
Tamara melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan itu dengan langkah gontai, sebab ia merasa takut, takut jika Demian tahu akan hal ini. Membuat wanita itu terlihat seperti orang yang lingkung sehingga ia tidak mendengar saat Bara memanggilnya beberapa kali. Bukan cuma itu saja Tamara juga tidak melihat kalau laki-laki itu sedang duduk di kursi tunggu.
"Ara, biar aku antar pulang," kata Bara karena dari tadi ia memanggil Tamara malah tidak didengar. "Ara, aku antar pulang ya," sambung Bara sekali lagi sambil menepuk bahu Tamara.
Tamara yang merasa kalau bahunya ditepuk, langsung saja menoleh. "Bara, kamu belum pulang?" tanya Tamara pelan. Dengan mimik wajah yang sangat sendu.
"Aku sedang menunggumu, bagaimana apa hasil testpack itu positif?" Bara bertanya balik pada Tamara. Meskipun laki-laki itu sudah tahu jawaban yang sebenarnya. Andai saja ia hanya ingin mengetes Tamara apakah wanita itu akan berkata jujur padanya atau malah sebaliknya akan membohongi dirinya. Dengan cara merahasiakan kehamilan itu padanya.
Tanpa perlu mengatakan apapun, kini air mata dan suara isak tangis Tamara mulai terdengar. Karena di saat-saat seperti ini Tamara butuh teman untuk wanita itu menceritakan segalanya. Sebab sudah cukup selama ini Tamara selalu saja merasa sendiri di saat menghadapi ujian serta cobaan yang datang bertubi-tubi pada dirinya. Membuat wanita itu kali ini merasa harus memiliki teman setia hanya untuk mendengar apa yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Ara, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Bara merasa kalau saat ini Tamara pasti sedang tidak baik-baik saja. Karena baru kali ini laki-laki itu melihat Tamara meneteskan air mata di tempat umum seperti ini, yang biasanya wanita itu akan selalu menangis secara diam-diam di dalam kamar. "Duduk dulu, dan ceritakan padaku, apa yang sebenarnya sudah terjadi." Bara terlihat menuntun wanita yang saat ini masih saja menangis.
"A-aku ha-hamil Bara," kata Tamara tiba-tiba di saat ia sudah duduk di sebelah Bara dengan suara terbata-bata "I-iya Bar, a-aku ha-hamil," ucap Tamara sekali lagi. Dengan suara yang sudah mulai serak.
Bara berusaha mengatur nafasnya di saat detak jantungnya tidak beraturan. Karena selama ini yang Bara tahu hanya dirinya saja yang pernah menyentuh Tamara, gara-gara ia harus menyelamatkan wanita itu. Bukan ada maksud lain.
Namun, siapa sangka niat Bara menolong wanita yang di sukai itu malah akan berujung seperti ini. Membuat Bara merasa sangat bersalah dan sangat menyesal. Dan tanpa sepengetahuan Tamara, laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat di bawah saja, sehingga urat-urat pada punggung tangannya kini terlihat menonjol sempurna.
"Aku takut Bara, aku sangat-sangat takut."
"Bukankah kamu harus senang Ara, jika kamu hamil. Itu artinya kamu dan Demian akan segera memiliki anak," kata Bara yang merasa kalau dirinya tidak boleh terlihat mencurigakan di hadapan Tamara.
__ADS_1
"Masalahnya ...." Tamara menjeda kalimatnya dan ia terlihat menelan salivanya dengan cara bersusah payah. Dan kini tenggorokannya mulai merasa sangat kering dan tercekat. "Masalahnya, selama ini Mas Demian tidak pernah menyentuhku."
"Apa?!" Bara juga harus berpura-pura terlihat terkejut meskipun laki-laki itu sudah tahu semuanya. "Apa aku tidak salah dengar Ara?"
Tamara mengageleng sambil menggigit kecil bibirnya. "Aku berkata jujur Bara."
"Astaga, lalu anak siapa itu?" Bara semakin membuat ekspresi wajahnya seolah-olah laki-laki itu merasa sangat-sangat kaget dan terkejut untuk saat ini.
Lagi-lagi Tamara terlihat hanya bisa menggeleng. "Aku juga tidak tahu, Bara," jawab wanita itu dan pada detik itu juga ia langsung saja menceritakan semuanya pada Bara dengan sedetail mungkin. Karena Tamara berharap kalau Bara pasti akan bisa membantunya keluar dari masalah ini. Mengingat selama ini laki-laki itu sudah sering kali membantunya dalam hal apapun itu.
Setelah beberapa menit dan cerita Tamara sudah usai. Bara kini mulai terdengar membuka suara.
"Apa kamu sama sekali tidak mengingat apapun malam itu?" tanya Bara dengan cara menatap Ara.
Bara melirik jam di pergelangan tangannya sambil berkata, "Bisa kita bicarakan ini di dalam mobil saja? Karena aku siang ini ada meeting, dan tidak akan mungkin membiarkanmu naik taxi. Sebab mungkin saja orang yang sudah melakukan ini semua padamu sedang memata-mataimu, entah dari dekat maupun jauh." Sebenarnya Bara mengatakan ini hanya untuk menakut-nakuti wanita itu saja.
"Kamu benar Bara, kalau begitu. Ayo kamu antar aku kembali ke toko saja. Karena tidak mungkin aku akan pulang kerumah membiarkan Susi sendiri di toko," sahut Tamara menimpali. Dan sekarang wanita itu sudah terlihat berdiri.
"Hapus air matamu dulu Ara, karena dari tadi tatapan orang-orang terus saja mengarah kepadamu yang menangis." Bara memberikan wanita itu sapu tangannya. "Lanjutkan lagi ceritamu di dalam mobil, jika kamu merasa masih ada yang mengganjal di hatimu, Ara," kata Bara yang saat ini merasa kalau dirinya pengecut karena ia malah bersembunyi dari kenyataan ini.
***
__ADS_1
Terlihat Tamara memalingkan pandangan ke luar jendela, di saat suasana hatinya malah kini menjadi semakin takut. Takut jika orang-orang akan mengira dirinya wanita yang tidak benar. Karena di saat ia sama sekali tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Demian. Tapi kini tahu-tahu wanita itu sudah langsung hamil saja.
"Apa aku harus menggugurkan kandungan ini?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Tamara membuat Bara langsung saja menginjak rem dengan mendadak. Dan pada saat itu juga Tamara terhuyung ke depan, akan tetapi untung saja wanita itu menggunakan sabuk pengaman sehingga kepalanya tidak kejedot.
"Ara, jangan lakukan hal gila seperti ini. Dan apa kau mau jadi pembunuh?" Entah mengapa wajah Bara langsung saja memerah di saat Tamara malah ingin menggugurkan bayi yang tidak berdosa itu.
Dan untung saja Tamara langsung menatap lurus ke depan sehingga wanita itu tidak melihat wajah Bara yang merah padam.
"Jika tidak aku gugurkan maka aku pasti akan diceraikan oleh Mas Demian. Dan aku tidak ingin akan hal itu terjadi padaku, Bara. Apakah kamu mau membantuku?"
"Ara aku berjanji akan menyembunyikan kehamilanmu ini saja dari semua orang. Bukan berarti aku mau membantumu untuk membunuh segumpal darah yang akan menjadi bayi itu." Bara menggeleng kuat menandakan kalau laki-laki itu tidak mau. "Dan bukankah aku juga berjanji untuk mencari laki-laki itu. Tapi kenapa sekarang kamu malah ma–"
"Bara, ini hanya demi rumah tanggaku. Aku juga tidak mau dicap sebagai wanita yang tidak tau diri. Dan mana mungkin Mas Demian akan mau menerima anak yang entah bapaknya saja aku sendiri tidak tahu," potong Tamara dengan cepat.
"Pokoknya aku tidak setuju, kalau kamu ingin melenyapkan bayi itu Ara. Sungguh kamu adalah seorang ibu yang paling kejam di muka bumi ini." Bara sengaja mengatakan itu supaya Tamara mengurungkan niatnya.
Tamara terdiam sejenak karena wanita itu sedang mencerna kalimat-kalimat Bara. Dan jujur saja sebenarnya ia tidak akan tega melenyapkan darah dagingnya. Meskipun ia belum tahu siapa laki-laki yang telah berani menitip benih di rahimnya.
"Masih ada cara lain Ara, ayolah jangan berpikiran sempit seperti ini," ucap Bara. Ketika melihat Tamara hanya diam saja. "Aku mohon, jangan lakukan hal gila semacam ini Ara. Dosa besar." Bara membicarakan tentang dosa. Seolah-olah laki-laki itu tidak memilikinya.
"Lantas apa yang harus aku lakukan Bara, di saat posisiku saat ini yang tengah berbadan dua. Lambat laun pasti perutku juga akan membesar." Lirih Tamara sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Yakin dan percaya padaku Ara, bahwa semua ini akan baik-baik saja. Dan buang pikiran kotormu itu. Karena selama aku masih bernafas serta jantungku masih berdetak maka tidak akan pernah aku biarkan orang lain akan menyakitimu."
"Tidak akan ada yang menyakitiku Bara, justru hanya satu yang aku takutkan kalau Mas Demian akan membenciku," timpal Tamara.