
Setiba di alamat yang tadi anak buahnya berikan, Demian terlihat langsung saja turun dari dalam mobilnya, dan bersamaan dengan itu Demian begitu kaget karena disana laki-laki itu melihat kalau Tamara sedang berduan dengan Bara di sebuah butik yang paling terkenal di kota itu.
"Bara, laki-laki itu masih hidup," gumam Demian pelan. Detik berikutnya laki-laki itu malah terlihat bergegas untuk segera masuk lagi ke dalam mobilnya karena tidak mungkin ia akan menampakkan batang hidungnya di depan Tamara dan Bara secara terang-terangan bisa-bisa dirinya malah akan kehilangan jejak wanita yang ia sakiti itu. "Rupanya dia masih hidup, ternyata peluru waktu itu tidak benar-benar mengeni ulu hatinya," sambung Demian yang kembali lagi mengingat waktu dirinya menembak Bara berulang kali pada waktu itu. Namun, rupanya Bara tidak tewas karena tembakan Demian pada saat itu meleset.
"Inilah salah satu alasan selama ini aku tidak bisa menemukan Ara, ternyata dan ternyata laki-laki s*alan itu yang menyembunyikannya dariku. Akhh, s*alan kau Bara akan aku buat perhitungan denganmu." Demian semakin kesal saat melihat Bara sedang memperbaiki anak rambut Tamara. "Awas kau Bara, akan aku buat kau membayar semua ini, tidak akan aku biarkan kau merebut Ara dariku. Dasar laki-laki ba ji ngan selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan." Demian juga terdengar beberapa kali mengumpat karena kesal melihat pemandangan yang saat ini sedang laki-laki itu lihat.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku tidak tahan melihat semua ini." Demian yang tidak bisa menahan dirinya malah terlihat keluar lagi, karena rasanya saat ini laki-laki itu ingin sekali meng ha jar Bara. Sehingga membuat Demian tidak memikirkan apapun selain dirinya biar bisa bertemu dengan Tamara sekaligus ia akan memberikan pelajaran pada laki-laki yang sudah membuat suasana hatinya malah menjadi berantakan seperti ini. "Akan aku buktikan Bara bahwa aku ini bukan laki-laki lemah seperti yang kau pikirkan." Demian dengan langkah lebarnya mendekati Bara dan Tamara dengan suasana hati yang semakin buruk.
Namun, saat jarak laki-laki itu semakin dekat dengan dua manusia yang saat ini sedang berdiri di depan butik sebuah suara yang Demian sangat kenal membuat langkah kaki laki-laki itu malah berhenti seketika.
"Jangan usik lagi kebahagiaan Ara, sudah sangat cukup kamu membuatnya sakit selama ini," kata Renata yang ternyata wanita itu yang dari tadi mengikuti putranya sendiri. "Kembali saja pada wanita yang telah merubahmu menjadi jahat seperti ini Demian. Dan jangan pernah berharap Ara akan memaafkanmu setelah apa yang telah kamu lakukan padanya." Renata terlihat tenang saat ia mengatakan itu semua. Namun, siapa yang tahu kalau saat ini wanita paruh baya itu merasa hatinya sangat sakit. Ketika Renata mengetahui kalau Demian putra semata wayangnya malah lebih memilih Kinanti dan Liana ketimbang dirinya.
"Mama, bukankah Mama ada di rumah sakit jiwa?" Demian terheran-heran karena laki-laki itu sendiri yang telah memasukkan ibunya sendiri ke dalam rumah sakit jiwa. Tantu saja itu semua atas perintah Kinanti sebab setelah kepergian Aploso wanita paruh baya itu malah ingin membongkar kejahatan Demian serta Kinanti di muka umum, menyebabkan Demian yang merasa kalau saja Renata akan mengahancurkan semuanya. Sehingga membuatnya malah setuju untuk memasukkan ibu kandungnya sendiri ke rumah sakit jiwa dengan mengatakan pada semua orang kalau Renata menjadi tidak waras setelah sang ayah pergi jauh dari muka bumi ini.
"Seharusnya kamu yang ada di rumah sakit jiwa Demian karena kamu malah membuang berlian hanya demi pecahan kaca yang kamu anggap seperti permata, sungguh kamu adalah laki-laki terbodoh yang Mama temui." Renata terus saja berbicara pada Demian, supaya putranya itu sadar dengan apa yang selama ini telah dilakukan itu sangat salah besar.
__ADS_1
"Pergi Ma, jangan membuat aku malah akan kembali memasukkan Mama ke dalam rumah sakit jiwa." Bukannya senang melihat sang ibu, Demian malah terdengar mengancam Renata, wanita paruh baya yang saat ini hidup sendiri setelah putranya sendiri malah mengangapnya seperti musuh.
Sedangkan Tamara yang melihat serta mendengar itu semua malah menjatuhan paper bag yanh wanita itu pegang, karena ia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan bertemu lagi dengan Demian.
"Bawa aku pergi Bara, bawa aku secepatnya pergi dari sini," kata Tamara sambil menarik lengan Bara yang juga dari tadi melihat Demian dan Renata sedang berbicara empat mata. "Bara, bawa aku pergi." Tamara terus saja mengulangi kalimatnya berulang-ulang kali.
"Iya, ayo kita pergi." Bara sempat mengambil papar bag yang tadi Tamara jatuhkan. Sebelum laki-laki itu benar-benar mengajak Tamara pergi dari butik itu.
***
"Ini yang sangat aku takutkan Ma, bertemu dengan laki-laki itu, dan saat ini mungkin saja dia sudah tahu keberadaan kita. Sekarang ayo kita pergi dari villa ini Ma, aku takut dia malah akan kembali menyakiti keluarga kita lagi." Raut wajah Tamara sangat panik saat ini. "Ma, jangan diam saja ayo kita pergi dari sini." Tamara terus saja mengajak Tami untuk segera pergi dari villa itu.
"Sayang, tenangkan diri kamu dulu. Tidak mungkin dia akan menemukan tempat ini percaya pada Mama." Tami mengelus lembut punggung Tamara. "Disini ada Bara, Hero, papa Burhan dan masih banyak lagi. Jadi, kamu tidak usah takut dengan manusia seperti Demian."
"Mama, kita pokoknya harus pergi karena aku yakin Demian akan membawa anak buahnya kesini." Wajah Tamara terlihat semakin panik yang menyebabkan telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
Tami sempat terdiam karena wanita itu saat ini sedang memikirkan cara supaya putrinya tidak panik terlalu berlebihan. Sebab itu semua bisa membahayakan Tamara sendiri mengingat putrinya itu belum sepenuhnya sembuh total.
"Terima lamaran Bara, maka Mama yakin laki-laki seperti Demian tidak akan mengganggumu lagi. Bagimana apa kamu setuju, Ara?"
Tamara menatap Tami sambil bertanya balik. "Apa yang Mama katakan?"
"Mama cuma ingin kamu bahagia Ara tidak lebih, karena Mama sangat yakin bahwa Bara adalah jodoh kedua dan terakhirmu. Bara juga laki-laki baik tidak akan pernah mungkin menyakitimu seperti mantan suamimu itu." Tami sangat berharap kali ini Tamara mau menerima Bara.
"Apa tidak ada pilihan lain?"
"Tidak ada Sayang, karena Demian merasa kamu masih belum bisa move on darinya oleh karena itu, dia pasti akan mengejar-ngejarmu terus jika kamu belum menikah," jawab Tami.
Tamara tidak bergeming wanita itu malah diam saja. Namun, di balik diamnya itu ada banyak sekali yang sedang wanita itu pikirkan saat ini..
"Bagimana ini, apa aku harus menerima laki-laki itu menjadi suamiku?" Tamara bertanya pada dirinya sendiri di dalam benaknya, karena wanita itu masih sangat meragukan Bara sampai detik ini.
__ADS_1