
"Mas!" teriak Tamara karena saat ini wanita itu sangat kaget ketika melihat Demian menampar pipi Liana. Sehingga pipi wanita yang perutnya sudah buncit itu berwarna merah. "Apa yang Mas Demian lakukan pada, Liana?" Tamara lalu dengan cepat mendekati Laina. Dengan perasaan yang tidak menentu.
"Sudahlah Ara, jangan mendekati wanita ular seperti Liana. Karena niatnya masuk ke dalam rumah tangga kita hanya ingin menghancurkan kita." Demian terlihat memegang pergelangan tangan Tamara.
Namun, wanita itu malah menepisnya dengan sangat kasar. Membuat Demian semakin melotot ke arah Liana, karena laki-laki itu merasa Tamara menepis tangannya hanya gara-gara Liana.
"Sayang, kita sarapan di luar saja. Biarkan wanita ini sendirian di sini, karena mau sampai kapanpun dia tidak akan pernah berubah. Dimana dia akan selalu menggunakan segala cara untuk membuat hubungan kita menjadi renggang," ucap Demian berusaha untuk menenangkan Tamara. Karena laki-laki itu tahu kalau sang istri pasti marah padanya gara-gara telah menampar Liana, yang juga nyata-nyata adalah istri kedua Demian yang sudah sah secara agama dan Negara.
"Mas sangat keterlaluan, sudah berani main tangan." Tamara menatap sang suami dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Karena selama ini yang ia tahu bahwa Demian bukanlah laki-laki kasar yang suka main tangan.
Tapi lihatlah sekarang Demian malah bisa
__ADS_1
hilang kendali, membuat Tamara benar-benar merasa sangat kecewa. Sebab laki-laki yang ia kenal lemah lembut kini berubah dalam sekejap mata. Hanya karena kalimat Liana yang kurang berkenan di hati laki-laki itu.
"Laki-laki sejati tidak akan pernah main tangan pada wanitanya, bagimanapun kesalahan wanita itu. Karena wanita adalah manusia yang di ciptakan untuk di sayangi bukan malah di sakiti. Tapi apa? Mas Demian malah tega menampar wanita yang jelas-jelas sedang menganggung darah daging Mas sendiri." Tamara menunjuk perut Liana. Karena jujur saja ia sebagai wanita ikut merasakan sakit seperti apa yang di alami oleh Liana saat ini. "Sungguh aku merasa sangat keceawa padamu Mas Demian, karena Mas sudah tidak memiliki hati nurani," sambung Tamara yang tidak suka jika Demian seperti itu.
Meski sejujurnya Tamara memiliki sedikit rasa benci pada Liana. Namun, melihat madunya itu di perlakukan begitu oleh Demian. Membuat wanita itu merasa kasihan karena ia tiba-tiba saja merasakan bagimana rasanya jika dirinya yang berdiri di posisi Liana.
"Jangan bela dia, Sayang. Karena wanita seperti dirinya tidak pantas mendapat pembelaan darimu. Dan Mas rasa dia pantas mendapat tamparan yang tadi, karena mulutnya sangat lancang sekali." Demian tidak merasa bersalah sama sekali. Meskipun laki-laki itu tadi menampar Liana dengan sangat keras.
"Hentikan Mas! Jangan ucapkan apa-apa lagi. Karena kak Ara harus tahu semua ini. Kak Ara juga sangat-sangat berhak tahu biar dia tidak berharap lebih padamu. Tentang Mas yang tidak akan pernah mungkin memberikannya seorang anak. Karena Mas Demian mandul!" Akhirnya setelah lama terdiam Liana membuka suara. Sebab wanita itu ingin melihat bagimana reaksi serta tanggapan Tamara setelah tahu Demian mandul. "Aku ulangi sekali lagi kak Ara. Bahwa Mas Demian, atau suami kita berdua ini mandul," sambung Liana yang tersenyum penuh kepuasan. Meskipun, ia tahu kalau ini juga akan berimbas kepadanya.
Namun, Liana sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu. Yang terpenting bagi wanita hamil itu adalah, ia akan bisa melihat Tamara merasa hancur, sebab yang ia tahu selama ini memiliki anak dan menjadi seorang ibu adalah impian Tamara sejak jauh-jauh hari.
__ADS_1
"Apa benar Mas Demian mandul?" Bibir Tamara bergetar bersamaan dengan itu air mata wanita yang saat ini sedang hamil itu tidak bisa ia tahan lagi. "Mas jawab aku!" Tiba-tiba saja rasa bersalah dan takut kini kian bersarang di dalam lubuk hati Tamara.
Mengingat bahwa dirinya sedang mengandung bayi yang entah wanita itu tidak tahu ayahnya siapa. Dan sekarang kabar Demian yang mandul malah membuat tubuh wanita itu terasa lemas saking shock dan kagetnya.
Hingga pada detik berikutnya pandangan Tamara menjadi buram, tungkai kakinya juga terasa seperti tidak memiliki tenaga sama sekali hanya untuk menopang tubuhnya sendiri, dan setelah itu sayup-sayup Tamara mendengar Demian memanggil namanya karena tubuh wanita itu terasa melayang serta pandangannya mulai menjadi gelap gulita.
"Ara!" seru Demian saat melihat sang istri pingsan. Laki-laki itu juga terlihat bagitu sangat panik.
...****************...
Jangan lupa mampir😊
__ADS_1