
"Sudah mendingan, dan nggak merasa pusing lagi 'kan?" Demian mengulangi pertanyaannya untuk yang kesekian kalinya. Di saat laki-laki itu saat ini mau mengantar Tamara ke toko.
"Mas, aku sudah mendingan. Dan dua hari ini belakangan ini aku rasa sudah sangat cukup untukku mengistirahatkan tubuh ini. Jadi, sekarang Mas bisa lihat sendiri kalau aku ini kembali segar bugar seperti sedia kala. Tidak ada drama lagi istrimu ini pusing," jawab Tamara sambil terkekeh.
Demian mengelus rambut Tamara, sambil beberapa kali mencuri pandang pada sang istri, dimana saat ini laki-laki itu posisinya sedang menyetir.
"Sayang, Mas hanya sekedar memastikan saja. Jika kamu masih merasa pusing tidak apa-apa. Kita bisa kembali ke rumah saja." Demian benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Tamara. Sebab ia tidak mau sesuatu hal yang buruk terjadi pada wanitanya itu.
Tamara yang tadi hanya menatap lurus ke depan, menoleh ke samping hanya demi melihat Demian.
"Mas, aku baik-baik saja dan nanti jika aku merasa pusing lagi pasti aku akan menghubungi Mas Demian, untuk menjemputku. Lebih baik Mas percepat saja laju mobilnya jangan malah kayak siput begini. Karena jika begini terus kapan kita akan sampai di toko?"
"Sayang, Mas sengaja pelan-pelan biar kamu tidak pusing. Sekarang kamu diam saja bila perlu tidur dulu, nanti kalau kita sampai Mas akan membangunkanmu."
Tamara hanya bisa tersenyum manis saat mendengar itu semua, karena ia tahu bagaimana Demian akan memperlakukannya. "Iya sudah terserah Mas saja," timpal Tamara yang kini mulai mengambil gawainya di dalam tasnya. Karena wanita itu ingin menghubungi Susi hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan toko saat ini. Apakah pengunjungnya ramai atau malah sepi.
Namun, beberapa kali Tamara mengirimi Susi pesan bahkan meneleponnya, wanita yang menjadi karyawannya itu tidak kunjung membalas ataupun mengangkat panggilan teleponnya. Membuat Tamara merasa kalau mungkin saja karyawannya itu saat ini sedang sibuk. Sehingga wanita hamil itu memutuskan untuk kembali memasukkan benda pipihnya ke dalam tas.
***
Pada saat Bara akan meninggalkan toko itu tiba-tiba saja Susi memanggilnya.
"Tuan, Mbak Ara sedang dalam perjalanan menuju ke sini, tidakkah Anda mau menunggunya?" Ternyata setelah membaca isi pesan singkat Tamara, Susi langsung saja memberitahu Bara karena Susi pikir kalau laki-laki itu memang ada urusan yang sangat penting dengan Tamara. Membuatnya tidak ragu-ragu untuk mengatakan tentang Tamara yang sedang ada di perjalanan.
__ADS_1
"Kau tidak sedang berbohong 'kan, Susi?" tanya Bara hanya untuk sekedar memastikan. Karena laki-laki itu juga hari ini ada rapat di kantor membuatnya harus pandai-pandai mengatur waktu jangan sampai waktunya yang sangat berharga ini akan terbuang dengan sia-sia. Mengingat kalau sang asisten juga pasti belum bisa kembali ke kantor gara-gara dirinya yang menyuruh Hero mencari asam jawa.
"Mana mungkin saya berani membohongi Anda, Tuan," jawab Susi. "Dan jika Anda benar-benar ada urusan yang mendesak Tuan bisa menunggu Mbak Ara, yang pasti sebentar lagi akan datang," sambung Susi.
Bara terdiam sejenak karena sebenarnya laki-laki itu hari ini ingin bertemu dengan Tamara hanya ingin mengatakan yang sebenarnya, dimana dirinyalah laki-laki lancang dan pengecut itu yang malah bersembunyi di balik layar setelah berhasil menanam kecebong di dalam rahim Tamara.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggunya. Karena aku ini ada urusan yang sangat penting dengan Ara."
"Kalau begitu Anda bisa menunggunya di ruang kerjanya saja Tuan, karena saya sangat percaya dan yakin bahwa Anda bukan orang jahat," celetuk Susi sambil tertawab kecil. Sebab ia sangat suka sekali bercanda dengan Bara.
"Disini saja Susi, nanti kalau Ara sudah datang baru aku akan masuk ke ruangan itu bersamanya," timbal Bara yang kini kembali lagi melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang ada di dekat pintu masuk ke toko itu. Rupanya laki-laki itu benar-benar akan menunggu sampai Tamara datang.
Susi hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan laki-laki yang berparas tampan itu. Dan kini karyawan itu terlihat kembali ke meja kasirnya mengingat kalau hari ini toko itu cukup ramai.
***
"Jika tidak ada yang akan kamu sampaikan, lebih baik kamu kembali saja ke kantormu, Bara," kata Tamara sambil menggetuk-getuk mejanya menggunakan polpoinnya. Karena ia merasa sudah cukup Bara membuang waktunya hanya untuk melihat laki-laki yang hanya diam membisu seribu bahasa itu. "Bara, aku harus mencatat barang apa saja yang tidak ada toko ini. Tapi, gara-gara kamu aku malah menjadi tidak fokus."
Bara masih tidak bergeming laki-laki itu justru terlihat memberikan Tamara flashdisk.
"Apa ini? Dan buat apa?" Kening Tamara berkerut saat wanita itu bertanya seperti itu pada Bara.
Hening.
__ADS_1
Tidak ada suara apapun lagi sesaat setelah flashdisk itu berada di tangan Tamara. Bara juga sama sekali tidak menjawab pertanyaan wanita yang tengah hamil itu.
"Bara, jika begini terus kau benar-benar hanya ingin mengganggu jam kerjaku saja. Sekarang aku mohon dengan sangat pergi saja dari sini, dan nanti kau datang lagi ketika aku tidak sibuk seperti saat ini," ucap Tamara yang lagi-lagi terdengar menyuruh Bara pergi.
"Di dalam flashdisk itu akan ada jawaban, siapa laki-laki yang sudah membuatmu hamil, Ara."
Kalimat Bara langsung saja membuat Tamara yang dari tadi memegang flashdisk itu menatap Bara dengan penuh tanda tanya di dalam otak wanita itu.
"Apa kau tidak bercanda Bara?"
"Pasang dan langsung tonton saja Ara, biar kamu tahu siapa laki-laki itu." Bara menunduk setelah mengatakan itu tanpa mau menjawab pertanyaan Tamara.
Tamara yang benar-benar penasaran langsung saja memasang fashdick itu pada komputernya dengan sangat terburu-buru saking penasarannya dengan laki-laki itu.
"Dari mana kamu mendapatkan ini, Bara?" tanya Tamara sambil mengotak atik keyboard pada layar komputernya.
Bara menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Tamara. Dan kini terlihat laki-laki itu mulai mengangkat sedikit wajahnya, setelah lama menunduk dari tadi.
"Cara, aku mendapatkan ini dari diriku sendiri karena laki-laki yang telah menodaimu sampai bisa hamil itu aku, Ara." Bara akhirnya mengakui semuanya di depan Tamara. "Iya, Ara, akulah laki-laki itu," sambung Bara mengulangi kalimatnya.
Sedangkan Tamara yang belum paham tentang semua ini hanya bisa menggeleng.
"Tidak mungkin, kau pasti sedang berbohong Bara!"
__ADS_1
...****************...