
Sore menjelang Demian pun pulang hanya untuk sekedar berpamitan pada sang istri. Karena di sore yang cuacanya kurang mendung ini laki-laki itu akan pergi ke luar kota.
"Sayang, kamu baik-baik di rumah ya, jangan suka memikirkan hal yang bisa membuat jiwa seta ragamu lelah," ucap Demian yang terlihat langsung saja mencium kening Tamara yang merasa sedih karena Demian akan pergi untuk sementara waktu. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi Mas. Karena pasti Mas akan langsung pulang." Demian memang sangat tulus mencintai Tamara. Dapat dilihat dari sorot mata laki-laki itu yang menatap sang istri dengan sorot mata yang begitu teduh. "Aku pergi dulu, dan jangan lupa pesanku kalau kamu jangan sampai kecapekan. Karena Mas tidak ada di rumah yang akan memijat tubuh lelah dan capekmu, Sayang."
Tamata tersenyum, sambil mengangguk. "Iya Mas, aku akan mengingat kalimat-kalimat Mas, sekarang Mas pamitan gih sama Liana juga," kata Tamara sambil melirik ke arah Liana yang saat ini berdiri dengan jarak tiga meter darinya dan Demian.
"Tidak usah, Liana sudah melihat Mas, itu artinya dia sudah tahu kalau Mas ini harus pergi ke luar kota," timpal Demian tanpa melihat ke arah wanita hamil itu. "Jangan lupa, kamu jaga dia juga supaya dia tidak keluyuran," sambung Demian.
"Mas, hanya untuk pamitan saja tidak le–"
"Aku berangkat dulu, Sayang," potong Demian yang lagi-lagi terlihat mencium kening Tamara. "Baik-baik di rumah." Setelah mengatakan itu Demian langsung saja pergi begitu saja. Dan laki-laki itu benar-benar tidak mau berpamitan pada istri keduanya itu.
"Awas kau Demian, secepatnya aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku, pokoknya akan aku pastikan itu semua. Kau juga akan menyesal karena terus-terusan mengabaikanku seperti ini," geram Liana membatin. Karena wanita itu tidak terima kalau Demian benar-benar tidak bisa memperlakukannya dengan adil seperti ini. "Kau akan menyesal Demian, akan ... akan menyesal!" lanjut Liana membatin dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
"Liana," panggil Tamara saat wanita itu sekarang sudah terlihat berdiri di depan Liana. "Liana, aku ada urusan sebentar di luar, jadi tidak apa-apa 'kan, kalau kamu sendirian di rumah?"
Liana merespon dengan anggukan kecil. Karena hatinya sedang dongkol.
__ADS_1
"Untuk Mas Demian, tolong kamu maafkan dia, karena untuk saat ini dia belum bisa menerimamu," kata Tamara yang tahu kalau Liana pasti merasa sangat kecewa pada Demian. Karena wanita hamil itu terus-terusan Demian abaikan.
Liana sekilas menatap Tamara, sebelum wanita itu pergi begitu saja sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sebab Liana merasa Demian abai itu karena Tamara.
"Dasar singa berbulu domba, di depan baik padahal di belakang, seolah-olah dia mau menyingkirkan aku dari rumah ini! Benar-benar menggunakan topeng seribu!" geram Liana sambil terus saja berjalan menjauh dari kakak tirinya itu. "Apa dia pikir, aku akan mudah tertipu dengan sikap sok baik dan polosnya. Dasar wanita gatal, aku tidak akan tertipu!" sambung Liana dengan bibir yang terus saja komat-kamit seperti mbah dukun yang sedang baca mantra.
Sedangkan Tamara hanya bisa menghela nafas sambil berkata, "Aku memang membencimu Liana, tapi apa daya, hati serta ragaku ini berkhianat. Karena apa? Hatiku membencimu tapi raga ini tidak bisa melakukan itu semua. Mengingat ibu Kinanti yang dulu sangat tulus dalam merawat serta membesarkanku."
"Nyonya, apa kita jadi pergi?" Axel yang dari tadi sudah menunggu Tamara di mobil. Memutuskan untuk menyusul wanita itu ke dalam karena tidak kunjung keluar. Mengingat Demian sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu. "Nyonya bagaimana, apa kita jadi pergi?"
Tamara menoleh ke belakang. "Iya Axel, kita jadi pergi. Tapi sebelum itu saya ganti baju dulu," timpal Tamara yang kemudian berjalan menuju tangga. "Kamu boleh menunggu saya di dalam mobil Axel, karena saya cuma mau ganti baju saja."
***
"Stop Axel, disini saja," kata Tamara meminta Axel untuk menghentikan laju mobil itu secara mendadak. "Nanti kamu jemput saya lagi, karena mungkin saja saya pulang agak malaman dikit, karena mengingat ini adalah acara reunian perdana saya dengan teman-teman saya." Tamara memberitahu itu supaya Axel tidak salah paham, mengingat laki-laki itu juga pasti disuruh menjadi mata-mata oleh Demian. Karena kebetulan tadi wanita itu lupa memberitahu sang suami, kalau di sore yang mendung ini Tamara ada reunian dengan teman-teman SMA-nya dulu.
"Baik Nyonya," timpal Axel yang dengan cepat turun dari mobil karena laki-laki itu ingin membukakan pintu untuk wanita yang belakangan ini selalu saja membuat darahnya berdesir halus serta detak jantungnya yang berdetak semakin kencang.
__ADS_1
"Saya juga minta tolong, kamu ajak Liana untuk keluar makan malam karena tadi Bi Maryam, meminta izin untuk cuti selama satu minggu. Itu artinya tidak ada makanan di rumah, sebab saya juga tahu Liana tidak bisa memasak. Jadi, setelah ini kamu ajak dia, Axel ke kedai makan terdekat."
Axel mengangguk tanda mengerti, dan sekarang Axel semakin merasa kalau Tamara wanita yang sangat tulus dalam segala hal. Sehingga makan malam Liana saja, Tamara sempat memperhatikan itu semua.
"Ini Axel, uang untuk Liana makan malam di luar." Tamara memberikan Axel sepuluh lembar uang berwarna merah muda. "Usahakan kamu nanti jangan banyak tanya sama dia, karena kamu tahu sendiri Liana orangnya seperti apa."
"Iya Nyonya, akan saya ingat kalimat Anda, sekarang silahkan turun," ucap Axel yang sudah membuka pintu untuk Tamara.
"Terima kasih Axel, dan kamu kalau mau boleh ikut makan kok bersama Liana, uang itu pasti sangat cukup."
"Tentu saja saya ikut Nyonya, karena kebetulan dari siang tadi saya tidak berselera makan. Karena saya maunya makan yang asam-asam dan kecut," kata Axel tiba-tiba.
Sehingga membuat kening Tamara berkerut karena heran. "Apa kamu sudah menikah, Axel?" tanya Tamara.
"Belum, memangnya ada apa Nyonya?"
"Saya pikir kamu sudah menikah, karena kamu laki-laki yang mau memakan makanan yang asam-asam. Dan setahu saya laki-laki yang mau itu, adalah istrinya yang sedang hamil muda tapi yang ngidam suaminya." Tamara memang belum berpengalam akan hal itu. Namun, wanita itu bisa tahu tentang ini semua karena salah satu karyawannya yang dulu sedang hamil. Pernah menceritakan itu pada Tamara. Sehingga membuat pikiran wanita itu langsung mengarah ke sana.
__ADS_1
"A-Anda bisa saja Nyonya." Axel terbata-bata. Karena laki-laki itu merasa sangat gugup sekarang.