Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Menyimpan Rahasia Berdua


__ADS_3

Demian dengan marah melempar kertas hasil kesehatannya yang menyatakan kalau laki-laki itu benar-benar mandul.


"Baca Liana!" seru Demian penuh emosi. Karena laki-laki itu saat ini sangat kecewa pada dirinya sendiri yang mandul. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.


Liana segera memungut kertas itu dan langsung saja membacanya. "Apa Mas yakin kalau ini punya Mas?" tanya Liana takut-takut.


Demian diam saja tidak mau menjawab, dan laki-laki itu sekarang terlihat malah mengacak rambutnya sendiri dengan sangat kasar.


"Mas jawab aku."


"Diam Liana! Tidak mungkin hasil pada kertas itu salah. Karena aku pergi ke luar Negeri mencari rumah sakit paling terkenal. Namun, hasilnya malah begini ...." Demian saat ini sedang diselimuti rasa takut karena ia takut jika Tamara akan meminta cerai jika dirinya tidak mampu memberikan wanita itu keturunan. "Ah, si al! Kenapa ini semua harus terjadi padaku?!"


"Tenang Mas, jangan begini. Kita bisa cari jalan kelu–"


Demian malah memegang dagu Liana sebelum kalimat wanita itu selesai. "Jalan keluar seperti apa yang kau maksud Liana? Kau juga sudah menipuku sekarang kau malah ingin mencarikan aku jalan keluar. Sungguh aku tidak akan pernah percaya dengan wanita ular sepertimu!" Demian lalu dengan kasar melepaskan dagu Liana dari cengkramannya. "Sekarang yang aku minta, kau beritahu keluargaku dan keluargamu bahwa yang menghamilimu bukan aku. Supaya aku bisa lepas dari wanita sepertimu, Liana!"


Bukannya merasa takut ataupun terancam Liana malah terlihat tersenyum licik. Karena sekarang wanita hamil itu sudah tahu kartu as Demian.

__ADS_1


"Apa Mas tidak takut, jika aku memberitahu semua orang maka kak Ara juga pasti akan tahu, kalau Mas Demian ini mandul? Apa Mas tidak takut kalau kak Ara akan meminta cerai? Karena yang aku tahu kak Ara selama ini ingin sekali memiliki anak." Liana tersenyum puas karena sekarang dirinya sudah tahu semuanya.


"Kurang ajar! Jadi, sekarang kau mulai mengancamku, Liana?" Sorot mata Demian yang selalu teduh kini berubah menjadi sangat tajam dan hampir saja keluar dari tempatnya.


Liana berdakap tangan sambil menjawab, "Aku tidak mengancam Mas, tapi alangkah baiknya kita mulai bekerja sama saja. Biar kita sama-sama saling menguntungkan bagaimana? Apa Mas setuju?" Otak licik Liana langsung saja bekerja dengan sangat baik. "Mas cukup merahasiakan kalau bayi yang kukandung ini bukan darah daging Mas, dan tentu saja aku akan merahasiakan kalau Mas ini mandul. Dengan begitu rahasia kita benar-benar akan aman. kak Ara juga pasti tidak akan meminta cerai." Liana benar-benar mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini. "Satu lagi, aku minta sama Mas, kalau Mas ini harus berlaku adil padaku dan kak Ara. Jika ingin tetap rahasia ini aman terkendali."


Demian terdiam sejenak karena laki-laki itu sedang mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh wanita hamil itu.


"Baiklah, kalau Mas tidak setuju maka aku akan berterus terang pada semua orang dan mengatakan bahwa anak ini bukan darah daging Mas. Dengan begitu aku bisa pergi dari rumah ini. Tapi pernahkah Mas berpikir kalau kak Ara ingin tetap bertahan hidup dengan laki-laki yang mandul? Pasti kak Ara tidak mau aku yakin akan hal itu. Karena setiap wanita jika sudah menikah pasti sangat ingin mendapat gelar menjadi seorang ibu, dan kata ibu itu harus diucapkan oleh anak-anak mereka."


"Pilihan ada pada tangan Mas, aku tidak memaksa," ucap Liana yang sangat pandai membuat Demian dilema dalam memilih pilihan yang tepat. "Kebetulan juga kak Ara tidak pergi ke toko. Jadi, aku bisa memberitahunya sekarang, kalau anak ini bukan anak Mas dan juga Mas ...." Liana sengaja menjeda kalimatnya.


"Oke, aku setuju," kata Demian tiba-tiba. "Aku setuju." Demian mengulangi kalimatnya lagi.


Seulas senyum tipis terbit dari bibir Liana. "Apa Mas yakin?"


Demian mendesis, "Aku yakin Liana, dan usakahan tutup telingamu mulai sekarang. Serta jangan pernah bocorkan rahasia kita ini."

__ADS_1


Liana mengurukan tangannya. "Mari kita berjabat tangan, sebagai tanda deal Mas," ujar Liana, yang tertawa puas di dalam hatinya untuk saat ini. "Bukan apa-apa, tapi sekedar sebagai bukti saja kalau Mas sudah setuju."


Meski dengan berat hati Demian malah menuruti apa yang dikatakan oleh Liana. Dengan cara menjabat tangan wanita itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Mas juga tidak perlu tahu ataupun mencari tahu tentang anak ini anak siapa. Karena jika itu terjadi maka rahasia Mas akan aku bongkar."


"Sudah aku katakan, tutup mulutmu rapat-rapat Liana. Jika kau tidak mau melihat sifat asliku!" geram Demian yang kemudian keluar dari kamar Tamara. Karena laki-laki itu takut kalau sampai Tamara menemukannya berdua di kamar wanita itu saat ini.


"Biar aku yang keluar Mas, lagipula ini kamar kak Ara," ucap Liana membuat langkah kaki Demian terhenti. "Diamlah di sini, biar kak Ara masuk bisa melihat Mas ada di kamarnya ini," lanjut Liana.


"Tidak perlu, karena aku lebih baik menyusul Ara ke taman belakang," timpal Demian yang terlihat benar-benar pergi dari sana.


"Ish, padahal ini kamar Ara, tapi dia malah pergi begitu saja," batin Liana.


Detik berikutnya Liana malah berlari mengejar Demian. "Mas, tunggu aku!" seru wanita hamil itu. "Mas Demian, tunggu aku!"


Namun, sayang sekali Demian malah semakin melebarkan langkah kakinya daripada harus menunggu Liana.

__ADS_1


__ADS_2