baru menyadari akan hal ini. Sehingga membuat wanita itu benar-benar merasa bahwa dunia ini hanya selebar daun kelor.
"Jangan pernah katakan apapun pada, Mas Demian." Tujuh kalimat yang keluar dari mulut Tamara membuat Bara langsung saja menatap wanita itu. "Karena jika kau mengatakannya maka aku tidak yakin, bahwa kau akan selamat dari amukan Mas Demian."
"Aku tidak akan mengatakannya Ara, selama kamu mau melahirkan bayi yang tidak berdosa ini." Dengan entengnya Bara malah mengatakan itu pada Tamara.
Tamara langsung saja tersenyum getir sambil bertanya pada Bara. "Apa dua preman itu adalah suruhanmu? Atau lebih tepatnya mereka adalah anak buahmu?" Saking kesalnya Tamara sekarang malah terdengar menuduh Bara tentang dua preman itu. "Kenapa kau diam saja Bara? Cepat katakan! Dan jika itu semua benar, maka kau adalah manusia paling menjijikkan yang pernah aku kenal di muka bumi ini! Satu lagi, aku tidak akan pernah mau melahirkan anak haram ini untukmu."
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, Ara. Karena bagimu aku ini adalah seorang penjahat. Dan percuma saja aku membela diriku sendiri jika pada ujung-ujungnya kamu tidak akan pernah mempercayaiku." Bara menghela nafas. "Dan jika kamu mau membunuh bayiku, maka pada detik itu juga aku akan menghancurkan orang-orang terdekatmu, Ara. Karena jika kamu saja bisa jahat, lantas apa daya diriku ini pasti bisa jauh lebih jahat lagi." Bara terlihat berbicara tenang meskipun saat ini laki-laki itu merasa sangat kecewa pada Tamara.
"Kau mengancamku lagi, Bara?!"
Bara bukannya menjawab pertanyaan Tamara, kini laki-laki itu malah terlihat berdiri. "Aku harus pergi Ara, karena malam ini aku ada acara keluarga. Lain kali kita bahas dan bicarakan ini lagi." Bara rupanya memilih untuk pergi dari sana. "Aku juga minta tolong beritahu Demian kalau aku ini tidak bisa menunggunya, dan katakan saja kalau aku ini ada urusan yang mendadak."
__ADS_1
...****************...