
Setelah Demian berangkat bekerja, Tamara dengan cepat masuk ke ruang monitor dimana ruangan itu hanya khusus untuk Demian yang selalu melihat cctv. Namun, sebelum itu Tamara sempat menekan tombol off yang otomatis seluruh listrik serta cctv langsung saja mati di rumah itu.
Sehingga kini Tamara terlihat bergegas masuk dan dengan cepat mengecek setiap rekaman cctv yang tadi malam.
"Aku harus cepat, karena aku ingin tahu kebenarannya," ucap Tamara pelan sambil tangannya bergerak dengan sangat lincah mengotak-atik keyboard. Demi mencari petunjuk. Karena ia tahu pasti dirinya akan menemukan apa yang mengganjal di hatinya dari rekaman cctv itu. "Ayolah, jangan malah error seperti ini, tolong bekerja sama denganku," ucap Tamara yang berbicara dengan layar monitornya itu saat ini.
Namun, semakin Tamara mengotak atik keyboard, wanita itu malah menemukan rekaman Demian yang sedang melakukan penyatuan dengan Liana. Dimana Tamara melihat dengan sangat jelas sekali kalau di cctv itu kedua insan yang sedang dalam kenikmatan itu tampak terlihat sama-sama saling mengimbangi. Ditambah suara de sa han terdengar sangat jelas serta suara dua insan yang saling menyatakan cinta satu sama lain. Membuat sudut mata Tamara tiba-tiba saja berair.
"Apa ini? Aku hanya ingin mencari apa yang sudah terjadi denganku tadi malam. Tapi kenapa? Kenapa malah hanya ada rekaman ini saja. Dimana rekaman saat di kamarku?" Tamara yang merasa kesal hampir saja menghancurkan layar monitor itu. "Katakan, apa yang terjadi padaku tadi malam? Dan tolong perlihatkan padaku!" pekik Tamara yang merasa sudah benar-benar kesal. Sebab rekaman cctv itu hanya kembali ke kamar Demian saja. Sedangkan untuk kamarnya wanita itu hanya melihat dirinya yang sedang duduk bersama Demian. Saat ia dan sang suami sedang bercanda gurau.
"Ini pokoknya ada yang tidak beres, bisa-bisanya tidak ada yang terjadi denganku padahal aku merasa kalau ada yang ...." Tamara tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena sekarang suara isak tangis wanita itu mulai terdengar. "Siapa yang sudah tega melakukan ini padaku? Jika Mas Demian saja yang ditanya tidak tahu." Tamara menggetok kepalanya beberapa kali karena ia berharap kalau ia bisa mengingat semuanya.
Tapi sayang sama seperti di kamarnya, Tamara sama sekali tidak bisa mengingat semuanya membuat wanita itu sangat kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Sedangkan di kamar Alex terlihat Liana sedang marah-marah dengan laki-laki itu.
"Terus siapa yang melakukan itu semua pada Ara? Jika bukan kau Axel, dasar brengsek yang tidak becus!" Liana hampir saja menampar Axel saking kesalnya wanita itu ketika mendengar deretan kalimat penjelaskan Axel. "Kau hanya bisa menghancurkan segalanya saja Axel, pokoknya aku tidak mau tahu kau harus melakukan rencana itu lagi, dan jangan lupa bahwa kau harus membuat rekaman. Biar ada bukti dan itu akan memudahkanku untuk menyingkirkan madu serta kakak tiriku itu." Senyum licik mulai terbit dari bibir wanita hamil itu. "Apa kau mendengarku, Axel?"
"Apa sebenarnya kau sendiri yang malah menyuruh laki-laki lain untuk melakukan itu semua pada Ara? Mengingat kau sangat membenci kakak tirimu itu. Apa yang aku katakan ini memang benar 'kan, Liana?" Kini tatapan Axel terlihat sangat tajam tatkala menatap dua bola mata milik Liana. "Katakan Liana, apa memang benar?" Axel mencengkram erat tangan wanita itu. Karena Axel saat ini mau meminta jawaban yang pas di indra pendengarannya.
"Apa-apaan kau Axel, bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu. Andai kau tau ya, aku ini memang sangat membenci wanita sialan itu. Tapi kalau untuk mengubah ataupun melakukan hal yang curang padamu itu semua tidak pernah aku lakukan Axel!" Apa yang dikatakan Liana memang benar apa adanya. "Jangan malah asal tuduh! Sungguh aku tidak terima!" ketus wanita itu lagi.
Liana melepas cengkraman tangannya dari Axel dengan sangat kasar. "Kenapa bukan kau saja yang mencari tahunya Axel? Karena aku ini adalah wanita yang sangat sibuk. Aku harap kau paham dan mengerti."
"Tidak bisa! Enak saja, kau mau yang bagian enaknya saja sedangkan aku belum mendapatkan hal itu. Intinya kita berdua harus sama-sama mencarinya biar adil," timpal Axel yang tidak mau kalau hanya dirinya yang Liana suruh mencari orang lain yang berada di tengah-tengah mereka itu. "Kau sekarang keluar saja dari kamarku, karena aku harus mandi, karena sebentar lagi aku harus mengantar kekasihku bekerja."
__ADS_1
Liana mendesis, "Kau harus mencari tahu semua Axel, jika tidak maka kau tidak akan bisa memiliki Ara seutuhnya."
***
Karena Tamara tidak bisa menemukan bukti apapun, pada akhirnya wanita itu memilih untuk langsung keluar saja dari ruangan monitor sang suami. Namun, pada saat ia keluar dari sana matanya malah tidak sengaja melihat Liana yang keluar dari kamar Axel. Membuat wanita itu menyerngit heran karena selama ini yang ia tahu Liana sangat membenci Axel tapi kali ini wanita hamil itu terlihat keluar dari kamar sopirnya itu.
"Liana, kamu habis ngapain dari kamar Axel?" Tamara langsung saja melontarkan pertanyaan pada Liana. Tanpa perlu berbasa-basi.
"Eh kak Ara." Liana dengan cepat merubah mimik wajahnya yang tadi sempat tegang. Karena ia tidak mau kalau sampai Tamara mencurigai dirinya. "Kakak sendiri habis ngapain dari ruangan yang selalu terkunci itu?" Wanita hamil itu malah bertanya balik pada madunya.
"Kamu dulu yang jawab aku Liana, karena tidak seperti biasanya kamu malah menemui Axel. Mengingat kamu sama sekali tidak pernah menyukai sosok supir pribadiku itu." Tamara hanya ingin tahu kenapa Liana masuk ke sana. Bukan karena apa-apa andai saja Tamara takut kalau Liana mempunyai hubungan yang lain dengan Axel. Membuat wanita itu harus bertanya sedetail mungkin pada wanita hamil itu. Mengingat Liana tidak bisa melihat laki-laki yang agak sedikit mempesona dan tampan.
Sehingga Tamara malah berpikiran buruk pada adik tiri serta madunya itu, dan tanpa ia tahu yang sebenarnya telah terjadi, Kalau Liana memang pernah memiliki hubungan dengan Axel. Bahkan sampai sekarang kedua manusia yang sama-sama licik dan mata keranjang itu malah berniat ingin memisahkannya dari Demian.
__ADS_1
"Aku hanya meminta Axel untuk mengantarku saja karena kebetulan, hari ini ada jadwal memeriksa kandunganku ke rumah sakit, dan itu saja aku cuma minta sama sopir pribadi kakak itu. Karena kebetulan kata Mas Demian dia sangat sibuk hari ini. Jadi, dia tidak sempat mengantarku," jawab Liana pada akhirnya meskipun ia berbohong.
"Oh, begitu. Ya sudah, kamu saja yang duluan di antar ke rumah sakit. Biar aku nanti ke toko agak siangan dikit," ucap Tamara tanpa menaruh curiga lagi pada Liana. "Tapi sebelum kamu berangkat ke rumah sakit, kamu sarapan dulu Liana, karena aku sudah membuatkan nasi goreng kesukaanmu," sambung Tamara.