
"Aku pikir kau tulus menolongku dalam hal apapun itu, ternyata aku salah besar rupanya kau malah memiliki nait lain di balik sikap baikmu itu padaku. Cuih! Kau laki-laki ba ji ngan yang malah membuat istri adik sepupu kau sendiri hamil. Dimana otak cerdas yang kau miliki, Bara!" Saking marahnya Demian malah tidak menghiraukan lengannya yang sedang terluka dan mengeluarkan banyak sekali darah.
"Sekarang mau kamu apa?" tanya Bara sambil mengelap sedikit sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, bekas bogem mentah yang diberikan oleh Demian tadi.
"Aku akan menyeretmu ke kantor polisi Bara, dan jangan harap kali ini kau bisa bebas!" geram Demian yang menatap Bara dengan mata yang hampir saja keluar dari tempatnya, serta urat-urat pada lengan laki-laki itu mulai terlihat menonjol dengan sangat jelas.
"Laporkan saja Demian, karena kamu tidak memiliki bukti sama sekali. Dan ingat jika kamu melakukan itu maka kamu hanya akan mempermalukan diri kamu sendiri," ucap Bara menimpali sambil beberapa kali melirik pintu yang telah di kunci oleh Demian dan hanya menyisakan mereka berdua.
Sebab Demian tadi sudah menyeret Tamara secara kasar keluar dari dalam kamar itu, supaya Tamara tidak melihat apa yang akan Demian lakukan pada Bara.
"Jika kau kebal dengan hukum, maka aku akan melenyapkanmu malam ini juga Bara, karena kau harus membayar apa yang telah kau lakukan pada wanitaku!" teriak Demian yang sekarang terlihat berlari ke arah Bara. "Rasakan ini, kau laki-laki brengsek!" Demian akan melayangkan tinjuan lagi pada wajah Bara.
Namun, Bara secepat kilat malah menghindar. Membuat Demian semakin meradang karena laki-laki itu tidak mampu berikan Bara bogem mentah.
"Apa cuma seperti itu kemampuan seorang, Demian?" Bara bertanya sambil tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah saat ini ia sedang mengejek Demian. "Ayo sini maju lagi," kata Bara yang terlihat menggulung lengan kemeja yang laki-laki itu kenakan saat ini.
"Akan aku bu nuh kau, Bara! Dan tidak akan memberikanmu ampun." Demian baru saja akan mengambil ancang-ancang untuk memu kul Bara. Tiba-tiba saja pandangan laki-laki itu malah menjadi buram membuatnya malah terhuyung ke depan. Dan hampir saja Demian mau terjatuh jika saja laki-laki itu tidak cepat menyeimbangkan tubuhnya.
"S*ht! Pisau terkutukmu telah kau olesai dengan apa bedebah?!" Demian mengumpat, karena laki-laki itu baru menyadari kalau penglihatannya menjadi kabur setelah pisau Bara menggores lengannya.
"Aku tidak menaruh apa-apa, Demian cuma saja sedikit racun yang akan membuatmu lumpuh secara permanen, jika saja kamu tidak meminum ramuan penawarnya dengan cepat," jawab Bara sambil bersiul-siul kecil. Sambil memainkan pisau yang telah laki-laki itu olesi racun. "Aku bisa membunuhmu tanpa harus mengotori tanganku dengan darahmu," sambung Bara sambil menatap Demian yang saat ini laki-laki itu terlihat belahan jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ka-kau sa-sangat licik, Ba-Bara," kata Demian terbata-bata. Karena laki-laki itu merasa kalau mulutnya saat ini sangat sulit sekali untuk digerakkan. Hanya untuk mengeluarkan suaranya saja.
"Ceraikan Ara, dan aku akan langsung memberikanmu obat penawar itu bagaimana? Apa kau setuju dengan tawaranku ini?"
Demian yang di tanya saat ini malah merangkak, bergerak dengan sangat lambat menuju ke arah pintu karena laki-laki itu mau meminta bantuan.
"Bagaimana Demian, apa kamu setuju? Berikan Ara padaku maka kamu akan bisa seperti semua la–"
Brak!!
Pintu kamar itu terbuka sehingga membuat kalimat Bara menggantung di udara, karena rupanya Tamara memiliki kunci cadangan sehingga wanita hamil itu bisa membuka pintu itu.
Dan detik berikutnya Tamara malah terlihat berjongkok dan menjerit, gara-gara wanita itu melihat keadaan sang suami yang saat ini sedang merangkak.
Namun, sekuat apapun Tamara berusaha ia sama sekali tidak berhasil. Karena badan Demian sangat berat dan tidak mungkin ia akan bisa mengangkat tubuh sang suami sendiri. "Kau apakan suamiku, Bara? Kau apakan Mas Demian?!"
Bara mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menjawab, "Lihatlah Ara, aku sama sekali tidak melakukan apapun pada suamimu. Justru dia yang telah memu kulku sampai begini." Sungguh saat ini laki-laki itu bukan Bara. Melainkan iblis yang sudah lama terbelenggu dan terkurang di dalam jiwa Bara. "Dan kamu bisa lihat sendiri, kalau wajah suamimu masih terlihat biasa saja. Tanpa ada bekas tanganku jadi kamu bisa menyimpulkannya, Ara."
"Kau pembohong! Tadi Mas Demian baik-baik saja. Tapi sekarang? Mas Demian malah menjadi begini. Kau sangat keterlaluan Bara!" teriak Tamara sebelum wanita itu tidak sadarkan diri karena diam-diam Hero malah membius Tamara dari belakang. Dan tentu saja itu semua sudah Bara rencakankan.
***
__ADS_1
"Bagaimana apa kamu sudah mengurus semuanya?"
"Sudah Tuan, Anda tenang saja. Karena semua akan berjalan sesuai dengan apa yang telah Anda rencanakan jauh-jauh hari," jawab Hero.
"Kerja bagus, sekarang apa Ara sudah sadar?" tanya Bara yang saat ini posisi laki-laki itu sedang duduk sambil meng hisap sebatang rokok.
"Belum Tuan, tapi kalau Tuan Demian sepertinya dia sudah sadar. Dan reaksi racun itu benar-benar telah bekerja dengan sangat baik." Hero menjawab dengan menuangkan minuman beralkohol, pada gelas kosong yang saat ini berada di depan tuanya itu.
"Aku tidak mau minum lagi Her, karena sepertinya aku harus menemui Ara." Bara terlihat berdiri dan segera melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan itu untuk menuju ke ruangan tempat Tamara saat ini berada.
*
Tamara memu kul perutnya beberapa kali, karena wanita itu berharap dengan cara begitu ia akan keguguran.
"Gara-gara bayi harammu ini, kau malah berubah menjadi iblis Bara. Dimana Bara, laki-laki baik yang pernah aku kenal? Dimana dia?"
"Ini semua gara-gara kamu sendiri Ara, jika saja kamu mau mendengarkanku maka aku tidak akan melakukan semua ini," balas Bara sambil mengikat tangan wanita itu supaya tidak terus-terusan memu mul perut yang berisi janin itu. "Jika kamu mau Demian selamat, maka tanda tangani surat perceraian ini. Karena hanya dengan cara begini laki-laki mandul itu akan aku bebaskan."
"Cuih ...!" Tamara malah meludah ke sembarang arah. "Itu semua tidak akan pernah aku lakukan Bara!"
"Baiklah, itu artinya kamu memilih laki-laki itu lumpuh seumur hidupnya," kata Bara.
__ADS_1
"Kau memang iblis Bara, kau iblis yang menyerupai manusia!" Tamara memberontak sambil mencoba melepaskan ikatan di tangannya. "Lepaskan aku, brengsek! Dasar kau pecundang!"