Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 97


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, dan kini Tamara sudah memutuskan kalau dirinya akan benar-benar menerima Bara menjadi suaminya, karena wanita itu merasa kalau memang benar laki-laki itu sepertinya tidak akan mungkin seperti Demian.


"Apa kamu benar-benar yakin ingin menikah dengan Bara?" Tami yang membantu Tamara sedang mencoba kabaya malah bertanya seperti itu pada putrinya. Hanya untuk sekedar memastikan kalau putrinya itu tidak terpaksa menikah dengan Bara, karena dirinya yang terus-terusan menyuruh putrinya itu untuk menikah dengan laki-laki itu.


"Ma, aku sudah memikirkan ini matang-matang, oleh sebab itu aku berani mengatakan kalau aku ini sudah bersedia menikah dengan Bara, karena mungkin saja seperti kata Mama kalau aku sudah menikah maka Demian tidak akan menggangguku lagi." Tamara tanpa gugup menjawab Tami. "Aku sangat berharap juga, kalau Bara tidak akan mungkin memperlakukanku seperti Demian, di mana laki-laki brengsek itu hanya cinta denganku cuma sesaat saja tidak sampai ke liang lahat," ucap Tamara tersenyum getir jika wanita itu mengingat bagaimana Demian mengkhianatinya.


"Jangan ingat tentang dia, karena tidak seharusnya kamu tetap diam di lingkaran masa lalu, disaat masa depanmu masih sangat cerah belum ternodai juga." Tami akan terus berusaha untuk menyemangati Tamara meskipun wanita itu juga tahu, kalau seseorang tidaklah secepat itu bisa melupakan masa lalu.


Seperti dirinya dimana Tami sampai sekarang tidak bisa melupakan kenangan pahit ketika Herdi direbut oleh sahabatnya sendiri yaitu Kinanti yang ternyata adalah teman baik Tami. Namun, Kinanti malah dengan tega mengkhianati Tami dari belakang tanpa ada rasa bersalah ataupun menyesal.


"Masa lalu biarlah berlalu Ara, karena masa depanmu adalah Bara, laki-laki yang akan meratukan dirimu percaya sama Mama." Tami berani mengatakan itu karena wanita paruh baya itu tahu bagaimana watak serta karakter Bara. Sebab sudah sangat lama sekali Tami memperhatikan Bara.


"Biarkan aku mengenang masa laluku yang pahit Ma, supaya aku bisa mengambil pelajaran dari sana. Dimana aku ini harus memilih dicintai daripada mencintai karena itu dua hal yang sangat berbeda."

__ADS_1


"Kamu salah Sayang, seharusnya sama-sama seimbang. Biar tidak menjadi penyesalan di hari yang akan datang, karena laki-laki tulus tidak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, Mama selalu saja menyuruh kamu untuk memperlakukan Bara dengan baik, karena kamu tidak pernah tahu kalau selama ini laki-laki itu menolak banyak wanita hanya demi kamu seorang, Ara."


Mendengar itu Tamara langsung saja menutup mulutnya, menandakan kalau saat ini wanita itu sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa lagi, karena bagi Tamara sudah sangat cukup dirinya mendengar tentang Bara langsung dari mulut sang ibu.


***


Melihat Tamara yang saat ini sedang duduk sendiri di sebuah bangku yang ada di sebelah taman kecil, tepat di samping villa itu. Membuat Bara bergegas menghampiri wanita itu karena saat ini ada suatu hal yang laki-laki itu tanyakan pada Tamara.


"Apa boleh aku duduk disebelahmu?" tanya Bara ketika laki-laki itu sudah mendekat ke arah Tamara. "Ara, apa boleh aku duduk?" Bara bertanya sekali lagi pada calon istrinya itu.


"Aku cuma takut kalau kamu malah akan merasa risih denganku, Ara. Oleh sebab itu, aku ini harus meminta izin padamu terlebih dahulu, dan satu lagi ini milik almarhum kedua orang tuaku sedangkan aku hanya mengambil apa yang mereka punya sebagai putra mereka yang hanya satu-satunya." Jujur saja Bara terasa sangat lemah ketika ia harus mengingat kembali kejadian naas yang malah menewaskan kedua orang tuanya secara bersamaan di dalam sebuah tragedi kecelakaan. Saat Bara baru saja lulus sekolah menengah pertama, dan sampai sekarang Tamara sama sekali tidak tahu tentang itu semua.


"Almarhum, itu artinya kedua orang tuamu apa sudah tidak ada?" Tamara bertanya dengan perasaan yang tidak menentu, karena pada akhirnya wanita itu tahu kalau Bara adalah anak yang sebatang kara. "Lalu, siapa yang sering kamu suruh datang ke sekolah waktu itu?" Belum pertanyaannya yang satu tadi dijawab, kini Tamara malah melontarkan pertanyaan yang lain pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku harus jawab pertanyaan yang mana dulu?" Bara malah bertanya balik pada Tamara.


"Langsung saja jawab dua-duanya." Tamara dengan raut wajah yang sedih menjawab Bara seperti itu, karena selama ini wanita itu tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang sempat Tamara benci rupanya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. "Jawab dengan jujur, jangan malah dengan kalimat pembual." Tamara hanya mengingatkan Bara.


"Oke, untuk jawaban yang pertama, iya kedua orang tuaku sudah sangat lama sekali mereka meninggal Ara, sejak aku masih duduk disekolah menengah pertama dan untuk kedua orang yang sering aku suruh datang ke sekolah pada saat ada acara-acara penting, mereka adalah pekerja di rumahku Ara." Bara menjawab dengan jujur, laki-laki itu sama sekali sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari calon istrinya itu, karena Bara mulai akan mencoba untuk terbuka dengan wanita itu. "Bagaimana, apa kamu masih mau menikah dengan anak yang sebatang kara sepertiku?"


"Apa hubungannya?" Tamara menatap Bara sehingga mata indahnya dan mata Bara saling bertemu.


"Ya, mungkin saja kamu mau mencari laki-laki yang tidak sebatang kara sepertiku, Ara karena kamu mau keluarga yang lengkap," jawab Bara sambil terlihat merapikan anak rambut wanita itu.


"Jangan bahas itu lagi, maaf karena aku sudah membuatmu sedih." Tamara dengan cepat memutuskan pandangannya dari netra Bara, sebab wanita itu merasa tidak kuat saat menatap mata laki-laki itu terus-terusan. "Kita bahas tentang masalah pernikahan kita saja karena aku rasa itu lebih baik daripada yang lain." Tamara malah terdengar mau mengalihkan pembicaraan karena ia tahu kalau Bara saat ini pasti sangat sedih ketika dirinya malah dengan sangat tidak sopan menanyakan tentang masalah yang tadi.


"Kita bahas ini dulu Ara, supaya kamu tahu kalau kedua orang tuaku sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan itu artinya kamu tidak akan memiliki ibu serta ayah mert–"

__ADS_1


"Cukup Bara, kita bahas tentang acara pernikahan kita," potong Tamara dengan cepat. "Tapi, kira-kira kita akan mulai membahasnya dari apa?"


"Bahas yang kamu mau saja Ara, karena aku pasti akan siap menjawabmu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan cemas yang terlalu berlebihan, karena itu tidak baik untukmu." Bara mengatakan itu karena laki-laki itu benar-benar peduli pada Tamara.


__ADS_2