
"Ini semua gara-gara kamu!" Demian menunjuk wajah Liana, sesaat setelah laki-laki itu membawa Tamara masuk ke dalam kamar. "Jika bukan karena kamu, Ara tidak akan pingsan," gerutu Demian yang kali ini tidak bisa menyembunyikan wajah masamnya pada istri keduanya itu.
"Mas, kak Ara harus tahu biar dia tidak berharap lebih padamu," timpal Liana dengan nada bicara yang begitu angkuh. Sebab wanita hamil itu merasa kalau Tamara pasti akan meminta cerai pada Demian setelah tahu tentang semua ini.
"Diam Liana! Apa kau pikir hanya aku yang akan mendapat masalah dan kau tidak?" Demian mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Kau salah besar Liana, karena kau juga pasti akan terkena imbasnya, dan semua orang juga akan tahu kalau bayi haram itu bukanlah darah dagingku! Apa kau tidak memikirkan akan hal itu?"
"Tidak, karena aku merasa kalau sudah cukup Mas Demian memperlakukan aku seperti ini. Dan untuk bayi ini tidak masalah jika semua orang tahu kalau ini bukan darah dagingmu, Mas. Yang terpenting bagiku kak Ara tahu tentang Mas yang mandul. Ya, kemungkinan besar dia pasti akan langsung meminta cerai. Mas Demian bersiap-siap saja ketika kak Ara sadar nanti." Mulut Liana begitu lemas saat ia mengatakan itu semua pada Demian. "Sekarang yang perlu kita tunggu, kak Ara membuka mata dan menunggu bagaimana reaksinya maupun tanggapannya tentang semua ini."
Senyum mengejek terbit di bibir Liana membuat Demian ingin sekali mence kik wanita itu saat ini juga.
"Kau memang sangat kurang ajar Liana! Sekarang kemasi barang-babarangmu dan angkat kaki dari rumah ini. Karena aku sudah memutuskan akan segera menceraikanmu. Dan jangan pernah berharap kalau aku ini akan berbelaskasihan padamu!"
"Oh, setelah Mas Demian puas mencicipi tubuhku ini sekarang Mas Demian mau menceraikan aku? Sungguh Mas adalah laki-laki munafik yang aku temui pertama kali di dalam sejarah hidupku ini," ucap Liana sambil bertepuk tangan beberapa kali.
"Mas lupa waktu itu Mas seakan-akan menatapku layaknya seekor kucing yang kelaparan. Dan setelah aku sungguhkan daging yang begitu lezat dan emput sekarang Mas dengan entangnya malah mengatakan itu semua padaku. Dimana letak terima kasihmu Mas pada diri ini yang hanya Mas anggap sebagai wanita pemuas nafasumu?" Liana memang pandai membuat drama. Lihatlah sekarang mimik wajah wanita itu terlihat begitu sendu seolah-olah ia tengah bersedih.
"Hentikan omong kosongmu, Liana sebelum aku memanggil kedua orang tuamu dan menceritakan semua ini. Tentang kau yang menjebakku dan juga tentang bayi harammu ini!" Suara Demian terdengar menggema di rumah itu. Membuat tidak ada satu orang pun yang berani mendekat ke arah laki-laki itu. Selain Liana yang terlihat seperti sedang menantang Demian. "Enyahlah dari hadapanku, sebelum aku sendiri yang menyeretmu, Liana!" Saking kesal dan marahnya Demian pada Liana, paki-laki itu sampai lupa bahwa saat ini Tamara masih saja belum membuka mata
"Bersiap-siap saja Mas, kalau sebentar lagi kak Ara bangun dan akan langsung meminta cerai padamu. Aku yakin akan hal itu yang akan terjadi," kata Liana tapa ada rasa takut sedikitpun meski mata Demian terlihat memerah. "Siap-siap saja Mas, karena cuma aku wanita bodoh yang mau menerima laki-laki mandul seperti Mas Demian ini, tapi Mas malah tidak bersyukur akan hal itu," sambung wanita hamil itu, yang kemudian berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Demian yang merasa semakin kesal dibuatnya.
"Kau benar-benar wanita yang tidak tahu diri, Liana. Bisa-bisanya kau malah mengatakan itu semua padaku!" seru Demian saat melihat punggung Liana semakin jauh dari pandangan matanya.
***
__ADS_1
"Apa-apaan kau, Liana. Kenapa kau malah gegabah melakukan ini semua?" Axel yang mendengar percakapan Liana dengan Demian tadi langsung saja menghampiri wanita itu ke dalam kamar. "Kau benar-benar tidak memiliki otak Liana. Selalu saja melontarkan kalimat-kalimat yang belum tentu menguntungkan bagi kita berdua." Axel menatap Liana dengan intes. "Kau berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu, dan pasti saat ini Demian akan benar-benar mengusirmu dari rumah ini. Serta Demian juga akan menceraikanmu."
"Kau tidak usah memikirkan aku Axel, karena yang harus kau lakukan adalah memikirkan bagimana kau bisa mendapatkan hati Ara. Sebab aku yakin kalau Ara lah yang terlebih dahulu akan meminta cerai pada Demian. Dan seharusnya kau berterima kasih lah padaku."
Axel mencengkram pergelangan tangan Liana sambil berkata, "Kau jangan terlalu berharap Liana, karena Ara tidak akan pernah mau meminta cerai sebab wanita pujaan hatiku itu sangat mencintai Demian, laki-laki mandul itu."
"Tahu dari mana kau, Axel tentang itu semua?"
"Aku tahu apa yang tidak kau tahu Liana! Termasuk Ara yang saat ini sedang ha–"
Suara ketukan pintu dari luar membuat kalimat Axel terputus, karena rupanya sopir pribadi Tamara itu sudah tahu kalau Tamara saat ini tengah hamil. Sebab waktu itu Axel tidak sengaja melihat vitamin ibu hamil serta penambah darah yang jatuh dari dalam tas Tamara. Bukan cuma itu saja Axel juga sempat mendatangi rumah sakit tempat Tamara di bawa oleh Bara waktu itu. Karena Susi rupanya menceritakan semua pada Axel kalau Tamara sempat pingsan di toko.
"Sedang apa?" tanya Liana yang kini malah menjadi penasaran.
"Nanti aku ceritakan sekarang kau buka saja pintu itu, dan aku akan bersembunyi di kamar mandi dulu. Karena itu sepertinya suara Tante Kinanti." Axel bergegas ingin masuk ke kamar mandi. Dan melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan wanita hamil itu.
"Katakan saja dulu, Axel. Jangan malah membuatku penasraan seperti ini."
"Nanti saja Liana, sekarang buka saja pintu itu sebelum Tante Kinanti berpikir kalau kau sedang kenapa-kenapa di dalam sini. Karena tak kunjung membuka pintu. Sekarang sana buka pintunya terlebih dahulu."
"Kau memang selalu saja membuatku kesal karena membuat diri ini penasaran. Dasar brengsek kau, Axel!" Liana menghentakkan kakinya beberapa kali. Saat melihat Axel sudah masuk ke dalam kamar mandinya.
Beberapa menit sesaat setelah pintu kamar Liana terbuka, wanita itu begitu kaget karena ia melihat sang ibu sudah bercucuran air mata di ambang pintu.
__ADS_1
"Ibu, kenapa Ibu malah mena–"
Plakkk!
Plak ...!
Dua tamparan keras di pipi mulus kiri dan kanan Liana membuat kalimat wanita hamil itu terputus.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini Liana? Kenapa kamu sangat tega sekali membohongi dua belah pihak? Kenapa Liana? Padahal selama ini Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbohong, tapi kenapa kamu malah pandai sekali berdusta?" Kinanti merasa bahawa dirinya tidak mampu dalam hal mendidik putrinya sendiri. Karena Liana yang sangat pandai membohongi semua orang termasuk dirinya yang sebagai ibu kandungnya.
"Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang Ibu tanyakan saat ini padaku, karena aku juga merasa tidak pernah berbohong." Meski Liana sudah tahu maksud sang ibu. Namun, wanita hamil itu akan berusaha untuk mengelak karena bagi Liana bahwa tidak seharusnya Kinanti tahu tentang semua ini.
"Hentikan basa basimu Liana, dan sekarang ikut Ibu serta jelaskan semunya nanti ketika kedua orang tua Demian datang. Supaya semuanya menjadi lebih jelas lagi. Tentang bayi siapa yang kamu kandung ini," ucap Kinanti yang merasa sangat malu dengan apa yang telah Liana lakukan. Dimana wanita itu mengaku-ngaku bahwa bayi yang dikandung adalah anak Demian.
Namun, fakta mengatakan bahwa itu sama sekali bukan kebenaran yang sesungguhnya. Membuat Kinanti sangat merasa malu dengan kelakukan putrinya sendiri.
"Ini bayi Mas Demian, Bu, jangan malah membuat suasana di rumah ini semakin keruh!" Liana malah terdengar berkata ketus pada Kinanti. "Sana, Ibu saja duluan karena masih ada suatu yang harus aku kerjakan di dalam kamarku."
"Tidak bisa Liana, kamu harus ikut dengan Ibu. Karena pasti kedua orang tua Demian sudah datang," timpal Kinanti.
"Tidak, Ibu saja yang menjelaskan semuanya pada mereka. Bahwa bayi ini adalah darah daging Mas Demian, tidak peduli mau mereka percaya atau tidak yang terpenting ini anak Mas Demian." Liana rupanya masih saja bersihkukuh dengan pendiriannya yang tidak mau jujur.
......................
__ADS_1
Sambil menunggu kuy, mampir dulu😊