Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Reunian ll


__ADS_3

Tamara, Rere, dan si kembar terlihat mengobrol sambil tertawa lepas. Sehingga detik berikutnya Bara terlihat berjalan menghampiri keempat wanita itu.


"Hai girl, bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian?" tanya Bara yang tatapan mata laki-laki itu terus saja hanya mengarah pada Tamara.


"Duduk saja Bara, karena ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu," kata Rere sambil menarik satu kursi di sebelahnya. Supaya Bara duduk di dekatnya. "Ayolah duduk, karena aku sudah merasa sangat penasaran," lanjut Rere yang pada saat itu langsung saja memberikan isyarat pada si kembar supaya pergi dulu dari sana, dan membiarkan Rere, hanya bersama Tamara dan Bara.


Delina dan Delisa, yang mengerti arti tatapan Rere dengan cepat si kembar itu terlihat langsung saja berdiri.


"Sorry, kita kataknya harus ke sana deh," kata Delina sambil memegang tangan adiknya Delisa. "Kalian lanjutkan saja ngobrol-ngobrolnya, karena kita mau ke regu ketua kelas kita dulu." Delina lalu terlihat berjalan. Dan rupanya ia mengerti maksud isyarat yang tadi Rere berikan.


"Iya, kami harus kesana dulu, nanti kita kesini lagi." Delisa juga ikut mengatakan itu. "Dadah, Ara, Re. Kalian ngobrol saja. Bersama tuan rumah."


"Eh, sini saja kumpul-kumpul," ucap Tamara yang merasa lebih suka beramai-ramai daripada hanya bertiga bersama Rere dan Bara seperti ini. Sebab Tamara merasa ada yang akan dibahas oleh Rere. Dan tentu saja itu tidak jauh-jauh dari pembahasannya yang tadi sebelum si kembar itu datang.


"Sudahlah Ara, biarkan saja kedua ibu hamil itu pergi."


"Tapi, Re, aku lebih suka yang tadi kumpul-kumpul, karena aku jadi mengingat masa-masa kita sekolah dulu," kata Tamara.


"Kalau Bara yang dulu suka sama kamu, apa kamu masih ingat itu semua?" Entah mengapa tiba-tiba saja Rere malah menanyakan itu semua. Sehingga membuat Tamara menyerngitkan dahi.

__ADS_1


"Re, apa yang kamu katakan?" Bara yang merasa tidak enak dengan Tamara langsung saja bertanya seperti itu pada Rere. Karena Bara takut Tamara akan menjahuhinya. Setelah tahu tentang dirinya yang sangat mencintai wanita itu.


Rere menatap Tamara dan Bara secara bergantian. "Apa sekarang kamu masih mencintai, Ara? Sehingga kamu mengaku kalau kamu ini sudah menikah dengan Ara?"


Bara langsung saja merasa aura di sekitarnya saat ini menjadi berubah, gara-gara Rere yang bertanya seperti itu padanya.


"Katakan Bara, apa kamu masih mencintai, Ara?" Rere rupanya terus saja bertanya seperti itu sebelum Bara mau menjawab pertanyaannya itu.


"Re, apa maksud kamu? Mungkin saja Bara hanya bercanda. Kamu kayak nggak kenal siapa Bara saja." Tamara mengatakan itu karena ia juga tidak mau berburuk sangka dan yang akan berujung malah menjadi kesalahpahaman.


"Aku hanya ingin membahas ini, serta menanyakan semua ini pada Bara, Ara. Supaya aku bisa menyuruh laki-laki bujang lapuk ini menikah. Karena aku takut nanti sabun di dalam kamar mandinya akan menjadi sasarannya." Rere yang terkenal ceplas-ceplos malah mengatakan itu semua tanpa ada rasa tidak enak hati pada Bara. "Jangan sampai kamu mencintai istri orang Bar, karena nanti yang sakit itu kamu sendiri. Sebab cintamu itu bertepuk sebelah tangan."


"Mau kemana?" tanya Rere.


"Aku harus melihat ada berapa teman-teman kita yang sudah datang. Biar kita semua bisa memulai acaranya kalau semua sudah kumpul," jawab Bara berbohong padahal laki-laki itu hanya ingin menjauh dari Rere, wanita yang akan bisa saja membongkar apa yang selama ini telah ia simpan rapi-rapi.


Sedangkan Tamara hanya bisa diam dan menyimak setiap kalimat apa saja yang dikatakan oleh Rere dan Bara. Karena jujur saja wanita itu tidak paham dengan apa saja yang dari tadi Rere katakan. Sehingga membuat Tamara berpikiran kalau semua itu hanya kalimat candaan saja. Karena ia tahu Rere dan Bara sangat suka sekali bercanda. Membuat Tamara tidak berpikiran yang bukan-bukan untuk saat ini. Mengingat dirinya sudah menikah dan pasti Bara juga sudah memiliki calon istri. Serta Tamara berpikir jika ini adalah benar-benar kalimat candaan Rere.


***

__ADS_1


Di kediaman Demian, setelah Axel menekan tombol off pada kilometer yang ada di luar. Terlihat laki-laki itu sekarang malah berjalan ke arah kamar Liana. Sambil bersiul-siul karena sekarang ia merasa tidak perlu takut karena lampu di rumah itu mati, menandakan kalau cctvnya otomatis tidak berfungsi.


"Liana, ayo kita pergi makan malam!" seru Axel di tengah-tengah kegelapan rumah Demain. "Liana, ayolah kau keluar saja. Karena aku ada di lu–" Kalimat laki-laki itu terputus karena sekarang Liana, wanita yang tengah hamil itu terlihat menyenter mata Axel menggunakan senter ponselnya. "Kau ini memang selalu saja mengagetkanku, dan hampir saja jantungku lepas dari tempatnya," kata Axel.


"Kau yang tidak ada kerjaan Axel, karena kenapa kau malah mematikan sekral listriknya? Apa kau mengira aku tidak tahu?" Liana menatap Axel sinis. "Sana nyalakan lagi, karena aku tidak suka tempat gelap."


"Kenapa tidak kau saja yang menjalankannya, Liana?"


"Kau yang berbuat maka kau yang harus bertanggung jawab. Dasar b*engsek!" Liana terlihat mendorong dada Axel. "Kau begini pasti ada udang di balik batu!" desis Liana.


"Mari kita kerja sama," kata Axel tiba-tiba.


Liana tidak mau menyahut dan sekarang ia terlihat malah melangkahkan kakinya. Sebab ia tidak mau melayani Axel dalam mode seperti saat ini. Karena bisa-bisa mood wanita hamil itu akan menjadi berantakan.


"Ini tentang, Demian dan Ara!" seru Axel. Dan detik itu juga Liana menghentikan langkah kakinya. "Aku akan membantumu untuk mendapatkan Demian, dan sebagai timpal baliknya. Kau harus membantuku juga untuk mendapatkan Ara."


Liana berbalik dan menatap Axel. "Apa maksudmu ini, ba ji ng an?"


"Tanpa aku jelaskan, kau pasti jauh lebih dari paham apa yang aku maksud ini," jawab Axel.

__ADS_1


"Apa kau jatuh cinta pada, Ara?" pertanyaan Liana hanya mendapat anggukan dari Axel. "Kau sudah tidak waras, Axel, karena bisa-bisanya mencintai wanita yang umurnya saja sudah 26 tahun, dan sekarang kau baru 21 tahun. Apa inikah cinta yang tidak memandang umur?


__ADS_2