
"Ini semua harus Ara tandatangani, biar semua jatuh ke tangan kita," kata Herdi yang baru saja datang membawa beberapa berkas yang laki-laki itu berikan pada Kinanti.
"Mas mendapatkan ini semua dari mana?" Dengan wajah yang berhias senyum Kinanti bertanya pada sang suami.
"Ini Tami sendiri yang memberikannya padaku," jawab Herdi dengan wajah yang juga terlihat sangat senang. "Dia takut kita akan mencelakai Ara, sehingga wanita itu dengan suka rela memberikan kita ini karena bagi Tami nyawa Ara jauh lebih penting. Padahal kita cuma menggertaknya saja mana mungkin kita akan melakukan itu pada Ara."
"Kita memang harus melenyapkan Ara," ucap Kinanti tiba-tiba sehingga membuat Herdi langsung bungkam. "Iya Mas, kita harus singkirkan dia karena Ara sama seperti ibunya, dan aku takut jika wanita itu malah akan membuat hubungan Liana dan Demian menjadi renggang." Kinanti menghela nafas. "Aku diam-diam memperhatikan Demian, sepertinya anak itu masih menyimpan rasa pada Ara. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk menyingirkannya dengan cara membu nuhnya."
Herdi memang ingin mengambil harta putrinya. Namun, untuk melenyapkan darah dagingnya sendiri, laki-laki itu sama sekali tidak pernah berpikiran akan hal itu.
"Bu, papa setuju untuk mengambil semua harta Tami yang diberikan pada Ara. Tapi untuk menyingkirkan Ara papa sama sekali tidak pernah berpikiran sampai sejauh itu." Senyum yang tadi menghiasi wajah Hardi seketika langsung saja memudar. Hanya karena kalimat yang dilontarkan oleh Kinanti.
"Mas, jika dia masih hidup maka Liana tidak akan pernah bahagia, apa Mas sudah lupa tentang janji Mas yang akan membahagiakan Liana dan aku?"
"Papa memang akan membahagiakan kalian tapi bukan dengan cara begini juga, kasihan Ara anak itu malah jadi korban padahal dia sama sekali tidak tahu apa-apa." Herdi yang merasa kesal langsung saja mendobrak meja dan segera pergi dari sana. Sebab jika laki-laki itu tetap disana maka dapat dipastikan kalau ia akan main tangan karena tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kurang ajar!" umpat Kinanti kesal dan kini wanita paruh baya itu terlihat meraih benda pipihnya. Sebab saat ia merasa harus menghubungi seseorang.
Beberapa saat terdengar suara laki-laki dari seberang telepon yang tadi Kinanti hubungi. "Halo, apa ada mangsa baru?"
"Sudah saatnya, lenyapkan juga laki-laki tua itu karena saya rasa kita sudah tidak membutuhkannya lagi." Kinanti terlihat mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Apa kamu mendengar saya?"
"Iya Nyonya, serahkan saja semuanya pada karena saya akan mengaturnya."
__ADS_1
"Bagus, lakukan tugasmu dengan benar. Jangan sampai polisi menemukan jejakmu."
"Pasti tidak akan Nyonya, Anda terima beres saja," timpal laki-laki di seberang telepon. "Jika tidak ada lagi yang mau Anda sampaikan saya akan memutuskan sambungan telepon ini Nyonya."
"Baik, tapi kamu ingat ini harus terlihat seperti kecelakaan. Semoga sampai sini kamu paham." Setelah mengatakan itu Kinanti segera memutuskan sambungan telepon itu.
"Herdi ... Herdi, enak saja kamu Mas mau mengingkari janjimu. Padahal selama ini aku bersikap baik pada anakmu itu karena aku cuma menginginkan hartanya saja. Lalu sekarang saat semuanya sudah ada didepan mataku Mas malah senenak jidat mau mempertahankan anak itu. Ini semua tidak bisa di biarkan karena kalau di biarkan bisa-bisa semuanya malah akan menjadi gagal, dan yang rugi jelas saja aku." Saat Kinanti terus saja berbicara pada dirinya tiba-tiba saja Liana terlihat menuruni anak tangga.
"Bu, Mas Demian mana?" tanya wanita yang sifat serta sikapnya tidak jauh dengan Kinanti.
"Tunggu sebentar Sayang, Demian pasti datang," jawab Kinanti.
"Tadi kata Ibu, Mas Demian sedang dalam perjalanan tapi kenapa sampai sekarang tak kunjung datang? Apa jangan-jangan Ibu membohongiku?"
"Apa itu?"
"Sini dulu, baru Ibu akan menceritakan semuanya tanpa terkecuali karena Ibu rasa, ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menceritakan semua pada putri yang sangat Ibu sayangi ini." Kinanti sekarang berniat ingin menceritakan semuanya pada Liana. Oleh sebab itu, wanita paruh baya itu merasa sangat bersemangat sekali.
"Tentang siapa?" tanya Liana sambil melangkahkan kakinya menuju Kinanti.
Kinanti membetuk hurup A pada jari-jarinya. "Tentu saja tentang manusia yang sangat-sangat bo doh di muka bumi ini." Kinanti dan Liana langsung saja terdengar tertawa terbahak-bahak karena sepertinya ibu serta anak itu saar ini pikiran mereka terkoneksi satu sama lain.
"Pasti tentang si pikun itu 'kan?"
__ADS_1
"Jelas dong karena dia saat ini pasti sedang kebingungan, sebab kata Demian efek obat itu sudah mulai bekerja sekarang."
"Kabar yang sangat luar biasa." Liana lalu terdengar terkekeh-kekeh seperti gadis itu sedang mengejek Tamara.
***
Jika Liana dan Kinanti sedang tertawa bersama, beda halnya dengan Tamara, wanita yang saat ini merasa dunia seolah berhenti berputar. Bagimana tidak, karena tiba-tiba saja Demian menghubungi wanita itu dan memberitahunya tentang kecelakaan tunggal yang sudah menewaskan Herdi sehingga membuat tubuh Tamara langsung saja lemas tak berdaya.
"Kita harus segera ke rumah sakit," kata Demian dari seberang telepon.
"Rumah sakit?" Tamara tiba-tiba saja malah berubah menjadi orang yang linglung. "Mas, letak rumah sakitnya dimana?" Meski wanita itu lupa jalan menuju ke rumah sakit. Namun, ia sama sekali tidak lupa dengan kalimat Demian yang memberitahunya tantang pristiwa naas yang telah menewaskan sang ayah.
"Tunggu di sana, Mas akan segera pulang menjemputmu."
"Papa tidak mungkin kecelakaan karena dia sangat hati-hati dalam mengendari mobil. Pasti saat ini itu orang lain bukan Papa." Meski sekuat tenaga Tamara menahan isik tangisnya pada akhirnya, wanita itu tidak bisa menahannya lagi sehinga suaranya kini terdengar sangat memilukan.
Membuat Demian yang ada di seberang telepon malah merasa kasihan karena sejujurnya Demian sama sekali tidak tahu tantang rencana Kinanti.
"Sayang, tenangkan dirimu semua akan baik-baik saja." Demian malah bisa-bisanya mengatakan itu semua pada Tamara. "Mas akan berangkat kesana, kamu tunggu Mas di teras depan rumah kita."
Tamara bukannya berhenti menangis kini wanita itu malah semakin terdengar menangis histeris sambil menjerit, bahkan sekarang Tamara tedengar melempar barang pecah belah.
"Ini hanya sebuah mimpi tidak mungkin!" teriak Tamara histeris. "Tidak mungkin Papa akan meninggalkanku secepat ini." Tamara sekarang malah terlihat seperti orang keset4nan. Sehingga benda pipih yang wanita itu pegang malah ia banting juga ketembok membuat ponsel itu malah hancur.
__ADS_1