Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Fakta yang Mengejutkan


__ADS_3

Tepat satu minggu akhirnya Demian pulang juga dari luar kota. Namun, laki-laki itu tidak memberitahu Tamara, karena laki-laki itu ingin memberikan kejutan pada sang istri.


"Apa tadi Ara curiga saat kamu bilang mau pergi ke luar sebentar?" tanya Demian pada Axel, karena ternyata saat ini ia di jemput oleh sopir pribadi Tamara.


"Tidak Tuan, karena di pagi ini kegiatan Nyonya Ara sedang menanam bunga di taman kecil sebelah rumah. Oleh sebab itu, Nyonya Ara tidak sempat bertanya pada saya," jawab Axel.


"Apa dia tidak pergi ke toko?"


Axel menggeleng. "Kata Nyonya Ara hari ini dia libur dulu untuk pergi ke toko Tuan, karena mungkin saja karena capek. Sebab lima hari berturut-turut ini Nyonya Ara selalu pulang malam." Axel menjelaskan pada Demian.


Demian mengangguk-gangguk tanda laki-laki itu paham kenapa sang istri tidak pergi ke toko. Karena satu minggu berada di luar kota Demian hanya menghubungi Tamara bisa dibilang dengan hitungan jari saja saking sibuknya laki-laki itu.


"Oh ya, Axel apa kamu betah bekerja sebagai sopir istri saya?"


"Tentu saja saya sangat betah Tuan, karena menurut saya ini adalah pekerjaan paling ringan. Hanya mengantar jemput Nyonya Ara serta menjaganya." Nampak jelas raut bahagia terpancar jelas dari wajah Axel, saat laki-laki se ba ji ng an itu menjawab pertanyaan Demian. "Jujur saja Tuan, saya sangat menikmati pekerjaan saya ini," ucap Axel bersungguh-sungguh.


"Baguslah, kalau kamu betah Axel. Karena memang itu yang saya mau," kata Demian bersugguh-sungguh.

__ADS_1


Dan tanpa laki-laki itu tahu Axel dan Liana sudah merencanakan sesuatu di belakangnya, di saat nanti Demian sampai ke rumahnya.


"Maaf sebelumnya Tuan, kenapa Anda, saya lihat dari tadi cemberut saja, bukankah seharusnya Anda harus senang, karena akan bertemu dengan Nyonya Ara?" tanya Axel yang rupanya dari tadi memperhatikan mimik wajah Demian.


"Saya hanya ngantuk, Axel. Jadi, kamu lebih percepat saja laju mobil ini. Biar kita cepat sampai di rumah," jawab Demian.


"Apa Anda yakin Tuan, bahwa saat ini tidak ada yang Anda sembunyikan?"


"Tidak ada Axel, sekarang kamu lebih baik fokus saja menyetir." Meski sebenarnya ada yang di sembunyikan oleh Demian. Tapi tidak mungkin laki-laki itu akan berani menceritakan semuanya pada Axel.


"Baiklah, kalau Anda tidak mau bercerita pada saya."


***


Setiba di rumah, dan saat Demian bergegas masuk ke kamar Tamara. Ia bukannya menemukan sang istri. Melainkan laki-laki itu malah menemukan Liana yang saat ini sedang berbaring di kamar Tamara.


"Mas Demian," panggil Liana yang malah ikut-ikutan ingin memanggil Demian dengan sebutan mas.

__ADS_1


"Ada apa kau disini, dan dimana Ara, istriku?" tanya Demian tanpa mau berbasa basi pada wanita hamil itu.


"Aku juga istri Mas, kenapa Mas tidak mencariku juga?" Liana terlihat bangun dan langsung saja berdiri. Wanita hamil itu sekarang malah mendekati Demian. "Aku istri Mas, yang saat ini sedang mengandung darah dag–"


Demian menutup pintu kamar itu dengan keras dan sangat kasar, sehingga kalimat Liana menggantung di udara. Lalu sekarang laki-laki itu terlihat semakin mendekat ke arah Liana. "Tutup mulutmu, Liana. Karena aku sudah tahu semuanya kalau itu bukan darah dagingku!" bentak Demian.


Liana yang mendengar itu langsung saja kaget, dapat di lihat dari ekspresi wajah wanita hamil itu untuk saat ini. Namun, Liana dengan cepat merubah mimik wajahnya langsung supaya Demian tidak curiga padanya.


"Apa yang Mas katakan, bayi yang ada di dalam perutku ini adalah darah daging Mas, tapi kenapa Mas malah meragukannya lagi? bukankah Mas sudah tahu kalau cuma Mas yang sudah melakukan itu semua pada diriku. Sehingga aku ternoda sebelum menikah."


Demian menarik sedikit sudut bibirnya. Sehingga terciptalah senyum yang laki-laki itu buat-buat. "Kau tahu, aku ini mandul!" Suara Demian menggelegar di kamar Tamara. "Aku ulangi sekali lagi dan buka telingamu lebar-lebar Liana, bahwa aku ini mandul!"


Spontan saja Liana mundur beberapa langkah. "Tidak mungkin, Mas Demian tidak mungkin mandul." Liana menolak kenyataan kalau Demian adalah laki-laki yang mandul, dan itu artinya Demian tidak bisa memiliki keturunan. "Katakan Mas, kalau ini adalah sebuah lelucon! Ayo katakan!"


Tawa Demian langsung saja pecah seribu, dengan mata laki-laki itu yang terlihat mulai memerah. "Kau pikir aku pergi ke luar kota itu benar-benar untuk bekerja, kau salah Liana. Karena nyatanya aku malah pergi ke luar Negeri bukan ke luar kota, hanya untuk memeriksa kesehatanku ini. Sebelum aku menyentuh Ara. Tapi apa yang aku dapat ini malah membuatku menjadi shock berat dimana aku ini adalah laki-laki mandul!"


"Tidak mungkin …." Liana tidak percaya dengan apa yang saat ini wanita hamil itu dengar.

__ADS_1


"Kau katakan saja Liana, bahwa anak siapa yang ada di dalam rahimmu saat ini. Jangan malah terus-terusan menipuku seperti ini!" Demian rupanya benar-benar pergi ke luar Negeri bukan ke luar kota. "Jawab aku Liana! bayi ha ram siapa yang kau kandung?!"


Liana menggeleng kuat. Karena wanita hamil itu tidak akan pernah mau jujur sampai kapanpun itu.


__ADS_2