
Tamara dengan cepat mengusap air matanya saat ia melihat sang suami yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya dari pantulan cermin kaca riasnya
"Sayang, sudah bangun ya," sapa Demian dengan bibir yang tersenyum. Dan saat ini laki-laki itu berusaha untuk tetap terlihat biasa saja meskipun kepalanya masih saja berdeyut nyeri.
"M-Mas, juga sudah bangun. Bagaimana keadaan Mas, Apa sekarang kepala Mas sudah tidak sakit lagi?" tanya Tamara dengan dada yang semakin sesak disaat ia melihat ada beberapa tanda me rah yang berbaris sangat rapi di leher laki-laki itu.
"Sudah tidak sakit lagi," jawab Demian berbohong. "Oh ya, bagimana Sayang, apa semalam tidurmu nyenyak? Dan maafkan Mas yang tadi malam malah ketiduran di kamar Mas sendiri," sambung Demian yang malah mengira kalau sang istri tidak melihat kejadian yang semalam saat dirinya menggendog Liana, wanita hamil yang sangat licik itu.
Tamara menjawab Demian hanya anggukan kecil, karena ia tidak mungkin akan menceritakan semuanya pada Demian. Kalau ia sudah melihat semuanya.
__ADS_1
"Syukurlah, kalau kamu tidur dengan nyenyak Sayang." Kini Demian terlihat memeluk tubuh Tamara dari belakang meskipun saat ini posisi wanita itu sedang duduk di kursi meja rias.
"Iya Mas, tapi bolehkah aku menanyakan suatu hal? tanya Tamara tiba-tiba. Sebab beberapa menit yang lalu ketika ia membersihkan tubuhnya. Wanita itu malah melihat daerah kewanitaannya bengkak bersamaan dengan itu ia juga menemukan bercak darah di seprainya yang berwarna putih.
"Iya Sayang, tanyakan saja semuanya pada suamimu ini." Demian rupanya belum melihat tanda merah pada lehernya sendiri sehingga membuat laki-laki itu terlihat biasa saja. "Ayo Sayang tanyakan saja sekarang."
"Apa Mas tadi malam tidak menyentuhku, sewaktu aku masih tidur? Atau misalnya menggauliku ketika dalam keadaan yang tidak sadar?" Tamara menunduk malu saat pertanyaan itu berhasil terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Sayang, apa maksudmu? Sungguh Mas tidak mengerti." Demian mengerutkan keningnya. Karena laki-laki itu saat ini sedang terlihat berpikir dengan sangat keras. Supaya ia bisa mengerti maksud dari pertanyaan Tamara.
__ADS_1
"Ah, mungkin saja aku hanya bermimpi Mas. Lupakan saja pertanyaanku yang tadi." Tamara lalu dengan cepat merubah ekspresi wajahnya yang tegang tadi menjadi sedikit rileks. "Sekarang Mas lebih baik mandi, dan jangan pikirkan pertanyaanku yang tadi. Karena seperti kataku itu hanya sebuah mimpi," sambung Tamara.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari Mas?" Demian merasa kalau saat ini Tamara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mas, tidak ada yang aku sembunyikan. Lebih baik sekarang Mas mandi. Karena perutku sudah terasa sangat lapar." Tamara mengelus perutnya sendiri. Supaya Demian percaya kalau dirinya saat ini benar-benar sangat lapar. "Sana mandi dulu, Mas juga sepertinya baru bangun. Dapat di lihat dari muka bantalmu, Mas."
Demian yang tidak mau memikirkan apapun, sebab saat ini kepalanya tidak bisa di ajak untuk berpikir, dan ia dengan cepat mengangguk sambil menimpali sang istri.
"Ya sudah Mas mandi dulu Sayang, kamu tunggu Mas di sini." Demian kemudian mengecup pucuk kepala sang istri. "Kamu jangan berdandan terlalu cantik, karena nanti Mas bisa saja meleleh dan tidak jadi pergi bekerja," seloroh Demian sambil mencubit gemas pipi Tamara. "Mas mandi dulu, tapi Mas juga mau minta tolong, kalau hari ini Mas mau pakai jas yang waranya coksu. Jadi, Mas minta kamu tolong ambilin itu di kamar Mas ya," ucap Demian yang mulai terlihat melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
__ADS_1