
Setelah mengetahui sifat asli ibu tiri serta mantan suaminya Tamara kini lagi-lagi terlihat menerobos hujan yang mungkin saja sebentar lagi akan reda.
"Hidupku kenapa jadi begini Tuhan? Apa salah dan dosaku?"
"Apa dengan cara begini Engkau menghukumku?"
"Tapi kenapa, harus dengan cara seperti ini?"
"Tidak adalah cara lain?"
"Kenapa ... kenapa malah menjadi begini?"
Tamara terus saja berbicara di dalam benaknya sambil memaksakan kakinya untuk menyelusuri jalan raya yang sangat ini sedang ramai mobil yang berlalu lalang saat ini.
Wanita itu juga sama sekali tidak peduli meskipun orang-orang menatap dirinya yang seperti orang tidak waras, karena bajunya yang masih basah kuyup serta rambutnya yang acak-acakan ditambah mata yang sembab langkap dengan lingkaran hitam. Menandakan kalau saat ini Tamara benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Kini wanita itu tidak tahu kemana ia harus pergi melangkahkan kakinya, karena Tamara merasa bahwa dirinya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Sehingga membuat wanita itu tiba-tiba saja memilih untuk mengakhiri hidupnya.
"Sepertinya dunia ini sudah tidak menginginkan manusia sepertiku untuk hidup." Lirih Tamara tersenyum getir. "Semua orang terdekatku membenciku, karena mereka semua sudah mendapatkan apa yang mereka mau, sehingga mereka memperlakukanku seperti ini, sungguh aku adalah manusia yang paling menyedihkan di muka bumi ini." Lagi-lagi Tamara terlihat tersenyum getir pada saat ia mengingat kalimat menyakitkan yang terlontar dari mulut Kinanti, sang ibu tiri yang selama ini adalah iblis berwujud manusia.
"Mungkin jika aku pergi dari dunia ini maka aku tidak akan merasakan sakit lagi seperti ini." Tamara semakin membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri, karena wanita itu pikir dengan cara seperti itu maka dirinya akan bisa tenang di alam kedua. "Aku benar-benar tidak sanggup lagi bertahan ditengah-tengah manusia munafik," kata Tamara yang sekarang melihat sebuah jampatan yang sepertinya hanya satu dua orang yang berlalu lalang disana.
"Sepertinya di sana adalah tempat yang tepat, karena aku lihat disana sepi dan itu artinya aku ini tidak akan merepotkan orang lain." Wanita yang sangat-sangat sedang putus asa itu, saat ini terlihat mulai menyebrang karena ia ingin menuju jembatan yang Tamara lihat. "Aku benar-benar tidak sanggup lagi, maafkan aku, Pa, jika putrimu ini akan melakukan hal yang bo doh karena hanya ini yang bisa aku lakukan." Tamara terlihat berlari kecil dengan air mata yang lagi-lagi menetes membasahi bola mata indah wanita itu.
__ADS_1
***
Disisi lain, Bara yang meliahat Tamara mulai naik keatas pembatas jambatan itu mulai merasa panik.
"Her, sepertinya kita harus menyelamatkan Ara." Kini Bara terlihat mulai turun dari dalam mobil saat laki-laki itu sudah mengatakan itu. "Her, ayo! Kamu jangan diam saja."
"Tuan, begini saja kita kesana menggunakan mobil karena jika Anda berjalan bahkan berali, saya jamin Anda tidak akan bisa menyelamatkan Nyonya Ara. Sebab dia sudah keburu loncat dari pembatas jembatan itu." Meski Hero agak sedikit takut mengatakan itu semua. Namun, teman sekaligus tangan kanan Bara itu tetap melontarkan apa yang saat ini sedang ada di dalam benaknya. "Tuan, jangan diam saka nanti Nyonya Ara keburu lom–"
"Cepat!" seru Bara yang malah kembali masuk saat laki-laki itu mulai memahami maksud Hero. "Jalan, Her! Jangan malah diam."
"Tutup dulu pintu mobilnya Tuan, jangan sampai niat kita yang akan menolong Nyonya Ara. Nanti malah kita yang jadi ditolong oleh orang-orang," kata Hero sambil menunjuk pintu mobil yang belum Bara tutup.
"Aku lupa," ucap Bara yang kemudian menutup pintu mobil itu dengan keras.
***
"Ara, jangan lakukan ini. Tolong jangan aku mohon ...." Bara sekuat tenaga menahan Tamara yang memberontak.
"Lepaskan aku! Jangan halangi aku untuk mengakiri hidupku, lepas!" Tamara membentak Bara karena wanita itu tidak mau jika Bara menghalanginya saat ini. "Lepaskan! Aku sudah tidak berhak hidup!"
"Siapa bilang? Kamu berhak untuk hidup kamu juga berhak untuk bahagia." Bara berusaha untuk tetap berbicara lembut pada Tamara. "Ayolah Ara, jangan kekanak-kakanan seperti ini. Kali ini saja dengarkan aku." Bara sangat berharap jika wanita itu mau mendegarkan apa yang ia katakan.
Sedangkan Tamara terdiam sejenak, karena wanita itu mulai mengenali suara Bara meskipun saat ini dirinya lupa dengan nama laki-laki itu.
__ADS_1
"Kau adalah laki-laki yang menyelamatkan aku benerapa jam yang lalu 'kan?" tanya Tamara yang sekarang terlihat mulai berhenti memberontak.
Bara diam karena laki-laki itu muali menyadari kalau ada yang tidak beres dengan Tamara.
"Hei, kau orang yang sama 'kan?"
"Aku ... Aku, Bara apa kamu lupa denganku?" Saat Bara menyebut namanya sendiri. Tiba-tiba saja tubuh Tamara langsung saja lemas. Sehingga membuat Bara langsung saja menangkap tubuh kurus wanita itu, yang mungkin saja tenaga wanita itu sudah terkuras habis. "Astaga Ara, ada apa dengan dirimu sebenarnya?" Bara tanpa pikir panjang berinisiatip membawa Tamara untuk pergi ke rumah Tami, karena laki-laki itu merasa kalau pasti Tamara akan aman jika berada disana.
***
Pasrah itu yang Tamara lakuan saat ini ketika ia melihat Bara menggendong tubuh lemasnya menuju sebuah vila yang berada di puncak. Wanita itu sama sekali tidak membuka suara sebab ia pikir kalau Bara adalah orang suruhan Kinanti untuk melenyapkan dirinya, karena Tamara juga benar-benar tidak bisa mengingat Bara untuk saat ini hanya gara-gara penyakit pikunnya mulai kambuh lagi.
"Ara ini aku, aku ... Bara teman sekolahmu waktu itu, apa kamu masih tidak mengingatku?"
Tamara menggeleng lemah dengan pandangan yang mulai buram karena dipelupuk mata wanita itu air matanya sudah kembali menggenang.
"Mereka benar-benar sangat keterlaluan, obat apa yang sudah mereka berikan padamu sehingga kamu malah menjadi begini, Ara?" Bara semakin ingin menghancurkan orang-orang yang gila harta itu dengan kedua tangannya sendiri.
"Siapa kau sebenarnya?" Setelah lama terdiam pada akhirnya Tamara terdengar bertanya pada Bara.
Bara menatap Tamara sambil berusaha menahan amarahnya, karena laki-laki itu tidak menyangka kalau Kinanti akan sejahat itu.
"Kau siapa?" tanya Tamara sekali lagi.
__ADS_1
"Aku Bara, namaku Bara. Mulai sekarang aku yang akan melindungimu dari orang-orang yang sangat jahat itu. Maka dari itu kamu jangan takut dan jangan pernah putus asa. Tetap semangat untuk menjalani hidup karena didepan sana kebahagiaan sedang menantimu."
"Bara, sepertinya namamu tidak asing," ucap Tamara sebelum ingatakan wanita itu tentang Bara muncul lagi.