Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Mama (Kedatangan Sang Ibu)


__ADS_3

Satu minggu kemudian ....


Terlihat Bara sedang mengelus perut Tamara yang sekarang sedang duduk di sofa ruang tamu, setelah tadi laki-laki itu dan Tamara makan malam bersama.


Dimana sekarang status Tamara sudah berubah, wanita hamil itu sudah resmi menjadi janda. Karena Tamara rupanya sudah menandatangani surat perceraian itu atas permintaan Bara hanya demi menyelamatkan Demian.


"Mau jalan-jalan?" tanya Bara yang sekarang terlihat beralih mengelus pipi wanita yang tatapan matanya begitu kosong itu. "Ara, apa kamu mau jalan-jalan?"


Tamara yang di tanya hanya bisa menggeleng, menandakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan ajakan laki-laki itu.


"Kau pembohong Bara, aku laki-laki pendusta kau juga brengsek!" Tamara terus saja mencaci maki laki-laki itu di dalam benaknya. Karena rupanya Bara bukannya menepati janjinya tapi laki-laki itu malah membiarkan Demian tetap lumpah dan membuat Tamara serta mantan suaminya itu seolah-olah sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat yang tentu saja itu semua sudah di seting oleh Bara.


Supaya Tamara tetap akan berada di sisi laki-laki yang wanita itu anggap gila, karena cuma Bara yang bisa melakukan hal yang di luar dugaan itu. Dan sekarang Tamara semakin membanci Bara berlipat-lipat ganda.


"Apa kamu tidak mau makan apapun? Misalnya sepageti, burger atau susi?" Sekarang Bara terdengar menanyakan tentang apa yang mau wanita hamil itu makan.


"Aku tidak lapar, dan aku juga merasa tidak ada gunanya lagi aku ini hidup toh, semua orang sudah menganggapku tidak ada. Karena mereka pikir aku dan Mas Demian benar-benar berada di dalam pesawat yang kecelakaan itu," ucap Tamara lirih. Dan sepertinya wanita itu benar-benar sudah kehilangan semangat lagi untuk hidup.


"Ara, tidak apa-apa semua orang menganggapmu sudah tiada, yang terpenting kamu masih hidup dan bisa leluasa menghirup udara bebas. Tanpa harus bekerja ataupun memikirkan apapun lagi." Dengan enteng dan mudahnya Bara malah mengatakan itu pada Tamara, wanita yang saat ini sudah benar-benar tidak tahu bahwa dirinya harus tetap bertahan hidup untuk apa.


Karena semenjak menyebarnya berita tentang kecelakaan pesawat pribadi yang menewaskan dirinya dan Demian, sejak saat itu juga Tamara merasa bahwa hidupnya sedang berada di tangan Bara. Bagimana tidak Tamara sekarang tidak akan mungkin bisa bebas dari laki-laki gila seperti Bara.


"Kau memang sangat licik!" geram Tamara dengan mata yang mulai berair. "Kau telah menipuku Bara, kau memang sangat jahat dan keterlaluan padaku."


"Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu, Ara," balas Bara menimpali wanita itu.


"Selalu saja itu kalimat pembelaan yang keluar dari mulut busukmu Bara, kebaikanku tentang apa yang kau maksud? Kebaikan tentang diriku ini yang telah di anggap mati oleh semua orang begitukah maksud dari pikiranmu itu?"

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan tahu semuanya Ara, dan aku harap jika kamu sudah tahu kamu tidak akan membenci keluargamu sendiri. Begitu juga dengan kamu yang tidak akan membenci bekas suamimu itu," kata Bara yang entah sampai sekarang rahasia besar apa yang laki-laki itu rahasiakan dari Tamara.


"Teruslah berbicara tentang omong kosong Bara sampai mulutmu berbusa, bahkan sampai mulutmu itu mengeluarkan belatung. Aku tetap tidak akan pernah peduli dan tidak akan pernah percaya pada laki-laki sepertimu." Tamara menunjuk wajah Bara sambil menahan emosinya yang sebentar lagi akan meledak. Karena jika wanita itu marah maka yang kena imbasnya adalah Demian, laki-laki yang terus saja Bara siksa.


Sehinga membuat Tamara harus bisa megontrol emosinya, supaya laki-laki yang sangat ia cintai itu akan baik-baik saja. Tanpa mendapat siksaan lagi dari anak buah Bara yang selalu saja mengawasi Demian dari jarak dekat.


"Ini belum waktu yang tepat untukku menceritakan semuanya Ara, tunggulah sampai waktu itu tepat baru aku akan menceritakan semuanya padamu." Bara terlihat beranjak dari duduknya.


"Aku tidak butuh mendengarkan ceritamu, cerita yang pasti sudah kau kemas rapi dengan sebuah kalimat kebohongan. Bahkan kalimat pendusata karena kau juga laki-laki yang sangat pandai membual," ucap Tamara yang melihat Bara sudah melangkahkan kakinya, yang seperti biasa mau membiarkannya sendiri.


"Ara malam ini ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu, katanya dia sudah sangat merindukan putri yang sangat dia sayangi," kata Bara, dimana laki-laki itu sekarang memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku panggilkan dia dulu, kamu tetaplah diam di sini," tambah Bara sebelum laki-laki itu semakin menjauh dari ruang tamu itu.


"Dasar kau laki-laki s*alan!" gerutu Tamara di dalam benaknya. "Iblis yang benar-benar nyata dan terkutuk, siapa yang dia maksud ingin bertemu denganku? Apa sekarang dia berdusta lagi?" sambung Tamara membatin.


***


"Mama."


Satu kalimat yang baru saja keluar dari bibir tipis milik Tamara. Membuat kita tahu bahwa yang ingin bertemu dengan wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri.


"Tamara, anak Mama." Saking senangnya Tami langsung saja berlari dan memeluk erat tubuh putri yang selama ini sangat ia rindukan itu. "Kamu memanggil Mama, coba ulangi lagi sayang, panggil Mama sekali lagi. Karena Mama ingin mendengarnya lagi."


Kini setitik harapan kembali tumbuh di dalam hati kecil Tamara, karena wanita hamil itu merasa bahwa mungkin saja Tami, sang ibu bisa membantunya untuk bebas dari Bara membuat Tamara tanpa ada rasa ragu memanggil Tami lagi.


"Ma, Mama ... Mama," ucap Tamara memanggil Tami dengan bibir yang bergetar.


Tami malah semakin erat memeluk putrinya, saking bahagianya wanita itu mendengar Tamara yang memanggilnya mama setelah sekian lama ia menunggu bibir putrinya itu memanggilnya lagi dengan sebutan itu.

__ADS_1


"Iya sayang, ini Mama, Ibu kandung kamu yang selalu saja melindungimu dari orang-orang yang berniat jahat padamu." Tami perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya, dan sekarang wanita itu terlihat menghapus lelehan air mata Tamara yang sudah mengalir dengan sangat deras bak air mancur. "Sini cerita sama Mama, apa yang kamu mau ceritakan. Karena Mamamu ini akan siap mendengarkan apa saja yang akan putri Mama ini ceritakan."


"Bawa aku pergi dari sini, Ma. Aku mohon ...," kata Tamara tiba-tiba yang tidak tahu kalau Tami adalah dalang dari semua ini. "Ma, bawa aku pergi." Tamara mengulangi kalimatnya.


"Pergi kemana?" tanya Tami.


"Pokoknya bawa aku pergi jauh dari sini Ma, karena Bara itu laki-laki yang sangat jahat. Dia sampai rela memalsukan kematianku dan Mas Demian, pokoknya Mama harus membantuku pergi jauh dari sini." Tamara terlihat menggoyangkan tangan Tami sambil mengucapkan kata itu-itu saja berualang-ulang kali.


"Ara anak Mama, di sini tempat paling aman buat kamu. Dan kenapa kamu malah mau pergi dari sini?"


Kalimat Tami langsung saja membuat Tamara terdiam karena wanita hamil itu tidak pernah meyangka kalau sang ibu malah mengatakan itu padanya bukannya membantu dirinya yang saat ini benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.


"Aman, buat aku?"


"Tentu saja Sayang, di saat semua orang sedang berlomba-lomba untuk melenyapkan dan menyingkirkanmu. Tapi lihatlah Bara dia satu-satunya orang yang sangat perduli padamu, laki-laki yang tulus menolongmu apa kamu tidak bisa melihat kebaikannya?"


Tamara malah mendadak menjadi pusing dengan kalimat yang di katakan oleh sang ibu, karena di saat dirinya benar-benar membutuhkan bantuan tapi Tami malah mengatakan itu pada dirinya.


"Bara baik? Apa aku tidak salah dengar?" Kening Tamara berkerut saat wanita itu bertanya pada sang ibu.


"Lebih dari kata baik Ara, dia rela melakukan ini semua demi kamu. Iya, hanya demi kamu putri Mama yang sangat Mama sayangi," jawab Tami sambil tersenyum dan menghapus sisa lelahan air mata Tamara. "Ayo duduk lagi supaya Mama bisa menceritakan semuanya padamu, biar menjadi lebih jelas dan kamu akan mengerti maksud kalimat Mama yang tadi." Tami terlihat menuntun putrinya untuk duduk di sofa. "Ayo Ara sayang, duduk dulu 'Nak, biar Mama bisa memceritakan semuanya dengan sedetail mungkin. Suapaya anak Mama ini tidak terus-terusan salah paham." Tami dengan tatapan yang selalu teduah mentap putrinya itu.


"Mama jangan coba-coba meracuni pikiranku, tantang Bara yang Mama anggap sebagai laki-laki baik."


"Dia memang laki-laki baik Ara, dan tidak ada lagi laki-laki seperti Bara yang tulus dalam melakukan apapun itu demi kamu." Tami terdengar terus saja meyakinkan Tamara bahwa Bara itu adalah laki-laki yang benar-benar baik.


"Ada yang tidak beres," gumam Tamara membatin.

__ADS_1


__ADS_2